Delusion

Delusion
16


__ADS_3

Jane menggenggam tangan Tomy dengan erat, tubuhnya sudah menggigil antara takut dan kedinginan. Tomy menatap Jane sekilas, dia balas menggenggam tangannya. Matanya kembali awas menatap ke sekeliling, bayangan hitam tadi sudah pergi entah kemana. Mereka kembali melanjutkan perjalanan mencari petunjuk.


Mereka melangkah dengan cepat. Entah kenapa makin lama mereka berjalan, cahaya matahari yang masuk semakin sedikit. Membuat keadaan sekitar tampak sedikit gelap.


Kretak


Bunyi seperti dahan kering yang terinjak di belakang mereka, sontak membuat Jane dan Tomy langsung membalikkan badan mereka. Mereka menatap nyalang sekitar. Rasanya seperti ada seseorang yang mengawasi.


“Jane, hitungan ketiga kita harus lari,” desis Tomy, matanya menatap tajam sekitarnya dengan waspada.


“Tapi ....”


“Satu.”


“Dua.”

__ADS_1


“TIGA, LARI!”


Tomy menggenggam tangan Jane dan membawanya berlari. Sekencang mungkin. Karena di belakang mereka seorang berpakaian serba hitam dengan wajah tertutupi masker tengah mengejar mereka sambil membawa pisau. Jane merasa jantungnya akan terlepas dari tempatnya. Keringat dinginnya bercucuran dengan deras. Napasnya terengah-engah. Kakinya terasa sangat berat, namun ia memaksakan untuk tetap berlari.


Semakin mereka berlari, semakin jauh mereka pergi ke dalam hutan. Pepohonan semakin rimbun dan cahaya matahari tak dapat masuk ke dalam hutan. Di tengah pelariannya, mereka berusaha menyelamatkan diri di tengah kegelapan. Tomy menolehkan kepalanya ke belakang. Orang misterius itu sudah tidak ada. Mata tajamnya menjelajah di antara kegelapan, samar-samar dia melihat sebuah pondok kayu yang tidak jauh di depannya.


Mereka berhenti di pondok kayu itu. Tomy mengintip dari lubang pintu, yang dia temukan hanyalah kekosongan. Akhirnya mereka memutuskan untuk masuk ke dalam. Jane mendudukkan tubuh lemahnya di lantai kayu itu, yang diikuti oleh Tomy. Dia berusaha menormalkan napasnya yang memburu.


“Kita tidak bisa pergi dari sini,” ucap Tomy sambil mengusap wajahnya kasar.


“Aku sudah berusaha menghubungi teman-temanku, tapi tidak ada sinyal. Kalau kita memaksakan pergi keluar, kita bisa mati karena pembunuh sialan itu.”


“Kenapa dia mengejar kita?” tanya Jane, dia heran sekaligus takut.


“Mungkin dia ingin kita tidak menyelidiki kasus kematian Iru?” ucap Tomy dengan gamang.

__ADS_1


Hening. Mereka tenggelam dengan pikiran mereka sendiri. Udara malam yang terasa dingin. Gelap. Di tengah hutan. Tersesat. Jane ingin sekali berteriak. Tapi itu malah yang akan mengundang pembunuh itu. Di antara keheningan malam, tiba-tiba pintu pondok ditendang dengan keras oleh seseorang. Tomy dan Jane berjengit terkejut. Dengan segera Tomy menyembunyikan tubuh Jane yang bergetar takut di balik tubuhnya. Matanya menatap tajam orang itu.


“Apa maumu?!” Tomy berteriak marah. Jemarinya mengepal hingga kukunya memutih.


“Melihat kalian mati!” Orang misterius itu tertawa keras.


Tiba-tiba dia menyerang Tomy dengan pisaunya, dengan sigap Tony menangkisnya dengan kepalan tangannya. Seketika darah segar mengalir dari sana. Jane memundurkan langkahnya ke pojok ruangan, dia memejamkan matanya takut. Orang itu kembali menghunuskan pisaunya ke arah Tomy, namun Tomy berhasil menghindar. Selama beberapa menit mereka melakukan perkelahian tidak seimbang itu. Hingga akhirnya mata pisau itu berhasil menusuk perut Tomy dengan dalam. Seketika darah segar mengalir dengan deras dari lukanya yang terbuka. Tubuh Tomy ambruk menahan sakit. Tangannya menekan luka itu agar pendarahannya bisa terhenti.


Merasa belum puas hanya dengan membuat Tomy tertusuk, orang itu kembali menghajar Tomy dengan tinjunya. Tomy mengerang sakit saat sekujur tubuhnya terasa nyeri. Dia merasa tulangnya remuk. Bibirnya pecah. Lebam di setiap tubuhnya sangat menyakitkan. Tomy sudah tak bisa lagi menggerakkan tubuhnya. Terakhir kali orang misterius itu menginjak perut Tomy yang terluka, membuat darahnya kembali merembes.


Di pojok ruangan, Jane membungkam mulutnya dengan kedua tangannya. Berusaha menahan tangis yang sudah dia tahan. Orang itu menatap Jane, dia tersenyum miring dibalik maskernya. Tubuh Jane semakin bergetar hebat saat orang itu mendekatinya. Dengan kasar dia menjambak rambutya hingga membuat kepalanya mendongak ke atas. Orang itu mendorong Jane hingga tubuhnya terjerembap ke lantai. Kepalanya membentur lantai dengan keras, hingga menimbulkan suara. Seketika rasa sakit menjalar di kepalanya. Jane merasa kepalanya sangat berat, matanya berkunang-kunang.


Saat orang itu akan menusuknya dengan pisau, Tomy berusaha menghalangi dengan menarik tangan orang itu. Namun, karena tenaganya yang lemah, dengan mudah orang itu langsung menendang tubuh Tomy hingga terpental. Orang itu memukuli dan menendang tubuh Jane. Sayup-sayup Jane mendengar orang itu tertawa dengan keras. Dan akhirnya kegelapan menjemputnya.


°•°•°•°•°•°•°•

__ADS_1


__ADS_2