
Pagi yang mendung. Jane memandang rintik hujan yang turun menghantam kaca mobilnya. Matanya sibuk mengawasi jalanan yang sedikit lengang. Sepertinya Ayah membangunkannya terlalu pagi, sekarang masih pukul 06.10 WIB. Jane mengalihkan pandangannya kepada Ayah yang sibuk menyetir. Sesekali dia menggumamkan lagu yang berasal dari radio.
“Ayah,” panggil Jane dengan nada agak tinggi, saat itu juga Ayah langsung mengecilkan suara radionya.
“Ada apa, Jane?” ucap Ayah tanpa menolehkan kepalanya.
“Em ... apa dulu aku mempunyai sahabat bernama Iru?” tanya Jane dengan hati-hati.
Ayah terdiam sejenak lalu tersenyum kecil.
“Apa sekarang kau mengingatnya?”
“Ya ... walau sedikit.” Jane meringis pelan.
“Itu bagus. Iru memang sahabatmu sejak kecil, dia anak yang sedikit menyebalkan, tapi dia baik.” Ucap Ayah bibirnya melengkungkan senyum tipis.
“Siapa nama orang tuanya?” tanya Jane.
“Tentu saja dia anak dari Reyna dan Reyhan, mereka memang bukan orang tua kandung. Tapi mereka sangat menyayangi Iru.”
“Berapa lama Ayah mengenal mereka?” Jane bertanya dengan nada menggebu, namun dia berusaha berbicara senormal mungkin agar Ayah tidak curiga.
__ADS_1
“Oh, Ayah sudah berteman dengan mereka sejak SMA. Kami juga satu kampus saat kuliah dulu, jadi Ayah sangat tahu bagaimana mereka,” jelas Ayah matanya melirik Jane sekilas.
“Oh, begitu. Ayah aku punya satu pertanyaan lagi,” cetus Jane bibirnya tersenyum lebar.
“Seribu pertanyaan pun akan Ayah jawab,” kekeh Ayah, Jane menyengir kuda.
"Apa teman Ayah dulu punya anak?”
“Sebenarnya dulu Reyna dan Reyhan punya satu anak lelaki, namanya Archie . Tapi tiba-tiba Archie menghilang dan ditemukan seminggu kemudian dalam keadaan sudah meninggal. Ayah juga tidak tahu pasti kejadiannya bagaimana, mereka tidak cerita apa pun kepada Ayah. Sebulan setelah kepergian Archie, Reyhan mengadopsi Iru dari panti asuhan.” Ayah menyelesaikan ceritanya tepat saat Mobil berhenti di depan gerbang sekolah Jane.
“Oke Jane, sekarang bersiaplah untuk belajar.” Ayah berseru, seolah dia sengaja meninggikan suaranya agar Jane tersadar dari lamunannya.
“Sudah tuan putri,” ucap Ayah sambil tersenyum.
Jane terkekeh pelan, setelah berpamitan dengan Ayah Jane segera berlari masuk ke dalam sekolah, karena rintik hujan yang turun semakin deras.
°•°•°•°•°•
Jane berjalan di koridor sekolah yang lengang. Matanya sibuk mencari seseorang, namun tidak juga ketemu. Kemana sih dia? Kalau dicari tidak ada, tapi kalau tidak dicari selalu muncul. Jane mengepalkan tangannya gemas. Apa dia pergi ke kelasnya saja? Siapa tahu dia sudah ada di sana. Jane menghela napas pelan, dia berjalan ke lantai dua tempat kelas Tomy berada.
Jane melonggokkan kepalanya ke dalam kelas yang masih sepi. Hanya ada tiga orang di sana. Dua orang gadis yang asyik bercengkerama dan seorang lelaki yang tidur di pojok kelas. Tidak salah lagi, dialah orangnya. Jane melangkahkan kakinya memasuki kelas, dia tersenyum saat dua gadis itu menatapnya. Kakinya berhenti di samping tubuh Tomy yang tertidur di meja.
__ADS_1
Tangannya menggoyang pelan tubuh jangkung itu. Tomy mengerang pelan, dia mengangkat kepalanya dan menatap Jane dengan mata menyipit. Jane nyengir saat Tomy memelototinya.
“Apa? Kau mengganggu tidurku!” Tomy berucap kesal.
“Aku sudah memecahkan teka-tekinya. Ayo, kita harus membahas ini!” ucap Jane dengan semangat.
“Nanti saja, aku masih mengantuk.” Tomy menelungkupkan kepalanya di atas meja, namun Jane langsung mencegahnya.
“Ini sangat penting! Kau harus membanting menguak semua kebenarannya,” celetuk Jane dengan wajah memelas.
“Setelah pulang sekolah aku akan menemui.”
“Itu terlalu lama.” Jane mengeluh pelan.
“Iya atau tidak sama sekali.” Tomy menatap Jane dengan garang membuat Jane cemberut.
“Kau memang menyebalkan!”
Jane memandang tulang kering Tomy dan langsung berlari keluar kelas. Sedangkan Tomy, dia mengumpat sambil mengelus tulangnya yang terasa nyeri.
°•°•°•°•°•
__ADS_1