
Jane kembali menutup laptopnya. Dia menghela napas lelah. Amnesianya ini sangat merepotkan, dia jadi tidak bisa melanjutkan cerita yang dulu pernah ditulisnya. Ah, menyebalkan memang. Jane mengusap perutnya, hujan-hujan begini memang sangat enak kalau makan mie instan. Apalagi kalau pedas, pasti sangat enak! Membayangkannya saja membuat liur Jane menetes.
Dengan setengah bersemangat Jane bangkit dari duduknya. Namun, Jane membelalakkan matanya saat tak sengaja ia melihat ke arah jendela kamarnya. Kenapa pemandangan halaman rumah yang basah karena hujan digantikan dengan punggung seorang lelaki?! Iya, seorang lelaki!
Jane berjengit kaget. Dia mengedarkan pandangan, berusaha mencari sesuatu yang bisa menghajar lelaki yang berani duduk di jendela kamarnya. Dia menatap laptopnya, Jane menggelengkan kepalanya. Tidak, tidak, tidak! Jangan laptop kesayangannya! Pandangannya beralih ke kursi, itu juga terlalu berat! Dan akhirnya Jane memilih untuk mengambil bantal guling.
Dia berjalan mengendap ke arah lelaki itu, lalu Jane mengangkat bantal gulingnya hingga di atas kepala, bersiap untuk memukul lelaki yang berani duduk di jendelanya. Namun belum sempat Jane memukulkan bantal gulingnya, lelaki itu sudah berbalik dan menatap Jane dengan alis terangkat satu.
“Hei cebol, apa yang kau lakukan?” Lelaki itu menggeser tubuh Jane ke samping. Sedangkan Jane, dia masih terpaku dengan bantal guling yang masih terangkat di atas kepalanya.
Lelaki itu berjalan memutari kamar dengan menatap sekeliling kamar Jane tanpa minat. Jane mengedipkan matanya beberapa kali. Tadi lelaki itu memanggilnya cebol? Apa cebol?! Dengan geram Jane berbalik dan berlari menghampiri lelaki yang sedang membolak-balik buku hariannya dengan bosan. Jane langsung memukuli lelaki itu dengan gemas.
“Apa? Tadi kamu memanggilku cebol?! Dasar lelaki tidak sopan!” Jane berseru dengan marah, tangannya masih sibuk memukuli lelaki itu tanpa ampun.
“Hei, apa-apaan kau ini, Itu memang fakta! Kau pendek, cebol! Dan jangan memanggilku lelaki tidak sopan!” Lelaki itu berlari menjauh dari Jane. Dia berguling masuk ke dalam kolong tempat tidur Jane. Sungguh, gadis pendek itu sangat menyeramkan!
“Kemari kau, tidak sopan!” Jane berusaha menggapai tubuh lelaki itu dengan tangan pendeknya.
“Astaga, berhenti memanggilku tidak sopan! Oke, aku akan keluar dari kolong tempat tidurmu yang penuh debu ini!” seru lelaki itu dengan wajah pasrah.
Lelaki itu berguling keluar dari kolong tidur Jane. Dia membersihkan pakaiannya yang kotor terkena debu. Jane menatap lelaki itu dengan pandangan kesal sekaligus menyelidik. Lelaki jangkung di hadapannya balas menatap Jane dengan polos.
__ADS_1
“Oke, cebol. Jangan memandangku seperti itu! Aku ini lelaki baik-baik, kau bisa melihatnya dengan wajah tampanku ini,” ucap lelaki jangkung itu dengan rasa percaya diri sangat tinggi.
“Cih, lelaki tidak sopan sepertimu itu tidak pantas disebut lelaki baik-baik!” Jane berdecih pelan. Lelaki di hadapannya langsung memelototi Jane. Apa, Jane berkata dirinya adalah lelaki tidak sopan? Yang benar saja!
“Hei, aku ini lelaki tampan. Banyak yang tergila-gila padaku, ya walaupun itu dulu.” Dengan santainya lelaki itu duduk di ranjang Jane, yang membuat Jane semakin melotot garang.
Astaga, lelaki berpakaian serba putih itu sangat kotor dengan banyak noda lumpur yang menghiasi pakaiannya, ditambah lagi pakaiannya itu basah. Lihatlah kakinya, lelaki itu tidak memakai alas kaki. Membuat kakinya dipenuhi lumpur dan dia duduk di ranjang Jane! Wajah Jane memerah, ingin sekali dia menghajar lelaki itu dengan bogeman mentahnya.
“Hei, kau habis bermain hujan-hujanan, dan langsung duduk di ranjangku?!” Jane menunjuk lelaki itu dengan jari telunjuknya sambil melotot marah.
“Memangnya kenapa?” ujar lelaki itu dengan wajah tanpa dosa.
“Kau mengotori ranjang cantikku!” teriak Jane dengan marah.
“Apa maumu?! Kenapa kau berada di jendela kamarku? Kau sedang diusir dari rumah orang tuamu, karena menyebabkan kekacauan?” Jane bertanya dengan tangan terlipat di depan dada. Dia sudah tak memikirkan ranjangnya yang kotor dengan noda lumpur.
“Aku ini lelaki baik-baik! Lagi pula aku bosan duduk di tempat gelap itu! Sangat tidak nyaman, kasurnya saja dari tanah,” ucap lelaki itu dengan santai. Jane mengerutkan dahinya tidak paham.
“Aku tidak mengerti apa maksudmu, lelaki aneh! Cepat pergi dari kamarku atau aku akan berteriak memanggil ayahku!” Jane menarik tangan lelaki itu yang terasa sangat dingin.
“Teriak saja, ayahmu itu kalau sedang tidur susah untuk dibangunkan. Walau terjadi gempa dia tetap mengorok.” Lelaki itu berbaring nyaman di ranjang Jane. Jane semakin tak paham dengan lelaki itu, bagaimana dia bisa tahu?
__ADS_1
“Dari mana ya aku tahu ayahmu sedang tidur?” lelaki itu terkekeh geli saat melihat wajah pias Jane. Astaga, bagaimana dia tahu apa yang dipikirkan oleh Jane?
“Hei pucat! Cepat pergi dari kamarku! Aku tidak sudi melihat tubuhmu tidur di ranjangku!” Jane berusaha menyembunyikan rasa takut yang mendatangi hatinya. Dia berkata sambil berkacak pinggang, seolah menantang lelaki itu.
“Oh, aku sangat mengantuk,” racau lelaki itu sambil mendekap guling Jane dengan penuh sayang. Seakan guling itu adalah seseorang yang sangat lelaki itu rindukan.
Jane memutar bola matanya malas, dengan sekuat tenaga dia berusaha menarik kaki lelaki itu yang anehnya sangat dingin. Jane menghela napas pelan, dia mencoba sekali lagi untuk menarik kaki lelaki itu namun tak berhasil juga. Berat sekali lelaki ini!
“Oke, Jane. Aku akan pergi dari kamarmu ini. Tapi sebelumnya aku akan mengatakan sebuah rahasia yang akan membuatmu terkejut.” Lelaki itu bangkit dari tidurnya, dia menatap Jane dengan sorot serius, namun bibirnya tersenyum dingin. Melihat itu, Jane meneguk ludahnya takut.
“Apa kau siap mendengarnya, Jane?” Lelaki itu berjalan menuju jendela kamar Jane, lalu dengan sekali lompatan dia sudah berada di luar kamar Jane.
“A-apa?” ucap Jane dengan gugup.
"Besok saja ya kuberitahu.” Lelaki itu tertawa geli saat mendapati raut wajah Jane yang berganti menjadi datar dan memerah menahan marah.
“Sampai jumpa lagi, Jane sayang.” Lelaki itu terkekeh pelan sambil melambaikan tangannya kepada Jane yang menggeram kesal.
Lelaki itu berlari menerobos derasnya hujan dan menghilang di balik pepohonan.
Jane terdiam beberapa saat dan dia baru sadar, dari mana lelaki itu mengetahui namanya?
__ADS_1
°○°○°○°○°○°○°○°○°○