Delusion

Delusion
25


__ADS_3

Hangat. Jane memegang dadanya yang entah mengapa terasa hangat. Dia seperti pernah merasakan perasaan ini, namun kapan? Jane tidak mengingat tempat ini. Tempat yang terlihat indah dengan warna cat rumahnya yang berwarna biru langit, dan halaman yang ditanami rumput. Meskipun tempat ini tidak terlalu besar, tapi hawa tempat ini terasa berbeda. Mungkin karena tempat ini yang terlihat ramai oleh beberapa anak kecil yang berlarian di halaman sambil tertawa ria.


Jane menolehkan kepalanya ke samping saat sebuah tangan menepuk bahunya pelan. Dia melihat Tomy yang sedang tersenyum kecil ke arahnya. Lelaki itu menggandeng tangannya dan menariknya lembut, menuntunnya masuk ke dalam rumah yang disebut panti asuhan itu.


Jane mengedarkan pandangannya dia melihat beberapa anak kecil yang berlari ke arahnya, seolah mereka telah siap untuk menyambutnya. Matanya beralih ke arah pintu, di sana seorang wanita paruh baya berdiri sambil tersenyum manis. Terlihat cantik meskipun garis keriput terlihat tipis di wajahnya yang lembut. Wanita itu memeluk tubuh Jane saat gadis itu sudah sampai di hadapannya.

__ADS_1


“Akhirnya kau kembali.” Wanita itu mengusap pelan kepala Jane.


Jane terdiam, seketika wajah ayah yang sedang tersenyum terbayang di kepalanya. Wanita itu melepaskan pelukannya, dan menuntunnya supaya masuk ke dalam rumah. Sesampainya di dalam rumah, Jane langsung disambut anak-anak kecil yang asyik menata kue di atas meja. Ada juga yang sedang meniup balon.


Saat melihat kedatangan Jane mereka langsung berkumpul, bibir mereka tersungging dengan lebar. Wajah mereka tampak sangat ceria.

__ADS_1


Entahlah, Jane juga tidak mengerti mengapa tiba-tiba tubuhnya bergerak dan memeluk anak-anak itu dengan sendirinya. Bibirnya tertarik ke atas dengan sempurna, matanya terlihat berkaca-kaca. Anak-anak itu balas memeluknya dengan erat, mereka saling memeluk. Bibir mereka tidak berhenti untuk tersenyum, membuat hati Jane yang tadinya terluka karena kenyataan bahwa ayahnya sudah pergi kembali membaik.


Anak-anak itu mengambil roti yang terlihat cantik dari atas meja. Saat Jane akan mengambilnya, tiba-tiba anak-anak itu malah mencolekkan krim ke wajahnya. Jane ternganga, namun dengan segera dia mengambil krim roti yang diberikan Tomy dan berlari mengejar anak-anak itu. Hatinya begitu bahagia dengan hal sederhana ini, bibirnya pun tak henti-hentinya tertawa.


Tanpa sengaja matanya melirik ke luar rumah. Di sana, di seberang jalan Jane melihat Iru yang berdiri dengan pakaian serba putih, sama seperti pertama kali Jane melihatnya. Jane terdiam saat melihat wajah putih pucat dengan rambut legam itu. Matanya menatap lekat Iru yang tersenyum jahil ke arahnya. Namun saat kakinya akan melangkah mendekati lelaki itu, dia terkejut saat sebuah tangan mencolekkan krim ke pipinya, membuat Jane tersadar dari keterpakuannya. Dia menoleh dan melihat Tomy yang tertawa, dengan segera gadis itu mengejar Tomy. Namun saat dia kembali melihat ke seberang jalan Iru masih menatapnya sambil tersenyum, kemudian lelaki itu berbalik, dan menghilang di antara rimbunan pohon yang tampak lebat.

__ADS_1


°•°•°•°•°•


__ADS_2