Delusion

Delusion
02


__ADS_3

Jane memandang jalanan yang terlihat sepi dari balik jendela mobilnya. Dia memandangi hamparan pohon jati dengan bosan. Ya, walaupun ia tidak ingat pernah pergi ke sini, tapi Jane sangat bosan dengan perjalanan yang sejak setengah jam yang lalu tidak sampai juga.


Jane mengalihkan pandangannya menatap ayah yang sibuk menyetir, sesekali kepalanya mengangguk teratur mengikuti irama lagu yang diputar.


“Ayah, apa masih jauh?” tanya Jane dia sudah sangat bosan, membuat Ayah menolehkan kepala ke arahnya dan menghela napas pendek.


“Ayolah Jane, kamu sudah menanyakan hal yang sama sebanyak dua puluh kali,” ujar Ayah menatap Jane dengan pandangan tak kalah bosan.


“Ah, perjalanan ini sangat membosankan. Di rumah aku melihat pohon dan di sini aku juga melihat pohon.” Jane menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. Dia melihat deretan pohon jati yang berjejer di pinggir jalan tanpa minat.


“Tenang saja, nanti kamu akan melihat rumah di sana.” Ayah terkekeh pelan melihat Jane yang menggerutu pelan.


Jane memilih memejamkan matanya. Dia sudah tidak peduli dengan deretan pohon jati itu, dan tentu saja dengan pria paruh baya yang sibuk menyanyi dengan suara sumbang. Ayahnya memang paling senang untuk menyiksa Jane. Tak beberapa lama, akhirnya Jane larut dalam mimpi yang telah menunggunya.


“Jane, bangun kita sudah sampai.” Ayah menepuk pelan pipi Jane. Membuat dia menggeliat pelan.


“Ayo bangun putri tidur, kita sudah sampai sekarang."


“Sepertinya aku baru memejamkan mata sebentar.” Jane mengikuti Ayah yang sudah turun dari mobil.


“Mungkin kamu terlalu mengantuk.” Ayah menjawab tidak peduli.

__ADS_1


Jane mengerjapkan matanya pelan, dia melihat ke sekeliling.  Rumah bercat putih gading di hadapannya terlihat sangat hangat dengan beberapa bunga warna-warni yang mempercantik rumah itu. Halaman rumah yang terbuat dari rumput yang lembut itu membuat Jane ingin berbaring di sana dan melanjutkan tidurnya yang terganggu.


Jane mengernyitkan dahinya heran saat melihat ayah yang memeluk seorang pria paruh baya bertubuh tinggi, matanya tajam namun terlihat tegas. Sedangkan wanita paruh baya di sampingnya terlihat cantik meski garis keriput tampak terlihat di  wajahnya yang lembut.  Kedua orang asing itu tersenyum lebar saat melihat Jane yang berdiri di samping ayah tampak bingung dengan situasi ini.


“Hai Jane, kamu sudah besar sekarang.” Wanita paruh baya itu memeluk Jane yang tampak bingung.


“Kau pasti bingung ya? Aku Reina, dulu kamu sering memanggilku Bunda Reina dan memanggil suamiku Ayah Reihan," ucap wanita itu melirik suaminya sambil tersenyum lembut, yang membuat Jane tersenyum canggung. Dia sungguh tidak ingat siapa mereka.


“Sepertinya Jane belum ingat,” ucap ayah seraya menatap wajah Jane yang bingung.


“Tidak apa, kalau begitu ayo masuk."


“Aku akan membuat minum dulu.” Tante Reina berjalan ke dapur.


Jane duduk di samping Ayah yang tampak asyik mengobrol dengan Om Reihan, sesekali mereka mengeluarkan suara tawa keras yang membuat Jane meringis merasakan gendang telinganya berdengung. Ah, Jane sangat lebay memang. Karena bosan Jane pamit untuk berjalan-jalan di sekitar rumah.  Saat dia berjalan di halaman belakang,  dahi Jane mengernyit saat melihat sebuah rumah kayu di atas pohon. Jane mendekati rumah itu. Dia memperhatikan tangga yang terlihat sudah lapuk. Apa masih kuat jika dipijak?


Karena rasa penasarannya lebih besar daripada rasa takut jika dia jatuh saat menaiki tangga itu, Jane memilih untuk menaikinya dengan hati-hati. Pelan-pelan saja. Dan Jane berhasil naik sampai atas tangga. Dia masuk ke dalam rumah pohon itu dan Jane semakin heran dengan banyaknya foto yang ada di sana. Jane memperhatikan foto usang yang dekat dengannya dan dia membelalakkan matanya saat melihat foto itu.


Dia memandangi foto usang yang menampilkan dirinya saat kecil dan seorang bocah lelaki yang dia lihat di ruang tamu rumah Om Reihan. Jane berusaha mengingat, apa dulu dia pernah pergi ke tempat ini? Tapi kapan? Kenapa dia tidak mengingatnya sama sekali?


Jane kembali menatap sekeliling rumah kayu ini, banyak sekali fotonya. Bahkan sampai hampir memenuhi setiap sudut ruangan ini. Jane memilih duduk di atas lantai kayu. Pandangannya beralih menatap ke buku cokelat usang yang berada di pojok ruangan. Apa itu? Buku catatan?

__ADS_1


Jane mengambil buku itu, belum sempat dia membuka lembaran buku itu. Sebuah suara berhasil membuatnya terkejut. Dengan tergesa dia melongokkan kepalanya ke luar rumah kayu, dan melihat Ayahnya yang berkacak pinggang.


“Hei, apa yang kamu lakukan?” ucap Ayah dengan nada khawatir.


“Hanya berjalan-jalan tadi.”


Jane menuruni anak tangga dengan hati-hati.


“Ada apa?” tanya Jane.


“Ayo, kita pulang.”


“Eh, Ayah sudah selesai mendongeng?”


“Apakah itu sebuah sindiran?”


“Menurut Ayah?” Jane mengangkat satu alisnya, membuat Ayah tersenyum, dan mengacak rambutnya gemas.


“Apa kita tidak berpamitan dengan Om Reihan dan Tante Reina dulu?” tanya Jane. Dia mengernyitkan dahi saat Ayah berjalan memasuki mobil.


“Ayah sudah berpamitan, mereka juga akan pergi. Ayo masuk.”

__ADS_1


Mobil berjalan meninggalkan pekarangan rumah. Jane kembali menatap rumah pohon itu. Dia mengernyitkan dahinya saat melihat siluet anak kecil di rumah pohon itu.


•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°


__ADS_2