Delusion

Delusion
05


__ADS_3

Scarlett menatap heran Jane yang tampak sibuk dengan makan siangnya. Dia sangat penasaran, apa Jane benar-benar amnesia? Apa memang kecelakaan yang menimpa Jane separah itu? Scarlett menopang dagunya, ada berbagai pertanyaan yang memenuhi kepalanya. Termasuk sikap Jane yang berubah seratus delapan puluh derajat dari yang dulu.


“Jane, apa kau benar-benar amnesia?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Scarlett, membuat Jane menghentikan makannya, dan mengangkat alisnya.


“Apa yang kau bicarakan?” Jane membalasnya dengan pertanyaan tak mengerti.


“Itu ... kau benar-benar amnesia karena kecelakaan itu?” Mata Scarlett berbinar penasaran.


“Iya, begitulah.” Jane menjawab dengan tidak peduli.


“Berarti kau tidak ingat apa pun tentangku? Tentang Iru juga?” Scarlett semakin memberondongnya dengan pertanyaan, mau tidak mau Jane meletakan sendoknya.


“Tidak, dan aku juga tidak tahu berapa tanggal lahirku,” ucap Jane. “Tapi, aku penasaran dengan Iru, bisa kau ceritakan tentang dia?”


“Iru ya? Dia sahabatmu sejak kecil, dia termasuk jajaran anak pintar yang menjadi kesayangan guru, tapi entah kenapa dia selalu menjadi bahan bully anak-anak. Apalagi Tomy. Dia yang gencar membully Iru,” ucap Scarlett, di sana tersirat rasa sedih yang tak kentara.


“Bagaimana ciri-cirinya? Ya, kau tahu kan aku tidak ingat apa pun.”


“Menurutku dia lumayan manis, hidungnya lumayan mancung, bibirnya tipis, matanya berwarna hitam legam, dan kulitnya terlalu pucat. Itulah kenapa dia selalu menjadi bahan bully, dia juluki ‘Vampire Teladan'. Dan kau tahu? Jika mereka mengejek Iru dengan sebutan itu, kau orang pertama yang akan menghajar mereka!” Scarlett berkata dengan semangat empat lima.


Jane mengernyitkan dahinya, dia tak ingat apa pun. Tapi Jane merasa ada yang berbeda dengan perasaannya saat mendengar nama Iru.


“Apa kau mengingatnya Jane?” tanya Scarlett, dia berharap Jane akan mengingatnya


“Tidak.” Jane meringis pelan, dia menggaruk pipinya yang tidak gatal. Membuat Scarlett mendesah kecewa.


“Tapi ... sepertinya aku pernah melihat wajah itu, tapi dimana ya?”


“Hei Jane, jangan membuatku berharap dengan pernyataanmu yang barusan itu!” cetus Scarlett dengan sebal.

__ADS_1


“Tapi aku serius, aku seperti pernah melihat wajah Iru.”


“Mungkin Iru menghantuimu karena kau melupakannya.” Scarlett menyesap es tehnya.


Jane mengernyit. “Menghantui?”


Scarlett terpaku, dia lupa jika Jane hilang ingatan. Dan sudah pasti Jane melupakan hal itu. Scarlett menggigit sedotannya, Jane bertambah penasaran dengan sesuatu yang terjadi, namun sesuatu itu hilang dari otaknya.


“Scarlett, apa maksudmu dengan kata ‘menghantui'?” tanya Jane, dengan penekanan di akhir kalimat.


“Oke, kamu memang berhak tahu. Dan semua orang mengetahuinya, jadi aku tidak berhak untuk menutupi hal ini lagi. Jadi, Iru sudah meninggal sebelum kecelakaan menimpamu. Dia meninggal karena overdosis obat, setidaknya itu yang aku tahu.”


“Overdosis obat?” Jane berkata dengan nada tak percaya. “Bukannya dia anak teladan?”


“Ya, siapa yang menyangka? Anak teladan dan pintar sepertinya memilih untuk bunuh diri dengan memakan obat-obatan?”


“Bunuh diri?” Jane semakin tak percaya.


“Tapi, kenapa aku tidak percaya ya?”


“Kalimat itu juga yang kamu ucapkan dulu.” Scarlett memamerkan deretan giginya yang tampak rapi.


Jane terdiam, dia baru menyadari. Apakah Iru adalah lelaki yang dia lihat di mimpi?


°•°•°•°•°•°•°•


Sedangkan di meja sudut kantin, seorang lelaki menatap Jane dengan tatapan tak dapat diartikan. Sorot matanya bergetar. Apa itu benar-benar dia?


“Sikapnya sangat berubah, apa karena dia hilang ingatan?” tanya Sam, lelaki berpakaian berantakan itu mengetuk dagunya dengan telunjuk.

__ADS_1


“Sepertinya begitu, dia kelihatan lebih pendiam. Waktu pertama kali melihatnya berjalan di koridor, aku terkejut dia tak menatapku dengan sorot kebencian yang selalu dia tunjukan dulu.” Kevin menimpali, lelaki berambut cokelat itu mengacak pelan rambutnya.


Tomy tetap diam dengan tatapan lurus kepada Jane. Dia kembali memastikan apa itu benar-benar Jane? Orang yang selalu memarahinya jika dia menjahili Iru? Entah kenapa kali ini Tomy merasa sedikit senang dengan kembalinya gadis itu. Seolah harapan yang dulu pernah pupus kembali muncul.


“Iya, itu Jane Graciella.” Tomy bergumam pelan.


Dengan langkah pelan Tomy berjalan menjauhi mejanya, dia melangkahkan kakinya menuju meja Jane. Gadis itu tampak asyik mengobrol dengan Scarlett. Kevin dan Sam menatap punggung Tomy yang menjauh.


“Kira-kira apa yang akan dia lakukan?” tanya Sam penasaran.


“Kita lihat saja nanti,” sahut Kevin dengan rasa penasaran yang tak kalah besar.


Tomy menghentikan langkahnya tepat di samping Jane, merasa ada yang datang Jane menolehkan kepalanya ke samping. Dia heran siapa lelaki ini? Dan Jane bertambah heran saat semua orang yang ada di kantin menatapnya sambil berbisik-bisik. Jane melirik Scarlett yang memasang wajah kesal.


“Apa maumu, kucing?!” seru Scarlett dengan kesal.


“Aku tidak ada urusan denganmu,” ucap Tomy dengan dingin, matanya melirik Scarlett dengan tajam.


“Kau ... Jane?”


“Iya.” alis Jane terangkat satu, dia tidak kenal dengan lelaki berambut berantakan di depannya.


“Ada hal yang harus aku bicarakan denganmu, sebenarnya ini masalah lama.”


“Kau juga mau membullynya?” Scarlett berkata sebal.


“Aku akan menemuimu setelah ini.” Tomy menghiraukan celetukan Scarlett.


Tomy membungkukkan tubuhnya, dia menyejajarkan kepalanya di samping telinga Jane. Membuat Jane membelalakkan matanya, Scarlett menganga tak percaya.

__ADS_1


“Ini tentang Iru,” gumamnya pelan, seketika tubuh Jane terpaku.


°•°•°•°•°•°•°•


__ADS_2