Delusion

Delusion
Prolog


__ADS_3

Seorang gadis kecil meringkuk di atas tempat tidurnya. Matanya terlihat bengkak dengan bekas air mata yang masih terlihat jelas di pipi tembamnya. Gadis kecil itu menatap sebuah foto usang yang menampilkan seorang wanita cantik tengah tersenyum lebar. Melihat senyum itu membuat hati gadis kecil  itu tercubit. Hatinya teriris saat mengetahui kebenarannya, bahwa gadis itu tidak akan pernah melihat senyuman itu lagi.


Tok tok tok


“Sayang, buka pintunya,” ucap seorang pria dengan nada lembut.


Gadis kecil itu tetap menatap foto di genggamannya. Dia menghiraukan suara itu, seolah suara itu tak pernah ada.


“Apa kamu tidak ingin mengantarkan ibumu ke tempat peristirahatan terakhirnya?” tanya pria itu dengan sendu.


Gadis itu terdiam. Apa dia tidak ingin mengantarkan ibunya? Jika dia tidak pergi apa ibunya akan marah? Apa dia akan jadi anak durhaka? Gadis itu menatap sejenak foto di genggamannya. Dia meletakkan foto itu di atas nakas dan berjalan menuju jendela.


“Sayang, kamu tidak ingin pergi?”


“Tidak." Gadis itu menyahut dengan suara serak. Terdengar helaan napas dibalik pintu kamarnya.

__ADS_1


“Baiklah, ayah akan kembali setelah pemakaman ibumu selesai.” Terdengar langkah kaki menjauh dari kamarnya. Ayahnya sudah pergi.


Gadis itu menatap hutan yang berbatasan dengan halaman rumahnya. Dan halaman itu mengarah langsung ke kamarnya. Dia jadi bisa melihat pepohonan yang lebat. Dengan udara segar ini, gadis kecil itu tersenyum tipis.


“Hei, kenapa kau ada di sini?” tanya seorang anak lelaki berpakaian serba hitam. Dia berjalan menghampiri gadis kecil yang sedang berdiri dibalik jendela kamarnya.


“Kenapa?” Gadis itu balik bertanya, saat melihat bocah lelaki itu senyum gadis kecil itu langsung menghilang.


“Hm, hanya bertanya. Tidak boleh?”


“Aku tidak melarangmu untuk bertanya. Tapi sekarang aku sedang malas menjawab pertanyaanmu itu.” Gadis itu melirik sinis lelaki di hadapannya.


“Lepaskan, sakit tau!” Gadis kecil itu berseru kesal, dia memukul tangan anak lelaki itu hingga terlepas dari pipinya.


“Pipimu semakin lebar ya. Aku jadi semakin ingin menggigitnya." Anak lelaki itu terkekeh pelan.

__ADS_1


“Pergi kau! Aku malas melihat wajah pucatmu!” Gadis itu berjalan menjauhi jendela. Dia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Anak lelaki itu melompat melewati jendela, dia duduk di atas meja belajar gadis kecil itu.


“Jane, ayo kita menikah!” Anak lelaki itu tersenyum lebar. Dia menatap Jane yang memejamkan matanya, malas mendengarkan ocehan anak lelaki yang menurutnya tidak penting.


“Menikah saja dengan nenek tua di sebelah rumahmu itu. Aku tidak sudi menikah dengan anak jahil sepertimu.” Jane memeluk bantal gulingnya, dia masih memejamkan matanya.


“Hei, aku berkata serius! Ayo kita menikah.” Anak lelaki itu melompat ke atas tempat tidur Jane, membuat Jane membuka matanya, dan memelototi anak lelaki berambut cokelat di hadapannya dengan garang.


“Sana pergi dari kamarku! Aku malas berbicara denganmu!” Jane berdiri dan dia menarik tangan anak lelaki itu hingga berdiri dari duduknya.


“Jane, kau memang menyebalkan, tapi aku tetap menyukaimu.” Bocah lelaki itu terkekeh, dia berjalan menuju jendela kamar Jane dan melompatinya.


“Sampai jumpa, Jane. Kalau kau merindukanku pergi saja ke rumahku. Aku selalu berada di rumah.”


“Aku malas merindukan anak nakal sepertimu."

__ADS_1


Anak lelaki itu tersenyum lebar, dia berlari menjauh dari kamar Jane. Jane terdiam sejenak, dia kembali merasa sedih saat anak lelaki itu pergi.


°○°○°○°○°○°○°○°○°


__ADS_2