Delusion

Delusion
03


__ADS_3

Dia menatap sekeliling. Gelap. Sunyi. Hanya ada kegelapan yang membelenggunya. Dalam ketidaktahuan dia berjalan di kegelapan tak berujung ini. Perlahan rasa dingin menusuk kulitnya, menyusup hingga membekukan tulang-tulangnya. Rasa ini, dia tak pernah merasakannya. Dimana dia? Kenapa gelap? Dalam rasa tak menentu tangannya meraba kegelapan itu. Sesuatu yang terasa seperti pipi itu begitu dingin, tangannya terangkat terkejut. Jantungnya berdebar cepat. Apa ada orang?


Tiba-tiba tempat itu berganti menjadi pemandangan sebuah ruangan. Ruangan sempit, pengap, dan kosong. Hanya ada satu ranjang di sana. Tempat itu begitu mirip dengan penjara, hanya saja jeruji besinya digantikan dengan pintu kayu yang terlihat begitu kokoh. Dia menatap sekeliling, seorang lelaki berkulit pucat menatapnya dengan tatapan kosong. Tubuh Jane bergetar saat lelaki itu berusaha menggapai dirinya. Jane ingin berlari keluar dari sana, namun tubuhnya malah terdiam kaku. Ada apa ini? Jantungnya semakin berdebar saat lelaki itu membelai wajahnya dengan tangan dinginnya.


“Pem ... bunuh.” Lelaki itu berkata serak. Tatapan matanya menajam, mata legamnya memancarkan kebencian yang kentara.


Jane berkeringat dingin. Dadanya terasa sesak tanpa dia mengerti. Ayo, pergi dari tempat ini! Cepat Jane! Otaknya menyuruhnya untuk segera angkat kaki dari tempat antah-berantah ini. Namun tubuhnya hanya terdiam kaku. Mata Jane terbelalak saat wajah lelaki itu hanya berjarak satu senti dari wajahnya. Mata legamnya terlihat begitu kosong, seolah binar kehidupan telah lenyap dari sana. Wajah datar itu terus berputar di kepala Jane. Membuat tubuhnya lemas, dia merasa tulangnya berubah menjadi agar-agar. Seketika tubuh Jane meluruh.


Dia jatuh pada sebuah lubang yang mengisapnya. Jane menjerit tertahan, ada apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi? Lorong tak berujung itu membawanya pada sebuah halaman rumah. Tubuhnya jatuh berbenturan dengan rumput, Jane berdiri tanpa diminta. Seolah tubuhnya sengaja digerakkan oleh seseorang. Kaki telanjangnya berjalan di atas rumput yang begitu lembut. Dia berhenti tepat di depan sebuah rumah pohon. Jane mendongak saat sebuah gumpalan kertas menghantam kepalanya.

__ADS_1


Dengan segera Jane mengambil gumpalan kertas itu. Namun sebelum dia membukanya, seorang anak lelaki melongok dari dalam rumah pohon itu. Wajah anak itu sangat mirip dengan yang berada di foto. Tiba-tiba anak kecil itu melompat dari atas pohon dan menimpa tubuh Jane. Seketika tubuhnya ambruk. Jane menjerit sakit, dadanya begitu sesak, keringat dingin membasahi tubuhnya. Anak lelaki itu menyeringai.


“Jane ... ayo kita menikah.” Anak lelaki itu berbisik lirih, mata Jane kembali terbelalak.


“JANE!”


“Ada apa? Apa kamu mimpi buruk?” Ayah langsung memberondonginya dengan beberapa pertanyaan, namun Jane tidak memperhatikannya. Pandangannya jatuh pada tangannya yang menggenggam sesuatu.


Jane menduduk tubuhnya, dia mengelap keringat dingin sebesar biji jagung di pelipisnya. Jane kembali mengingat mimpi mengerikan itu. Ayah mengambilkan segelas air dan langsung diminum habis oleh Jane.

__ADS_1


“Jane, sebenarnya kamu kenapa? Tadi Ayah melihat kamu tidak bernapas.” Jane tercenung, dia tidak bernapas?


“Aku, hanya mimpi buruk.” Jane berusaha tersenyum. Walaupun otaknya terus memutar wajah lelaki itu dan tidak dapat dipungkiri dia kembali merasa takut.


“Baiklah, kalau sudah merasa mendingan segera sarapan. Ayah sudah menyiapkannya di meja makan.” Ayah meninggalkan Jane yang masih duduk bersandar.


Matanya beralih menatap gumpalan kertas yang tergenggam di tangannya. Kenapa mimpinya terasa nyata? Dia bisa merasakan sakit dimimpi itu dan sekarang sebuah kertas berada di tangannya? Jane merasakan kepalanya ingin pecah, sejenak ia menghiraukan gumpalan kertas yang ia letakkan di atas nakas. Jane memilih untuk keluar dari kamar dan melupakan sejenak hal aneh yang terjadi.


°•°•°•°•°•°•°•°•°

__ADS_1


__ADS_2