
“Jadi, apa yang ‘harus’ kita bicarakan?” Tomy menatap Jane yang tengah meminum es tehnya. Iya, sekarang mereka sedang berada di rumah Tomy.
Sepulang sekolah tadi, Tomy langsung menunggu Jane di parkiran. Itu pun Jane harus beralasan kepada Scarlett agar bisa pergi terlebih dahulu. Karena jika Scarlett tahu, dia pasti akan menginterogasinya seperti kemarin.
“Aku sudah menanyakan kepada Ayah tentang orang tua Iru ya--"
“Aku sudah tahu kalau Iru anak angkat donatur terbesar sekolah kita.” Tomy memotong pembicaraan Jane dengan malas.
“Bukan itu, ternyata donatur terbesar kita itu teman Ayah sejak SMA dan pernah mempunyai seorang anak lelaki,” ucap Jane, dia memutar bola matanya malas. Tomy langsung terdiam.
“Kau serius?” Tomy berseru terkejut.
“Tentu saja, bahkan aku sudah pernah ke rumahnya. Mereka tinggal di pedesaan pinggiran kota, rumahnya sangat sederhana dan ada rumah pohonnya juga.”
“Apa kita berniat untuk menyelidiki mereka?” tanya Tomy raut wajahnya begitu serius.
“Sepertinya begitu, karena aku juga mencurigai mereka sejak awal. Entah kenapa saat pertama kali melihat mereka, tatapan mereka begitu aneh saat melihatku.”
“Oke, tapi apa yang akan kita lakukan?”
“Sepertinya aku tahu apa yang akan kita lakukan. Kita akan mencari tahu lewat mimpi dan buku harian Iru, kertas itu juga berguna.” Jane memandang Tomy dengan tatapan berbinar semangat.
__ADS_1
“Oke, kita akan membahas mimpimu. Jadi?”
“Jadi, kita harus menyelidiki hutan pinus yang mempunyai danau itu. Kita harus pergi ke ujung danau untuk mencari tahu sebenarnya ada apa di sana. Tapi aku tidak tahu tempatnya.”
“Tenang saja, aku tahu dimana tempatnya. Kapan kita akan ke sana?”
“Bagaimana jika besok? Besok kita liburkan?”
“Oke, kita akan menyelidikinya besok. Dan jangan lupa untuk membawa petunjuk-petunjuk itu.”
“Hm, kita bertemu di taman saja. Aku yakin jika Ayah tahu, dia akan melarang kita.”
“Oke.”
Esoknya, Tomy melirik jam di pergelangan tangannya dengan malas. Oh ayolah, ini sudah setengah jam lebih lama dari perjanjian mereka. Bahkan sinar matahari sudah terasa sangat menyengat. Tomy bangkit dari duduknya dan mengedarkan pandangannya ke segala penjuru taman, dia berdecak kesal saat melihat Jane yang baru datang.
“Kau sangat lama!” gerutu Tomy, sedangkan Jane hanya menyengir sekilas.
“Aku harus mencari alasan agar bisa kabur dari Ayah. Ayo kita harus cepat.” Jane berjalan mendahului Tomy ke tempat mobil Tomy terparkir.
“Kau yang membuat lama!”
__ADS_1
Mereka bergegas pergi dari taman itu. Di perjalanan mata Jane tak henti-hentinya berbinar kagum. Pemandangan di sini bahkan jauh lebih indah daripada saat pergi ke rumah Tante Reina. Meskipun begitu, lama kelamaan jalanan sangat sepi dan pepohonannya juga semakin rimbun. Perasaan Jane menjadi tidak nyaman. Apalagi cahaya matahari yang terpancar sedikit karena terhalang pohon membuat suasana yang tadi sangat indah sekarang terasa mencekam.
“Apa ini benar tempatnya?" Tanya Jane, dia menatap Tomy yang sibuk menyetir.
“Iya, aku yakin ini tempatnya.” Jane mengangguk pelan.
Tak terasa mereka sudah sampai di gerbang hutan. Mereka segera keluar dari mobil. Jane menatap hutan pinus yang rimbun di depannya, tak dapat dipungkiri dia sedikit merasa takut. Di sini juga hawanya terasa aneh, Jane mengusap tengkuknya yang merinding. Terasa mencekam dan begitu dingin.
“Ayo, kita masuk.” Tomy menggandeng tangan Jane dan segera menariknya untuk berjalan. Jane memandang tangannya yang digandeng Tomy, lalu mengalihkan pandangannya ke depan.
“Ini menakutkan,” gumam Jane.
“Tenang saja, jika terjadi apa-apa aku akan melindungimu.”
“Kau pernah ke sini?” tanya Jane, dia menatap Tomy.
“Pernah, tapi dulu sekali.” Tomy melirik Jane sekilas.
Lalu hening, tidak ada yang memulai percakapan lagi. Mereka sibuk mengawasi sekitar. Mereka merasa di sini terasa sangat aneh. Begitu sunyi, seolah hutan ini memang berniat untuk menyambut mereka. Jane merasa seperti diawasi, dia mengedarkan pandangannya. Namun tidak ada apa-apa. Tomy melirik sekilas Jane, dia menggenggam tangannya lebih erat seolah dia tahu gadis itu ketakutan.
Tomy menolehkan kepalanya saat dia melihat sebuah bayangan hitam melintas di depannya dan dia segera mengejar bayangan itu. Jane terpaku, dia berjalan terseret karena Tomy yang memaksanya untuk tetap berjalan. Jantungnya berdebar kencang, keringat dingin semakin bercucuran. Dari awal mereka datang, memang sudah ada yang tidak beres.
__ADS_1
°•°•°•°•°•