
Seorang pria bertubuh kekar dengan wajah tertutup tudung jaket hitam berjalan mengendap-endap ke dalam sebuah rumah. Sepertinya penghuni rumah itu sudah tertidur pulas, hingga tak menyadari kehadiran seorang pria yang membawa sebuah kapak di tangan kanannya. Pria itu berjalan di gelapnya rumah dengan tenang, seolah dirinya hanyalah angin yang berlalu.
Pria itu berjalan pelan menaiki anak tangga menuju lantai atas. Bibirnya bersiul pelan, tangan kirinya mengusap lembut kapaknya. Dengan sangat hati-hati pria itu memutar kenop pintu, dan simsalabim pintu terbuka dengan mudah. Sepertinya tuan rumah terlalu mengantuk sehingga lupa untuk mengunci pintu kamarnya sendiri.
Pria itu melangkah masuk ke dalam kamar, jari telunjuk berselimut sarung tangan itu menekan sakelar lampu. Seketika kamar yang tadinya gelap menjadi terang.
“Oh, betapa romantisnya sepasang suami istri ini. Sayangnya hari ini nyawanya akan melayang menemui malaikat maut.” Bibir hitamnya terkekeh geli, mata tajamnya menatap dua orang yang tengah tertidur di atas ranjang.
“Ayah, bangun. Aku sudah tidak sabar untuk membunuhmu.” Pria itu tergelak keras, membuat dua orang yang sedang tidur itu langsung bangun dari mimpi indah mereka.
“Siapa kau? Beraninya kau masuk ke dalam kamarku!” teriak sang suami dengan marah, sedangkan istrinya tampak meringkuk ketakutan di sebelahnya.
“Ayolah, Damian. Kenapa kau begitu marah? Aku hanya berkunjung,” celetuk pria misterius itu, dia mendudukkan pantatnya di atas meja.
“Siapa kau?” tanya Damian dengan geram. Seketika dia dan istrinya langsung berdiri dari ranjang mereka.
“Aku? Apa kau lupa dengan wajah tampan ini?” Pria itu melepas tudung jaketnya, seketika Damian dan istrinya terbelalak melihat wajah pria itu.
“Ka-kau? Kenapa?” Damian terpaku tak percaya.
__ADS_1
“Apa? Aku ke sini hanya ingin mengambil sesuatu yang seharusnya memang menjadi milikku,” ujar pria itu, bibirnya mengerucut sebal. Namun matanya menatap Damian dengan sorot tajam dan murka.
“Apa maksudmu? Aku tidak pernah mengambil apa pun darimu! Sekarang, pergi dari rumahku keparat!” Damian berteriak marah.
Dia menyuruh istrinya untuk keluar dari kamar lewat isyarat mata, namun pria itu juga mengetahui maksudnya. Dengan santai namun bertenaga, pria itu melemparkan kapaknya ke arah kepala wanita itu. Seketika mata kapak yang tajam menembus kepalanya. Tubuhnya ambruk dengan kapak masih melekat di kepalanya dan matanya terbuka lebar. Damian berteriak histeris.
“Isabelle!”
Pria itu tertawa lebar saat lemparannya tepat sasaran. Damian menghampiri istrinya yang meregang nyawa. Dia menangis sambil memeluk istrinya yang telah pergi. Damian berteriak marah, dia mengambil sebuah pistol yang berada di laci nakasnya. Dia menembakkan pistolnya ke arah pria itu dengan membabi buta.
“MATI KAU BRENGSEK!”
Dor
Dor
“Sialan.”
Pria itu merogoh kantong jaketnya, dan meraih pistolnya.
__ADS_1
Dor
Damian menatap pria itu dengan nanar. Matanya terbelalak, Damian meraba dada kirinya yang tertembak. Darah merembes keluar dari sana, tubuh Damian ambruk seketika. Mulutnya menyemburkan darah segar. Napasnya terasa sesak.
“Ka-kau.”
“Belum mati juga ya?”
Pria itu menginjak punggung tangan Damian, dia mengarahkan moncong pistolnya ke arah kepala Damian.
Dor
“Sampai jumpa kawan, di neraka.” Pria itu tersenyum lebar.
Di depan pintu kamar, seorang anak lelaki menatap datar pria di depannya. Matanya beralih menatap mayat orang tuanya yang terbunuh mengenaskan. Merasa ada orang lain yang datang, pria itu melihat ke pintu kamar. Dia menatap anak lelaki di hadapannya sambil tersenyum. Pistolnya teracung ke arah anak lelaki itu.
“Kau selanjutnya.”
Dor
__ADS_1
°•°•°•°•°•°•