
“Jane, bertahanlah!”
Seketika kelopak mata yang terpejam erat itu kembali terbuka. Di gelapnya dasar danau, dia berusaha melepaskan ikatan yang mengunci tangan mungilnya. Tetesan darah keluar dari tangannya yang terluka dan tercampur menjadi satu dengan air danau yang dingin. Rasa takut akan kematian itu kembali menghantui kepalanya. Di tengah rasa takut yang mendominasi, dia berusaha keras berjuang agar terlepas dari maut.
Lepas. Lepas. Lepas. Setelah beberapa lama akhirnya ikatan itu terurai, tangan mungilnya terlepas dengan luka yang menghiasi pergelangan tangannya. Satu ikatan lagi. Kakinya terasa begitu kaku. Ikatan di kakinya begitu kencang. Air mata perlahan keluar dari kelopak matanya, berbaur dengan air danau yang keruh. Dengan gemetar tangannya berusaha melepas ikatan itu. Dan berhasil!
Tangan dan kakinya bergerak menuju atas. Tangannya terasa sangat lemah, namun dia tetap menggerakkannya dengan paksa. Oh! Kakinya begitu kaku, sepertinya kakinya kram. Dengan bersusah payah dia berusaha berenang ke atas. Ayo, sedikit lagi. Cahaya di atas danau menyinari jalannya yang gelap. Satu, dua, tiga, dia berhasil mencapai permukaan danau.
Gadis itu menghirup udara dengan rakus, dia berusaha mencapai daratan. Dengan tubuh gemetar tangannya merangkak membawa tubuh letihnya ke bibir danau. Tubuh pucatnya limbung, dan terjatuh di atas tanah yang becek. Dia ... selamat?
"Kau belum selamat."
Sebuah suara menggema di temaramnya hutan yang tampak rimbun. Sesosok bertudung hitam keluar dari balik pohon. Gadis itu menyipitkan mata sayunya. Siapa? Sosok itu berjalan mendekati tubuhnya yang terbaring lemah, matanya menatap tajam gadis itu dari balik tudungnya.
“Kau memang nakal, seharusnya kau sudah mati di danau itu bersama temanmu!” Suaranya terdengar dingin dan mengintimidasi, membuat tubuh gadis itu terdiam kaku.
Sosok itu mengangkat tangan sepucat mayat dari balik jubahnya. Kukunya runcing dan berwarna hitam, tangannya sekurus tengkorak namun berlapis kulit pucat. Sebuah belati tergenggam dengan erat di jemarinya. Terlihat begitu tajam dan berbahaya. Dengan bersusah payah gadis itu berusaha bangkit dari tidurnya. Namun entah kenapa tubuhnya kaku dan tidak bisa digerakkan.
__ADS_1
Gadis itu menjerit ngeri, saat dia melihat tubuhnya yang membiru dengan banyak luka lebam dan sayatan menghiasi kulitnya. Tubuhnya juga terasa busuk! Darah hitam keluar dari luka sayatan di tubuhnya, perlahan luka itu berubah menjadi semakin busuk, hingga beberapa belatung keluar dari sana.
“Seharusnya kau sudah mati ... tapi kau tidak percaya. Ah, tidak perlu basa-basi. Aku akan segera membuatmu pergi ke akhirat.” Sosok itu tertawa keras, bahkan saking kerasnya gadis itu merasa gendang telinganya akan pecah. Tapi tiba-tiba tawa yang terdengar mengerikan itu terhenti.
Dari balik tudung hitamnya, sosok itu menyeringai lebar. Menampakkan gigi-giginya yang terlihat runcing dan mengerikan. Sosok itu membawa belatinya ke arah dada kiri gadis itu. Rasanya sangat menyakitkan, saat kau merasakan sebuah belati yang tajam itu menusuk dengan dalam ke kulit dadanya hingga menembus menusuk jantungnya. Jantungnya seakan ditarik paksa, sangat menyakitkan.
Perlahan darah merah keluar dari luka tusukan itu, tapi perlahan warnanya berubah menjadi merah kehitaman, dan akhirnya berubah menjadi hitam pekat. Gadis itu membelalakkan matanya saat tiba-tiba udara di sekitarnya semakin menipis, menipis, dan akhirnya hilang. Gadis itu terbatuk hingga darah keluar dari mulutnya. Jantungnya seperti bocor, rasanya dia tidak tahu lagi caranya bernapas.
Mata sayu itu semakin meredup, cahaya kehidupan seakan lenyap dari iris hazelnya. Sepertinya ini sudah berakhir. Dia mati untuk kedua kalinya. Dan ini ... sangat menyakitkan. Kelopak matanya terasa begitu berat, berat, sangat berat. Hingga akhirnya terpejam dengan rapat. Semua ... sudah berakhir*.
“Jane Graciella, meninggal karena ditusuk malaikat maut.” Sosok itu kembali tertawa dengan keras hingga tawanya mengisi kesunyian di rimbunnya hutan.
Sinar matahari menyusup dari jendela yang terbuka. Cahayanya yang hangat menyinari seseorang yang tergeletak di atas ranjang berwarna putih. Mata yang memancarkan keceriaan itu masih terpejam. Padahal ini sudah dua bulan berlalu, namun sepertinya orang itu masih ingin tinggal di alam mimpinya. Lihatlah, bahkan kulitnya sudah begitu pucat karena tidak pernah terkena cahaya matahari yang hangat.
Lelaki jangkung itu berjalan mendekati ranjang dengan sprei putih itu. Tangan besarnya menyentuh jemarinya yang dingin dan pucat dengan lembut. Perlahan sentuhan itu berubah menjadi genggaman tangan yang erat. Mata cokelat itu kian menyendu. Rasanya sudah tidak ada harapan. Namun dia tidak boleh putus asa. Putri tidurnya pasti akan bangun.
“Matahari sudah bangun dari tidurnya. Bangun sayang, kau akan melihat indahnya dunia. Lihat burung pipit menari di sangkarnya, bangunlah sayang kau akan mengetahui ada dua pelangi di angkasa.” Setiap hari, lelaki itu selalu menyanyikan lagu yang sama. Karena dia begitu yakin, kekasihnya akan segera kembali ke dunia nyata. Tapi ... kapan?
__ADS_1
Lelaki itu menjatuhkan kepalanya di atas tangan gadisnya. Dia memejamkan matanya yang terasa berat. Mungkin, dia memang harus tidur. Perlahan kesadarannya ditarik paksa.
Jarinya berkedut secara tiba-tiba. Dia berusaha menggerakkan tangannya yang berat, seperti tertindih sesuatu. Kelopak matanya mengerjap pelan, dia menyipitkan matanya karena cahaya matahari yang terasa menusuk. Apa ini surga? Matanya mengedar ke setiap penjuru, dan perhatiannya tertuju pada tubuhnya yang terpasang beberapa alat yang tidak ia ketahui.
“A-ayah.” Bayangan wajah seorang pria paruh baya menelusup ke dalam kepalanya. Entah kenapa dadanya terasa sesak saat satu kata itu meluncur dari bibirnya yang kering. Sebutir air mata menetes dari sudut matanya.
Lelaki itu mengernyitkan dahinya saat merasakan sesuatu menggeliat di bawah kepalanya. Dengan sedikit kesal lelaki itu mengangkat kepalanya. Matanya yang tadi setengah terpejam seketika langsung membelalak lebar. Rasa kesal yang tadi sempat mampir, sirna seketika. Astaga, apa ini mimpi? Gadisnya telah kembali? Mata itu telah terbuka lagi.
“Ja-jane, kau sudah sadar?” seru lelaki itu dengan girang. Tak dapat dipungkiri rasa bahagia membanjiri dadanya. Membuat perutnya melilit saat tiba-tiba segerombolan kupu-kupu beterbangan menggelitik perutnya.
“Tomy?” tanya gadis itu dengan lirih. Dia sangat ingat saat wajah Tomy yang merintih kesakitan saat dipukuli pembunuh itu.
“Kau mengingatku?” tanya Tomy dengan terkejut yang dibalas anggukan oleh Jane.
“Syukurlah, kukira karena kecelakaan mobil itu kau jadi amnesia.”
Jane membeku, kecelakaan mobil? Bukankah dia sudah dua kali mati. Pertama karena dia tenggelam di danau dan kedua karena dadanya ditusuk. Tapi Jane baru sadar, bagaimana caranya dia kembali hidup? Bahkan saat ini dia melihat Tomy yang terlihat berbeda.
__ADS_1
°•°•°•°•°•