
Jane menatap Tomy yang asyik duduk di atas pembatas jembatan. Sepulang sekolah, tiba-tiba Tomy sudah menunggunya di depan kelas. Dan hal itulah yang membuat orang lain terkejut sekaligus penasaran. Scarlett yang tahu Tomy akan membawa pergi Jane menentang keras. Dia memarahi Jane agar tidak usah menuruti Tomy, tapi setelah perbincangan yang alot akhirnya Scarlett membiarkan Jane pergi. Meskipun Scarlett tidak memberikan izin sepenuhnya.
“Jadi, apa yang mau kau bicarakan?” Jane bertanya dengan nada penasaran sekaligus sebal. Karena sudah hampir sepuluh menit lelaki berambut legam itu hanya diam.
Ada jeda beberapa detik, sebelum akhirnya Tomy membuka suaranya. “Sebenarnya aku sedikit penasaran denganmu.”
“Penasaran?” Jane menopang dagunya sambil melirik Tomy.
“Ya, bagaimana kamu bisa selamat dari kecelakaan itu.”
“Apa kau mengharapkan aku mati?” kata Jane dengan sebal. Tomy tersenyum miring.
“Aku sih inginnya begitu, hanya saja takdir berkata lain.”
“Jadi, apa kau sebenci itu padaku?” Jane mengangkat satu alisnya.
“Sebenarnya aku tidak membencimu, aku hanya tidak suka dengan sifatmu yang terlalu ingin ikut campur urusan orang lain.” Tomy meliriknya sekilas.
“Oh ya? Dalam hal apa aku ikut campur urusan orang lain?”
“Apa kau benar-benar tak ingat?” tanya Tomy yang dibalas gelengan pelan oleh Jane.
“Dalam segala hal, terutama jika aku menjahili sahabat pucatmu itu. Kau orang pertama yang akan menancapkan paku di ban motorku.” Tomy berkata sebal, namun Jane malas terkekeh geli.
“Itu keren!”
__ADS_1
“Jane, apa kau tidak ingat satu hal pun tentang Iru?” tanya Tomy dengan serius, matanya menatap iris hazel Jane dengan lurus.
“Tidak. Dan itu hal yang paling aku benci, aku tidak ingat tentang apa pun yang sebelumnya terjadi. Aku juga tidak mengingat bagaimana aku mengalami kecelakaan.”
Tomy terdiam sejenak, ada setitik rasa kasihan yang terbesit di hatinya saat mendengar perkataan Jane yang terdengar begitu frustasi.
“Aku ingin memberitahukan hal penting yang aku ketahui. Dan ini menyangkut Iru.”
“Apa?”
“Sepulang sekolah aku melihat Iru berjalan di jembatan ini, aku membiarkannya dengan mengawasinya dari kejauhan. Dan entah dari mana datangnya, dua orang pria bertubuh besar sudah menghajarnya.”
“Kenapa kau tak menolongnya?” geram Jane, dia menatap marah Tomy yang memasang wajah tanpa dosanya.
“Jangan memotong ucapanku Jane, kebiasaan burukmu itu tidak hilang juga ya.”
“Saat aku akan menolongnya, kedua pria tadi langsung membawa Iru ke dalam mobil berwarna hitam yang ternyata sudah menunggunya di ujung jembatan.”
Mereka terdiam. Jane berusaha mencerna kata demi kata yang diucapkan Tomy. Apa Iru mempunyai masalah dengan orang lain? Jane semakin penasaran dengan apa yang terjadi dengan Iru. Dia merutuki sendiri ingatannya yang hilang, ini membingungkan!
“Sejak kapan kamu tahu hal itu? Dan kenapa kamu tidak memberitahukan ke orang lain?”
“Dua bulan sebelum Iru ditemukan meninggal karena overdosis obat. Iru memintaku untuk tidak memberitahukan ke orang lain. Dia bahkan sampai memohon kepadaku agar masalahnya tidak sampai ke telingamu.”
Tomy berdiri dari duduknya. Dia menatap Jane yang masih sibuk dengan pikirannya.
__ADS_1
“Ayo, aku antar kamu pulang.”
Tomy berjalan menuju motornya dan duduk di atas jok motor. Dia menggunakan helm dan mulai menyalakan mesin motornya. Tanpa banyak bicara Jane langsung naik ke atas motor Tomy. Mereka pun meninggalkan jembatan itu, tempat di mana seseorang yang sejak tadi menatap mereka dengan tatapan yang sulit diartikan.
°•°•°•°•°•°•°•°•°•
Jane berbaring di ranjangnya. Dia menatap langit-langit kamarnya yang berwarna biru muda. Perkataan Tomy membuat otaknya terus berpikir. Jane berusaha mengingat tentang kecelakaan yang menimpanya. Sebenarnya dia kecelakaan karena apa? Ditabrak mobil? Truk? Atau apa? Jane tidak mengingat hal itu.
Jane terduduk di ranjangnya, dia baru ingat sesuatu. Dengan tergesa dia membuka laci nakasnya dan menemukan gumpalan kertas di sana. Jane menghela napas lega. Dia baru ingat dengan kertas ini. Dengan rasa ingin tahu yang menggebu Jane membuka gumpalan kertas itu, ada banyak bercak merah di sana. Dan Jane ragu apa itu darah atau hanya cat? Dia mengernyitkan dahinya saat sebuah tulisan menyambut matanya.
"Setiap malam Dewi Kematian menyambutku.
Katanya aku pantas menderita.
Sambil tersenyum dia merobek dadaku.
Mencengkeram jantungku hingga rasanya aku akan mati.
Tapi setiap pagi hari.
Aku selalu terbangun kembali.
Padahal kuharap aku cepat mati."
Jane terdiam, ada rasa ngeri saat dia membaca tulisan itu. Apa maksudnya? Apa dia perlu memberitahukan ini kepada Tomy? Ya, hanya Tomy yang dapat menolongnya. Jane mengambil ponselnya yang tergeletak di nakas, dia mengambil gambar kertas lusuh itu sebagai barang bukti. Jane langsung melipat kertas itu dan menaruhnya di dalam tas.
__ADS_1
“Aku akan mencari tahu yang sebenarnya terjadi."