
Scarlett melambaikan tangannya pada Jane yang baru saja menutup pintu mobilnya. Jane tersenyum kecil sambil menghampiri Scarlett yang tersenyum lebar.
“Kenapa kau tidak masuk ke dalam?” tanya Jane pada Scarlett yang merangkul pundaknya.
“Oh, aku sengaja menunggumu,” sahut Scarlett, matanya mengedip sebelah membuat Jane terkekeh kecil.
“Em, Jane?”
“Hm?”
“Aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu,” ucap Scarlett dia menatap Jane dari samping.
“Katakan saja.” Jane menjawab tidak peduli.
“Apa kau ... berpacaran dengan Tomy?”
Pertanyaan Scarlett langsung membuat Jane menghentikan langkahnya. Dia menatap Scarlett dengan kesal, heran, sekaligus geli. Sementara Scarlett masih menunggu jawaban Jane dengan cemas. Bahkan dia sampai menggigit kuku jarinya.
“Ayolah, apa kau bercanda? Kenapa kau menanyakan hal itu?” Jane memutar bola matanya malas. Dia kembali melanjutkan langkahnya, sontak hal itu langsung diikuti Scarlett.
“Aku serius Jane! Akhir-akhir ini kan kalian sangat dekat, bahkan kalian hampir setiap hari ini selalu bersama. Siapa sih yang tidak curiga?” ucap Scarlett kesal.
“Hei, aku tidak ‘dekat' dengan ‘Singa Bertindik’ itu! Dan kami tidak pacaran!” ucap Jane dengan gemas.
__ADS_1
“Oh, apa itu sebutan baru untukku?”
Tiba-tiba seorang berseragam dikeluarkan, rambut hitam acak-acakan, dan sebuah tindik di telinga kanannya datang. Dan perlu digaris bawahi, dia merangkul pundak Jane! Sontak Jane tertegun, dia melirik Scarlett yang sama-sama terlihat terkejut.
“Lihat, dia merangkulmu! Lalu apa jika kalian tidak pacaran?!” Scarlett memelototi Jane.
“Terserah sajalah,”ucap Jane, dia menghempaskan tangan Tomy yang berat dan berjalan meninggalkan Scarlett yang cemberut.
“Ini salahmu!” Scarlett menunjuk Tomy dengan telunjuknya, setelah itu dia berlari mengejar Jane yang menjauh.
“Kenapa aku yang disalahkan?”
°•°•°•°•°•
“Sepertinya aku mengacaukan acara berebut bakso kalian?” Tomy menaikkan satu alisnya.
“Tentu saja! Kau memang selalu mengganggu ketenanganku!” seru Scarlett kesal.
“Hm, sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu kepada Jane, tapi kalau begini nanti sajalah.”
Tomy berlalu pergi. Membuat Scarlett mengernyitkan dahinya heran, Jane pun berbuat sama.
“Dia pasti sudah gila," gumam Scarlett.
__ADS_1
Jane terdiam, dia baru saja terpikirkan sesuatu.
“Scarlett, apa Iru bunuh diri karena bullyan Tomy?” tanya Jane.
“Aku juga tidak tahu, Tomy hanya membully Iru saat kelas sepuluh. Bahkan saat itu pun dia tidak membully dengan keterlaluan. Dia hanya mengejeknya saja, dan meminta uangnya,” jawab Scarlett, dia sibuk memakan baksonya.
“Kalau begitu, kenapa Iru memilih bunuh diri?” tanya Jane.
“Itulah masalahnya. Iru sangat pintar, bahkan dia menjadi kesayangan guru, lumayan tampan walau lebih tampan Tomy ini menurut para gadis di sini. Bahkan Iru mempunyai keluarga yang menyayanginya, meskipun keluarga angkat,” jelas Scarlett, Jane memandanginya dengan heran.
“Dia ... bukan anak kandung?” tanya Jane.
“Kenapa kau bertanya begitu? Kau kan orang yang paling tahu seluk beluk kehidupan Iru.”
“Apa kau lupa? Aku kan hilang ingatan.” Jane berkata dengan malas, sedangkan Scarlett hanya cengengesan.
“Em ... apa kau tahu nama orang tuanya?” tanya Jane, dia berharap Scarlett tahu.
“Tentu saja! Siapa yang tidak kenal dengan donatur terbesar sekolah bobrok ini? Namanya Reina Denilson dan Reyhan Denilson. Kau tahu walaupun mempunyai orang tua kaya, Iru lebih memilih berjalan kaki. Katanya dia tidak mempunyai hak atas harta orang tuanya, aneh kan?”
Jane terkejut, apakah orang tua Iru adalah teman Ayah? Dia harus menanyakan hal ini kepada Ayah. Pasti ada hal yang tidak benar, kenapa Iru mengatakan dia tidak berhak atas harta orang tuanya? Bukankah itu sangat aneh?
°•°•°•°•°•°
__ADS_1