
Di mana dia? Dengan sekuat tenaga dia berusaha membuka kelopak matanya yang berat, dengan sekuat tenaga dia berusaha berdiri dari tidurnya. Matanya menatap nyalang ruangan yang tampak gelap, pengap, dan lembab ini. Baunya sangat busuk. Tempat apa ini? Gadis itu mengedarkan matanya ke segala arah, dia mencari-cari suara seseorang yang terdengar merintih kesakitan.
“To-tolong.” Suara itu begitu lirih.
Jane menatap ke pojok ruangan, di sana dia melihat seorang lelaki berbaju putih yang menundukkan kepalanya tengah merintih kesakitan sambil memegangi dadanya. Jane terpaku sejenak, dengan langkah bergetar dia mendekati lelaki itu. Tangannya berusaha menyentuh rambut lelaki itu, tiba-tiba lelaki itu mendongakkan kepalanya. Membuat tangan Jane menggantung di udara.
“Jane ... ka-kau cantik.” Lelaki itu tersenyum tipis, Jane terdiam kaku.
Lelaki itu terbatuk keras, napasnya terengah-engah. Tangan gemetarnya meremas dadanya dengan keras. Tiba-tiba darah segar keluar dari mulut dan hidungnya. Tubuh gemetarnya tergeletak tak berdaya. Tangan lelaki itu teracung ke udara, meminta agar Jane menggapainya.
Namun Jane terlalu takut. Tubuhnya gemetar dan ambruk. Tetesan air mata membanjiri pipinya seketika. Ada apa ini? Di mana? Jane harus menemukan jalan keluar. Tapi di mana? Tidak ada? Jane menjerit keras. Rasanya tubuhnya menjadi ringan, seolah nyawanya terlepas dari raganya. Air matanya tak henti-hentinya mengalir. Kepalanya kembali berputar, matanya sangat berat. Perlahan matanya terpejam.
“Jane,” ucap lelaki dengan tindik di telinga kamarnya.
Tangannya tak henti-henti menggosok tangan Jane. Berusaha menyalurkan rasa hangat kepada tangan Jane yang sedingin es. Mata tajamnya terlihat khawatir, dia memandangi wajah perempuan yang begitu pucat itu dengan cemas.
__ADS_1
Tiba-tiba pintu UKS terbuka keras, seorang gadis berkuncir kuda berlari kecil mendekati Jane yang tampak lelap dalam tidurnya. Scarlett mengusap air matanya yang entah ke berapa kalinya mengalir.
“Dia kenapa?” tanya Scarlett dengan suara serak. Matanya menatap Tomy dengan tajam.
“Tiba-tiba pingsan, aku juga tidak tahu.” Tomy menggosok tangannya dengan tangan Jane.
“Pasti dia belum sarapan. Aku akan membelikannya roti, dan kau berikan dia minyak kayu putih di hidungnya agar dia cepat sadar.” Scarlett berjalan keluar UKS.
Tomy terdiam, kenapa dia tidak melakukan itu dari tadi? Astaga, bodoh sekali! Dengan cekatan Tomy mengambil minyak kayu putih yang berada di kotak obat dan menaruhnya di dekat hidung Jane. Mata Jane mengerjap pelan, dia membuka matanya, dan langsung menatap Tomy yang melihatnya cemas.
Jane memegang kepalanya yang terasa pusing. Dia berusaha duduk, namun Tomy menahannya.
“Apa yang terjadi?” tanya Jane, dia meringis kecil saat kepalanya kembali berkedut nyeri.
“Entahlah, namun setelah kau membaca buku itu kau langsung pingsan,” jelas Tomy, dia masih menggenggam tangan mungil Jane yang perlahan menghangat.
__ADS_1
Pintu kembali terbuka, menampilkan Scarlett yang membawa roti dan air mineral di tangannya. Seketika dia berlari menghampiri Jane yang tersenyum kecil ke arahnya. Scarlett memeluk tubuh Jane yang masih terbaring, dia langsung menangis kencang di sana. Jane terkekeh pelan, Tomy menahan senyum gelinya.
“Jane, aku merindukanmu,” celetuk Scarlett di tengah tangisannya.
“Scarlett, aku bahkan baru pingsan beberapa menit.” Jane mengusap punggung Scarlett pelan.
Scarlett melepaskan pelukannya, dia menatap Jane sambil cemberut. “Jane, kau sudah pingsan selama satu jam!”
“Oh, benarkah?” tanya Jane dengan wajah polos.
“Ayo, kau harus makan dulu. Aku yakin tadi pagi kau pasti mengelabuhi Ayahmu agar tidak sarapan.”
“Wah, kau cenayang hebat.”
“Itu kebiasaan burukmu!”
__ADS_1
Diam-diam Tomy berjalan meninggalkan ruangan. Dia membiarkan dua sahabat itu larut dalam candaan mereka. Tomy yakin kematian Iru bukan kematian biasa. Ada hal yang janggal di sini. Kemudian dia memilih untuk tidak masuk ke dalam kelas, dan melangkahkan kakinya menuju rooftop. Karena di sana Sam dan Kevin sudah menunggunya.
°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•°•