Delusion

Delusion
07


__ADS_3

Dia tersentak saat sebuah tangan dingin menggenggam tangan mungilnya dengan lembut. Rasa dingin itu menjalar dengan perlahan ke setiap pembuluh darahnya. Dia menatap ke depan, sebuah punggung yang terlihat kokoh melindunginya dari panasnya sinar matahari yang menusuk. Gadis itu mengedarkan pandangannya. Ada di mana ini? Kenapa dia berada di tempat ini?


Matanya terlihat takut, ingin sekali dia menghempaskan tangan yang membawanya pergi, namun lagi-lagi tubuhnya tidak bisa digerakkan.


Lelaki itu membawanya ke sebuah tempat asing. Matanya hanya bisa menatap deretan pohon pinus yang menjulang tinggi. Perlahan rasa dingin menusuk kulitnya. Rasanya dia pernah ke tempat ini, tapi kapan? Tanpa aba-aba lelaki itu menghentikan langkahnya, dan lagi tubuh gadis itu berhenti tanpa dikomando.


Gadis itu mendongakkan kepalanya, matanya terpaku melihat sepasang iris legam yang tampak bersinar karena pantulan cahaya matahari. Seketika kedua sudut bibir gadis itu terangkat ke atas, membentuk sebuah lengkungan bulan sabit yang tampak indah. Matanya beralih menatap air danau yang tenang, airnya tampak berkilau jernih. Gadis itu berjalan mendekati air danau, dia berjongkok agar bisa menyentuh air jernih yang terasa dingin.


Lelaki itu tersenyum miring, dengan langkah pelan dia berjalan di belakang punggung mungil gadis itu.


“Jane, coba kamu lihat sesuatu di ujung danau itu.” Telunjuknya menunjuk ke rimbunan pohon. Jane berdiri, dia mengikuti arah telunjuknya, namun tak ada sesuatu yang ganjil.


“Aku akan mati di sana.” Tiba-tiba lelaki itu tertawa terbahak-bahak. Dia menatap Jane dengan sorot aneh, Jane melangkah mundur, tubuhnya bergetar.

__ADS_1


“Kau takut?” Lelaki itu melangkah maju, Jane kembali mundur hingga kepalanya menoleh ke belakang, sudah tak ada lagi tempat. Di belakangnya hanya ada danau yang terlihat dalam.


Lelaki itu menyeringai lebar, Jane terpaku. Membuatnya sulit untuk membuka suara, lidahnya mendadak kelu. Ingin sekali dia berlari dari lelaki itu, namun tubuhnya hanya terdiam kaku seperti manekin yang terpajang di toko baju. Kedua tangan dingin itu mendorong tubuh Jane hingga terpental ke belakang. Jane membelalak kaget, matanya terbuka menatap mata lelaki itu yang kosong. Jane ingin menjerit, namun suaranya tertahan di kerongkongan.


Lelaki itu mengeluarkan suara tawa menggelegar, suara mengerikan itu terus terpantul-pantul di kepala Jane. Sebelum benar-benar terjatuh ke dalam danau, Jane mendengar suara lembut yang terasa familiar. Namun tersirat penderitaan di sana.


“Tolong ... aku.” Perlahan cairan merah keluar dari lubang mata lelaki itu.


Tubuh Jane terjatuh ke dalam dinginnya air danau. Tubuhnya tenggelam tanpa sedikit pun usahanya untuk bergerak naik. Seolah tubuhnya begitu berat dan kaku. Jane merasa paru-parunya terisi penuh oleh air. Dia berusaha menggerakkan kakinya, berharap tubuhnya bergerak naik. Namun air danau malah semakin banyak yang masuk melalui mulut dan hidungnya. Napasnya menjadi sesak, Jane membiarkan tubuhnya semakin tenggelam. Mungkin sudah takdirnya mati seperti ini.


Dia menegakkan tubuhnya, hidungnya menghirup udara sekitar dengan rakus. Apa yang terjadi? Apa dia sudah mati? Keringat terlihat membasahi tubuhnya, hingga membuat bajunya terasa basah. Sebuah sentuhan lembut mendarat di punggung tangannya.


“Jane, kau mimpi buruk?” Suara itu terdengar pelan.

__ADS_1


Jane menolehkan kepalanya ke samping, dia mendapati Scarlett yang memasang wajah khawatir. Jane menggelengkan kepalanya pelan.


“Jane Graciella, saya tidak menyuruh kamu untuk tidur di jam pelajaran saya!” Sebuah suara berkata dengan menggelegar.


Jane memandang ke depan, Bu Laras menatapnya dengan tajam sekaligus kesal. Di sampingnya Scarlett menggenggam tangannya yang berada di atas paha.


“Maaf.” Ucap Jane sambil menunduk.


“Keluar dari kelas saya dan berdiri di depan tiang bendera hingga jam pelajaran saya selesai!”


Jane berdiri dan melangkahkan kakinya keluar kelas. Seluruh pasang mata di dalam kelas memandang kepergiannya dengan berbagai pandangan. Tanpa sengaja Jane melirik ke sudut belakang kelas, tubuhnya terasa membeku saat seorang lelaki berpakaian putih duduk di meja yang sudah tak terpakai.


°•°•°•°•°•

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak :)


__ADS_2