
Sudah tiga hari Jane terbaring di ranjang rumah sakit. Dan selama itu pula hanya Tomy yang selalu menjenguknya. Bahkan selama ini Tomy yang mengurusnya. Dia tidak melihat Ayah atau pun Scarlett. Setiap dia menanyakannya kepada Tomy, lelaki selalu selalu mengalihkan pembicaraan. Jane jadi semakin bingung dengan hal yang sebenarnya terjadi.
Dan hari ini, dia kembali menanyakan hal yang sama. Namun Tomy malah mendiamkannya. Lelaki itu tampak asyik mendorong kursi roda Jane dengan seragam sekolah yang masih melekat di tubuhnya. Jane menghela napas panjang, dia jadi curiga dengan Tomy. Pasti lelaki itu sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
Mereka berhenti di taman rumah sakit yang tampak sepi. Hanya ada mereka berdua di sini. Jane mengedarkan pandangannya, dia melihat air mancur yang tampak jernih di tengah-tengah taman. Ada beberapa tanaman bunga yang menghiasi taman ini. Jane menatap langit sore berwarna jingga yang tampak indah dengan pantulan cahayanya yang mengenai air mancur. Sehingga air mancur itu tampak bercahaya.
“Tomy di mana Ayahku?” tanyanya sekali lagi, membuat Tomy kembali menghela napasnya gundah.
“Apa tidak ada pertanyaan lain, Jane?”
“Kali ini hanya itu pertanyaanku.”
Tomy terdiam sejenak. Perlahan dia berjalan dan berjongkok di depan Jane yang duduk di kursi rodanya. Tangannya menggenggam jemari Jane dengan lembut. Membuat Jane terdiam dengan alis terangkat satu, dia sudah tidak sabar mendengar jawaban Tomy.
“Apa kau tidak ingat satu pun tentang Ayahmu? Tentang keluargamu?” Tomy berkata dengan nada rendah. Jane menggeleng tidak tahu.
__ADS_1
“Baiklah, sepertinya tidak ada yang perlu ditutupi lagi. Karena kau juga harus tahu semuanya,” ucap Tomy, matanya menatap Jane dengan sorot lembut namun ada kegetiran di dalamnya.
“Jane ... Ayahmu sudah meninggal,” katanya dengan nada menyesal.
Jane membeku, sorot matanya terlihat goyah. Apa, apa Tomy bercanda? Tapi dia tidak terlihat begitu. Ini tidak mungkin kan? Sudah jelas Ayahnya masih hidup, pasti Ayah telah menunggunya di rumah!
“Ka-kau bercanda kan?” Jane tertawa kaku, bibir pucatnya bergetar.
Melihat itu Tomy langsung memeluk tubuh rapuhnya dengan erat. Dia tahu, ini akan terjadi. Apa salah jika dia memberitahunya sekarang? Gadis di pelukannya ini pasti terguncang. Jane terdiam dengan sorot mata hampa, namun bibirnya terus tertawa.
“Tomy, kau berbohong kan?” tanya Jane dengan pelan.
“Ini pasti mimpi, aku pasti masih bermimpi!” gumamnya dengan dengan percaya, namun hatinya berkata lain.
Perlahan air mata itu berubah menjadi hujan deras yang mengguyurnya, dia ... apa ditakdirkan untuk menderita?
__ADS_1
“Jangan menangis, kau tidak sendirian.” Tomy membelai rambut gadis di dekapannya dengan lembut, seolah gadis itu adalah benda yang sangat rapuh. Sehingga rawan untuk hancur.
“Tomy, aku sedang bermimpi kan?”
Jane menguraikan pelukannya. Dia menatap Tomy dengan sorot berharap. Berharap Tomy menjawabnya, jika dia masih tertidur. Namun harapan itu pudar, saat lelaki itu menggeleng dengan wajah menyesal. Membuat air matanya kembali meluncur bebas dari kelopaknya. Tomy mengangkat tangannya, dengan lembut dia mengusap air mata yang mengalir di pipi gadis itu.
“Apa yang terjadi? Kenapa Ayahku pergi? Sudah jelas dia sedang menungguku di rumah,” celoteh Jane. Dia menolak untuk menerima kenyataan itu.
“Jane, Ayahmu sudah meninggal saat kau berusia sepuluh tahun. Dia meninggal karena kecelakaan mobil, dia meninggal bersama dengan ibumu. Dan selama ini kau tinggal di panti asuhan, karena orang tuamu tidak memiliki saudara lain di kota ini,” jelas Tomy dia menatap Jane yang juga menatapnya dengan sorot terkejut.
Jane memandang Tomy dengan tidak percaya. Dia kembali tertawa, dongeng dari mana itu? Apakah Tomy benar-benar sedang mengerjainya? Jika iya, sungguh itu tidak lucu. Jane tertawa lagi, membuat Tomy memandangnya dengan tidak mengerti. Apa yang lucu? Kenapa ini? Padahal dokter tidak memvonisnya terkena amnesia. Kenapa dia tidak tahu?
“Ayolah, Tomy. Padahal waktu itu kita pergi ke hutan pinus bersama. Kau menungguku di depan kompleks, karena kita tidak mau kena marah Ayah! Kita pergi untuk mencari tahu kematian Iru. Tapi saat di perjalanan kita tewas karena dibunuh dua pembunuh.” Jane berkata dengan keras, Tomy kembali memandangnya dengan tatapan yang tidak bisa dibaca.
“Apa maksudmu, Jane? Kau tertabrak mobil saat pulang sekolah! Orang tuamu sudah meninggal, dan Iru? Iru juga sudah meninggal karena dia overdosis obat! Sejak kapan kau peduli dengan berandalan seperti Iru? Hutan pinus? Di kota kita tidak ada hutan pinus.” Tomy berseru meyakinkan.
__ADS_1
Bagaikan tersambar petir di siang bolong, Jane menatap Tomy dengan tidak percaya. Dia menolak untuk percaya dengan lelaki di depannya, namun saat tiba-tiba sebuah memori berputar di kepalanya. Jane semakin dilanda rasa tidak ingin tahu. Tiba-tiba dia melihat saat dirinya menangis di pemakaman, saat Iru yang mengganggunya, saat dia sedang bermain dengan beberapa anak kecil, saat Tomy memeluk tubuhnya yang bersimbah darah. Memori itu saling menyeruak masuk dan tumpang tindih di kepalanya. Membuat kepalanya pusing dan perutnya mual. Jane merasa sekitarnya yang berputar, wajah khawatir Tomy yang terlihat buram, dan akhirnya tubuhnya terkulai lemas dengan Tomy yang berusaha menahannya. Perlahan matanya kembali tertutup dengan bayang-bayang masa lalu yang tidak pernah ia duga.
°•°•°•°•°•