
Seorang pria paruh baya berjalan mondar-mandir di ruang tamu. Hujan lebat yang mengguyur bumi malam ini, membuat perasaannya semakin tak menentu. Sedangkan di kursi ruang tamu, Scarlett tak henti-hentinya mengusap matanya yang berair. Mungkin efek karena dia terlalu lama menangis dan mengantuk. Entah dimana Jane sekarang, sejak siang dia tidak ada di kamarnya. Ayah dan Scarlett sudah mencari ke setiap sudut kota, bahkan mereka sudah menelepon teman-teman Jane, namun tidak ada yang tahu.
Hari semakin gelap dan hujan semakin lebat. Ayah semakin frustasi dengan hilangnya anak semata wayangnya.
“Scarlett, sebaiknya kau pulang saja. Om khawatir, orang tuamu cemas.” Ayah duduk di depan Scarlett, matanya memandang Scarlett yang mengusap pipinya.
“Aku kan tinggal di panti, kalau om lupa.” Scarlett mengusap ingusnya yang keluar dengan sapu tangannya.
“Oh iya, Om lupa.” Ayah meringis pelan.
“Ini sudah jam sepuluh malam, lebih baik kau menginap di sini. Kau bisa tidur di kamar Jane.” Saat mengucapkan nama Jane, perasaan Ayah semakin tak menentu. Ada rasa khawatir, takut, dan kesal dalam waktu bersamaan.
Scarlett mengangguk pelan.
“Kau bisa ke kamar Jane sendiri kan?” tanya Ayah.
“Iya.”
Scarlett bangkit dari duduknya, dengan langkah lesu ia berjalan menuju kamar Jane yang berada tak jauh dari ruang tamu. Ayah menghela napas pelan, dia menyandarkan kepalanya ke kursi. Ayah menolehkan kepalanya ke arah jendela yang terbuka. Kemana sebenarnya Jane pergi?
°•°•°•°•°
__ADS_1
Di sebuah ruangan yang remang, hanya ada sebuah bohlam lampu kecil yang menerangi ruangan pengap itu. Tidak ada jendela, hanya ada satu pintu yang terkunci rapat. Dua orang itu terikat di kursi, mata mereka terpejam. Entah sudah berapa lama dua orang itu tertidur, atau pingsan?
Seseorang menyiram mereka dengan kasar. Jane terbatuk keras, paru-parunya terasa sangat sesak. Mata sembabnya terbuka lebar, dia memandang sekitar dengan takut. Seketika tubuhnya gemetar saat ia tahu, bahwa ia belum mati! Dan malah disekap di ruangan aneh ini. Matanya melirik ke samping, ia melihat Tomy yang masih terpejam. Wajahnya kotor dan lebam, perutnya berdarah.
“Hei, bangun tikus kecil.” Orang itu terkekeh geli.
Jane berusaha mengenali wajah itu, namun sulit karena ruangan ini terlalu gelap. Yang ia tahu, orang itu pria dewasa. Napas Jane memburu, dia merasa marah, takut, sekaligus terancam.
“Bagaimana keadaanmu? Baik? Hahaha tentu saja kau menderita karena aku pukul, benar?” Jane mengawasi orang itu dalam diam.
“Kenapa diam saja? Oh, kau bisu?” Orang itu kembali tertawa. Namun, tiba-tiba tawanya berhenti, tangan besarnya menjambak rambut Jane dengan kasar. Jane meringis perih, setetes cairan bening jatuh dari sudut matanya.
“A-apa?” jawab Jane sambil menahan perih.
Bukannya menjawab pria itu malah menendang kursi Tomy hingga jatuh.
“Kau boleh bertanya apa pun kepadaku, namun sebagai bayarannya aku akan memukulmu atau temanmu satu kali. Bagaimana?”
Jane terdiam, penawaran macam apa itu? Pria sinting ini akan tetap menghajarnya walaupun dia tidak bertanya apa pun. Ini tidak adil! Namun Jane juga penasaran mengapa pria ini menculik dia dan Tomy. Jane memejamkan matanya sejenak, dia menatap mata cokelat pria itu dengan bergetar.
“A-aku setuju.” Jane menjawab dengan gugup. Pria itu tertawa sambil melepaskan tangannya dari rambut Jane.
__ADS_1
“Oke, apa pertanyaan pertamamu?” Pria itu berdiri dengan tangan terlipat di depan dada.
“Kenapa kau menculikku dan Tomy?”
“Oh benar, kenapa aku menculikmu? Tentu saja karena aku dibayar, bukan begitu?”
“Apa maksudnya?” Jane mengerutkan dahinya tidak mengerti.
“Satu pukulan untuk satu pertanyaan.”
Pria itu mengambil botol kaca di sudut ruangan. Dengan keras dia melempar botol itu mengenai pelipis Tomy yang diam-diam berusaha melepaskan ikatannya. Seketika darah segar mengalir dari sana, Tomy meringis sakit. Melihat itu, Jane menjerit ngeri.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka paksa. Seorang lelaki berpakaian serba hitam muncul dari balik pintu. Lelaki itu berperawakan lebih tinggi dari lelaki satunya.
“Kau membuatnya sekarat, Jimmy. Cepat keluar dari sini, bos hanya menyuruh kita untuk menculik mereka. Belum saatnya untuk membunuh.” Ucapan lelaki itu sangat dingin, sorot mata tajamnya begitu datar. Jane memandang mereka dengan takut, saat ini ada dua pembunuh yang menculiknya.
“Ah, kau mengganggu kesenanganku, Andrew.” Jimmy menatap sekilas Jane, bibirnya menyunggingkan senyuman lebar yang menurut Jane sangat mengerikan.
Setelah Jimmy pergi, Andrew menatap Jane dengan sorot dingin. Sebelum akhirnya dia menutup dan mengunci pintu. Jane menatap Tomy yang mengenaskan. Air matanya kembali mengalir saat Tomy menatapnya sambil tersenyum kecil.
°•°•°•°•°•°
__ADS_1