
Matanya terbuka dengan napas memburu. Dia menatap langit-langit ruangan berwarna putih dengan perasaan tak menentu. Anak lelaki itu ... apa itu adalah Iru? Sahabatnya? Dan wajah pria itu, Jane sangat mengenalinya. Kenapa dia melakukannya? Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Apa semua ini berhubungan? Jane berusaha berpikir, namun kebuntuan yang dia temui.
“Jane, kau mimpi buruk?” tanya Tomy, matanya menatap Jane dengan khawatir.
Jane menolehkan kepalanya, dia menatap Tomy sambil tersenyum tipis. Meski akhirnya dia harus meringis karena luka di ujung bibirnya yang terasa perih.
“Tidak, hanya saja ... aku merasa tidak mengerti dengan hal yang terjadi kepada kita.” Jane menolehkan kepalanya menatap pintu kayu yang tertutup rapat.
"Mimpi ... aku pernah bermimpi tentang tempat ini." Jane berusaha mengingat. Ya, dia memang pernah ke sini.
"Benarkah?" tanya Tomy dengan penasaran.
"Aku melihat Iru sekarat di tempat ini."
"Apa mungkin semua ini berkaitan?"
"Mungkin? Tapi aku tidak yakin kita akan selamat." Jane berkata dengan frustasi, matanya menatap Tomy dengan kosong.
“Aku yakin kita akan keluar dari tempat ini. Astaga, perutku sangat sakit,” ujar Tomy dengan optimis, dia melihat ke perutnya yang kembali mengeluarkan darah.
__ADS_1
Jane menatap Tomy yang sangat mengenaskan dengan iba. Wajahnya lebam, pelipisnya sobek, perutnya pun sama. Harusnya mereka tidak pernah menyelidiki tentang Iru.
“Apa ... Ayah mencariku ya?” tanya Jane, tiba-tiba dia sangat merindukan Ayahnya yang cerewet.
“Tentu saja, pasti Ayahmu sangat mengkhawatirkanmu.” Tomy tersenyum kecil.
“Bagaimana denganmu? Orang tuamu pasti sangat mencemaskanmu.”
“Aku sangat menginginkan hal itu, namun nyatanya tidak ada yang mencemaskanku walaupun aku mati.” Tomy terkekeh perih.
“Ma-maksudmu?” tanya Jane tidak mengerti.
“Orang tuaku itu gila kerja, mereka tidak akan berhenti bekerja walaupun apa yang mereka impikan telah tercapai. Kau tahu? Saat aku berumur sepuluh tahun, aku menghajar temanku sampai dia masuk rumah sakit. Seharusnya orang tuaku memarahiku atau menghukumku, tapi apa yang mereka lakukan? Mereka malah memberi mereka uang, agar aku tidak dilaporkan polisi. Sejak saat itu aku selalu berbuat onar, aku hanya ingin mengusir rasa bosanku.” Tomy tersenyum miris.
Brak
Jane dan Tomy menoleh bersamaan ke arah pintu yang terbuka keras. Di sana Jimmy tersenyum gila, sedangkan Andrew yang menatap mereka dengan datar dan dingin.
“Waw, sudah selesai mendongeng? Uh, aku sangat terharu mendengar cerita sedihmu.” Jimmy tertawa gila, matanya menatap Jane dan Tomy dengan sorot mata buas.
__ADS_1
“Tenang saja kawan, hari ini kalian akan menghirup udara segar. Namun setelahnya, kalian harus bersiap. Karena sebentar lagi kalian akan bertemu malaikat maut.” Jimmy kembali tertawa.
Tomy berdesis marah, dia menatap Jimmy dan Andrew dengan benci. Tubuhnya meronta ronta. Ingin sekali dia menyobek mulut lebar Jimmy. Namun dia tidak sempat melakukan itu, karena sebuah benda lancip sudah menusuk lehernya. Membuat kesadarannya perlahan-lahan menghilang.
Jane terdiam dengan tubuh bergetar. Dia menatap takut Andrew yang mendekatinya.
“Se-sebenarnya kita akan kemana?” tanya Jane dengan gugup.
Andrew mendekatkan wajahnya ke wajah Jane, hingga hanya meninggalkan jarak satu jengkal. Mata kelamnya menatap Jane dengan dingin.
“Menemui seseorang.”
“Siapa?”
“Kau akan tahu.”
Andrew menyunggingkan senyum tipis, saking tipisnya hingga Jane tidak menyadari. Jane menatap sorot kelam itu, lama-lama penglihatannya semakin mengabur, dan akhirnya kegelapan membelenggunya.
“Bagaimana?” tanya Jimmy, tangannya sibuk mengelus pisaunya dengan lembut.
__ADS_1
“Ayo kita bawa.”
°•°•°•°•°•°•