Delusion

Delusion
10


__ADS_3

“Ke mana kau kemarin? Kenapa aku mencarimu di lapangan tidak ada?”


Scarlett yang berjalan di samping Jane memandangnya dengan curiga sekaligus kesal. Pasalnya setelah jam pelajaran Bu Riska selesai, Scarlett langsung berlari ke lapangan untuk memastikan keadaan Jane. Namun nyatanya saat ia sudah sampai di lapangan Jane tidak ada di sana. Bahkan sampai jam sekolah usai pun Jane tidak kembali datang. Mau tidak mau Scarlett harus pergi ke rumah Jane untuk mengembalikan tasnya.


“Aku pergi ke atap sekolah, lalu aku pergi jalan-jalan lewat gerbang belakang,” ucap Jane dengan cengiran kudanya.


“Astaga, untung saja Bu Riska tidak tahu,” gerutu Scarlett.


“Ngomong-ngomong terima kasih sudah mengantarkan tasku, untung saja kau meletakkannya di jendela kamar. Jadi tidak ketahuan Ayah deh.” Jane tersenyum lebar dan Scarlett hanya menyahutnya dengan gumaman.


“Oh iya Ja---"


Baru saja Scarlett ingin menanyakan sesuatu, sebuah tangan besar sudah membawa Jane pergi. Membuat Scarlett berdecak kesal saat melihat wajah orang itu. Sementara Jane masih terbengong-bengong saat tiba-tiba dirinya dibawa pergi.


“Hei, apa-apaan kau ini?!” Scarlett berseru kesal. Dia berusaha melepas cengkeraman tangan orang itu dari pergelangan tangan Jane namun sulit sekali.


“Aku ada urusan dengan dia,” ucapnya sambil melirik Jane sekilas.


“Tapi bisa nanti kan? Kita ingin pergi ke kantin!” sahut Scarlett dengan wajah memerah menahan marah.


“Bahkan ini lebih penting dari kantin.”


“Tomy, kau benar-benar menyebalkan! Lepaskan Jane, sana pergi dari sini!”


Bukannya mendengarkan perintah Scarlett, Tomy malah berjalan sambil menggandeng Jane yang hanya terdiam. Scarlett menghentakkan kakinya kesal. Dia berjalan sambil menggerutu.


“Dasar menyebalkan!”

__ADS_1


°•°•°•°•°•°•


Seakan tersadar dari tidurnya, Jane menarik tangan Tomy. Membuat Tomy menghentikan langkahnya. Tomy menaikkan sebelah alisnya, bertanya. Seolah mengetahui isyarat itu Jane langsung membuka suaranya.


“Oke, sebenarnya kita akan kemana?” tanya Jane.


“Perpus.”


Jane mengerutkan dahinya. “Mau apa? Kalau kau memintaku untuk mengajarimu tentang pelajaran, kau memilih orang yang salah.”


“Aku tidak berniat untuk belajar. Ikut saja kau akan tahu nanti.”


Tomy kembali menyeret Jane, membuatnya memutar bola matanya malas. Sesampainya di perpustakaan, Jane langsung disambut buku-buku yang berjajar rapi. Seketika matanya berbinar senang, dia mengedarkan pandangan. Sepi sekali. Jane berjengit kaget saat Tomy menariknya ke sudut ruangan. Mereka duduk berhadapan di kursi yang ada di sana.


“Hei, mau apa kau?” tanya Jane, tingkat kewaspadaannya meninggi saat melihat Tomy menyingkap baju seragamnya. Tangannya dengan refleks menutupi wajahnya.


“Lalu kenapa kau membuka bajumu?!”


“Aku tidak membuka bajuku. Pikiranmu saja yang mesum.”


Jane mengintip dari balik tangannya, dia menghela napas lega saat pakaian Tomy masih melekat di tubuhnya. Jane memelototi Tomy dengan kesal, dia tidak terima dibilang mesum!


“Oke Jane, aku ingin memberitahumu tentang ini.” Tomy meletakkan sebuah buku bersampul cokelat di atas meja, seketika Jane membelalakkan matanya.


“Astaga, dari mana kau menemukan buku ini?”


“Kau tahu buku ini?” tanya Tomy penasaran.

__ADS_1


“Tentu saja! Aku yang menemukannya di rumah pohon Tante Reina. Kenapa ada denganmu?”


“Aku tidak tahu. Tiba-tiba buku ini sudah di dalam kamarku,” ucap Tomy dengan heran. Jane tercenung, bagaimana mungkin buku itu berpindah sendiri?


“Ini aneh, padahal aku meletakkannya di dalam laci meja, dan aku juga menguncinya.”


“Aku sudah membaca isinya, dan entah kenapa isi buku ini mengarah kepadamu dan Iru.” Tomy menatap Jane dengan sorot serius.


Jane membuka sampulnya, dan mulai membaca tulisan yang berada di sana.


Untuk Jane


Hai Jane! Bagaimana kabarmu? Mungkin aku telah tiada saat kau membaca tulisan ini. Aku sudah lama sakit, tapi aku tidak mau memberitahunya kepadamu. Bukan, bukan sakit serius. Hahaha aku hanya bercanda. Mereka selalu memberiku obat, dan selalu memaksaku untuk meminumnya. Padahal aku tidak sakit. Aneh sekali kan? Dan yang lebih aneh lagi, aku selalu merasa sakit saat meminum obat itu. Sakit sekali Jane! Bahkan aku ingin sekali mati. Tapi aku takut ... aku sudah berjanji untuk menikahimu kan. Atau kau lupa aku pernah berkata begitu? Tapi aku meminta maaf denganmu, karena aku mengingkari janjiku.


Dari sahabatmu


Iru


Jane terdiam sejenak. Tiba-tiba kepalanya berputar, matanya terasa berat. Berat, sangat berat! Ada apa ini? Perutnya sangat mual. Suara itu kembali menggema di kepalanya.


“Jane, ayo kita menikah!”


“Ayo kita menikah!”


Jane merasa matanya semakin berat. Tubuhnya bergetar, napasnya terengah-engah, dadanya sangat sesak. Keringat dingin perlahan membasahi tubuhnya. Jane sudah tidak kuat lagi. Terakhir kali yang dia lihat, sepasang tangan besar menahan tubuhnya agar tidak roboh, dan wajah khawatir seseorang. Perlahan kegelapan mulai menariknya.


°•°•°•°•°•°•°•

__ADS_1


Tinggalkan jejak :)


__ADS_2