
Sepasang suami istri itu berjalan di sebuah lorong remang dengan diam. Raut wajah mereka begitu datar, hingga sulit ditebak. Matanya menatap awas ke setiap penjuru lorong. Langkah mereka terhenti di depan sebuah pintu berwarna hitam. Mereka saling berpandangan, sebuah senyum tipis tercetak di sana. Dengan mantap sang suami membuka pintu itu. Bibirnya menyunggingkan senyum lebar, kala melihat dua orang terikat di kursi dengan kepala ditutupi kain hitam.
“Buka penutup kepalanya,” perintah si suami kepada dua orang berpakaian serba hitam yang berdiri di samping kursi. Dua orang itu langsung melaksanakan perintahnya.
Jane terdiam, matanya menatap datar dan tajam suami istri di hadapannya. Sedangkan Tomy, dia sudah berontak di kursinya sejak tadi. Hingga pergelangan tangannya terluka. Rasanya ingin sekali ia membunuh semua orang itu.
“Apa kabar, Jane sayang? Apa mereka memperlakukanmu dengan baik?” ucap seorang wanita paruh baya yang terlihat cantik dengan balutan dress biru. Tangannya terlipat di depan dada dengan bibir yang menyunggingkan senyum manis yang memuakkan.
Jane meludah di depan sepasang suami istri itu, bibirnya tersenyum miring. Iris hazelnya memandang mereka dengan bengis.
“Tentu saja sangat baik, sangat baik sampai-sampai aku ingin membakar kalian hidup-hidup,” desis Jane dengan sarkas. Sepasang suami istri itu tertawa geli.
“Kau sangat tidak sopan, sayang. Oh, aku ingin bertanya padamu. Apa aku pantas menggunakan dress ini?” Wanita itu mengusap bajunya dengan pelan.
“Ya, kau terlihat cantik Reina.” Jane berucap dengan malas.
“Kau memang pintar memuji orang lain.” Reina tertawa pelan.
__ADS_1
Matanya beralih menatap Tomy yang sejak tadi sudah memancarkan aura kemarahan. Tomy tak menyangka jika donatur di sekolahnya itu yang menculiknya dan Jane. Ingin sekali Tomy mencabik-cabik wajah busuk mereka.
“Kau punya pacar yang tampan, Jane. Bahkan dia lebih tampan dari Iru."
“Sayang, sepertinya kita terlalu lama berbasa-basi. Bagaimana jika kita langsung beritahu kenyataan terindah kepada mereka?” Reyhan melingkarkan tangannya di pinggang ramping istrinya.
“Baiklah.” Reina menjawab dengan malas.
“Oke Jane, apa kau siap mendengarkan dongengku? Karena aku akan menceritakan sebuah dongeng kepadamu. Dongeng yang begitu panjang dan sangat memuakkan, aku harap ini cukup menjelaskan semua yang terjadi. Jadi, sebelum kau mati aku akan membongkar semuanya kepadamu. Tentang Iru, tentang kalian yang aku culik, dan aku siksa di sini.”
°•°•°•°•°•
“Ian, mana permenku?” Isabelle mengulurkan tangannya, meminta sebuah permen kepada Damian yang asyik dengan ponselnya. Padahal dari tadi Damian yang memintanya untuk pergi ke taman, tapi dia malah sibuk sendiri.
“Kau berbohong, katanya kau akan memberiku permen jika aku menemanimu jalan-jalan!” bibirnya mengerucut lucu. Damian meliriknya, dia hanya tersenyum tipis.
“Sejak kapan aku berkata begitu?” Damian mengusap dagunya dengan jari telunjuk dan ibu jarinya.
__ADS_1
“Eh, bukankah kau tadi berkata begitu ya?” Isabelle menatapnya dengan mata besarnya yang berbinar diterpa cahaya mentari sore.
Damian terkekeh geli melihat wajah Isabelle yang menggemaskan. Dia mencubit pelan pipi chuby kekasihnya hingga mengaduh sakit. Sikap polosnya itu yang selalu membuat Damian tersenyum. Entahlah, Damian baru merasakan perasaan ini.
“Nanti akan aku belikan stoples besar.”
“Benar ya? Awas saja kalau berbohong.”
“Apa aku terlihat seperti pembohong?” Damian menaikkan satu alisnya. Isabelle terdiam sejenak dengan dahi berkerut, dia sedang berpikir.
Sekali lagi Damian tertawa kecil. Dia mengapit leher Isabelle dengan lengannya, membuat Isabelle menggerutu sambil berusaha melepaskan diri.
Tanpa mereka sadari di balik sebuah pohon yang rindang, seorang perempuan menghapus air matanya yang kembali mengalir. Dia memukul pohon di depannya dengan kepalan tangannya.
“Kau merebut tunanganku,” ucap perempuan itu. Matanya menatap Isabelle dengan sorot kebencian. Tangannya kembali memukul batang pohon hingga tanpa dia sadari darah mengalir dari lukanya yang terbuka.
“Kau lebih pantas mati, Isabelle*!”
__ADS_1
°•°•°•°•°•°*