
Jane duduk di ranjangnya. Tangannya sibuk mengetik kata demi kata di laptopnya. Setelah beberapa lama, akhirnya dia memutuskan untuk kembali menulis. Iya, setelah kejadian aneh yang menimpanya beberapa hari ini, Jane kembali membuka laptopnya. Berharap dengan ini dia bisa mengurangi tanda tanya yang ada di otaknya.
Saat sedang asyik berkutat dengan laptopnya. Sebuah suara yang berasal dari jendela kamarnya membuyarkan konsentrasi Jane yang susah payah dia bangun. Jane berdecak kesal. Siapa sih? Mengganggu saja, semua ide yang sudah ia susun jadi terpecah semua.
Tok tok tok
Jane berjalan pelan mendekati jendela dengan dahi berkerut. Jari lentiknya mulai menyibak gorden, dan sebuah wajah langsung menyambutnya. Jane melompat ke belakang. Terkejut saat wajah Tomy yang tersenyum kecil langsung terlihat indra penglihatannya.
“Buka.”
Setelah berhasil menetralkan degup jantungnya yang memburu, Jane langsung membuka jendela kamarnya. Dia mundur ke belakang saat tubuh Tomy masuk ke dalam kamarnya, dan dengan santainya langsung duduk di kursi belajarnya.
“Hei, apa yang kau lakukan malam-malam begini?” Jane berbisik lirih, dia khawatir jika Ayah mendengar suaranya.
“Kenapa, tidak boleh?” jawab Tomy dengan suara pelan.
“Tentu saja, bodoh. Itu tidak sopan!” Jane berdecak kecil, matanya sibuk memelototi Tomy.
“Aku hanya ingin menanyakan hal yang harus aku tanyakan.”
“Apa?”
“Ini tentang kau yang tiba-tiba pingsan setelah membaca buku itu. Aku curiga kau memang terlibat dengan buku itu.”
“Kenapa kau bertanya kepadaku? Aku juga tidak tahu, ingatanku bahkan belum pulih.” Jane mendaratkan pantatnya di ranjang.
__ADS_1
“Aku yakin pasti ada hal serius yang terjadi.”
“Akhir-akhir ini aku memang sering bermimpi. Dan mimpi itu seperti sebuah kenangan seseorang, aku dipaksa untuk melihatnya. Bahkan aku bisa merasakan rasa sakit di mimpi itu. Dan ada hal lain yang ingin kutunjukkan kepadamu.”
Jane berjalan menghampiri tasnya yang berada di atas meja. Dia membukanya dan mengambil sebuah kertas dari sana. Tangannya menyodorkan kertas itu di hadapan Tomy.
“Ini apa?”
“Lihat saja sendiri.”
Tomy mengambil kertas itu dari tangan Jane dan langsung membaca isinya.
Setiap malam Dewi Kematian menyambutku.
Katanya aku pantas menderita.
Mencengkeram jantungku hingga rasanya aku akan mati.
Tapi setiap pagi hari.
Aku selalu terbangun kembali.
Kerutan di dahi Tomy semakin kentara. Dia menatap Jane dengan pandangan bertanya setela membaca kertas itu.
“Dari mana kau mendapatkannya?”
__ADS_1
“Aku juga tidak tahu. Tiba-tiba aku bermimpi, mimpi itu sangat mengerikan. Aku bertemu Iru dan seorang anak kecil, anak kecil itu yang memberikan kertas itu kepadaku.”
“Mimpimu?”
“Aku mendapatkan mimpi itu setelah pulang dari rumah teman Ayah. Di mimpi pertama aku berada di sebuah ruangan pengap dan gelap, aku melihat Iru ada di sana dia bicara padaku tentang pembunuh. Setelah itu aku berada di tempat yang berbeda, itu rumah pohon yang ada di rumah teman Ayah. Di sana seorang anak kecil melemparku dengan kertas, dia berkata bahwa dia akan menikahiku.” Tomy mendengarkan Jane dengan baik, seolah setiap kata yang Jane ucap kan adalah sebuah petunjuk.
“Lalu mimpi itu datang lagi. Kali ini Iru menggandeng tanganku, kita pergi ke sebuah hutan pinus dan di sana ada sebuah danau yang sangat indah. Dia menunjuk sesuatu di ujung danau itu, dan tiba-tiba dia mendorongku ke danau. Dan mimpi terakhir saat aku pingsan tadi, ini adalah mimpi yang paling mengerikan. Aku melihat Iru sekarat di ruangan pengap yang aku temui di mimpi pertama.”
Jane merampungkan ceritanya. Ada hening sejenak. Mereka sibuk dengan pikiran mereka sendiri. Hanya ada detakan jarum jam yang mengisi kekosongan itu. Hingga suara pintu kamar Jane yang terketuk membuat lamunan mereka buyar.
Jane langsung dilanda rasa panik, dia mendorong tubuh Tomy yang berdiri untuk keluar dari kamarnya.
“Jane, kau sudah tidur?” tanya Ayah dengan curiga.
“Ayo, cepat keluar. Kita akan membahas masalah ini besok!” ucap Jane dengan pelan, namun tersirat rasa khawatir di sana.
“Oke-oke, kita akan membahas lagi ini.”
Dengan segera tubuh Tomy melompati jendela dan berlari menjauh dari sana. Jane berdeham pelan, berusaha menetralkan degup jantungnya yang menggila.
“Belum Ayah,” seru Jane, tanpa membuka pintu kamarnya.
“Oke, segera tidur sudah malam.”
“Iya.”
__ADS_1
Jane menghela napas pelan. Dia berjalan menuju jendelanya, memastikan jika Tomy sudah benar-benar pergi. Setelah itu dia langsung mengunci jendela kamarnya dan menutup gordennya.
°•°•°•°•°•°•°•°•°•