Delusion

Delusion
24


__ADS_3

Gadis itu menatap langit yang terlihat cerah. Matanya terpejam saat sinar matahari itu menyusup lewat jendela dan menyinari wajah pucatnya, dia sungguh menikmati cahaya matahari yang begitu hangat. Matanya terbuka paksa saat sebuah memori itu muncul di kepalanya. Hatinya ... menolak percaya pada kenyataan yang tidak pernah ia duga. Apa dia masih bermimpi? Bahkan dia tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada dirinya. Dia lelah, namun otaknya terus memaksa agar dia terus berpikir.


Kepalanya masih terasa berat, namun dia tidak ingin berlama-lama menetap di rumah sakit yang membosankan ini. Gadis itu mencengkeram tembok pembatas dengan erat kala pandangannya berkunang-kunang, tubuhnya terasa gemetar, dan kakinya terasa lunak. Gadis itu berusaha berjalan dengan tertatih ke arah ranjangnya, tapi tubuhnya ambruk dengan sendirinya. Gadis itu meringis pelan saat tubuhnya menghantam lantai dengan cukup keras. Dia berusaha untuk bangun dengan kedua tangannya sebagai penopang. Namun lagi-lagi tubuhnya terjatuh.


“Jane, kenapa bisa begini?”


Seseorang mengangkat tubuh ringkihnya dengan tangannya yang kokoh. Jane mendongakkan kepalanya, dia melihat wajah Tomy yang khawatir.


“Aku ingin pulang.” Jane berkata dengan lirih.


Tomy membaringkan tubuh Jane di atas ranjang rumah sakit. “Iya, kita akan pulang nanti.”

__ADS_1


“Kenapa tidak sekarang?” tanya Jane dengan nada bosan sekaligus kesal.


“Aku akan menebus obatmu dulu,” ujar Tomy, tangannya mengusap kepala Jane pelan. Setelah itu Tomy langsung pergi dari hadapan Jane, membuat gadis itu menghembuskan napas pelan.


°•°•°•°•°•


Jane mengusap pelan batu nisan yang menuliskan nama seseorang itu. Matanya menatap gundukan tanah di hadapannya dengan perasaan tak menentu. Entahlah, Jane merasa dadanya begitu sesak namun dia tidak bisa mengeluarkan air mata. Jane hanya diam sambil mengusap tanah kuburan yang tertutupi rumput hijau yang terasa lembut.


“Kenapa kau bertanya seperti itu?” Tomy mengernyitkan dahinya bingung.


“Padahal aku baru saja bermimpi, kalau Ayah sedang menungguku pulang ke rumah.” Jane tersenyum miris dengan kepala menunduk.

__ADS_1


Tomy menarik dagu Jane dengan telunjuknya, membuat wajah Jane mendongak. Tomy menatap lembut iris hazel itu, Jane mengerjapkan matanya sekali. Astaga, Tomy sangat merindukan wajah polos di hadapannya. Ah, melihat wajah itu saja sudah membuat bibirnya tertarik ke atas.


“Kau tahu? Saat Ayahmu pergi, kau juga berkata seperti itu.” Tomy mengusap pipi gadis di depannya yang sudah dibanjiri air mata.


“Yang perlu kau tahu ... kau tidak pernah sendirian. Ada aku, Bunda Riska, dan anak-anak panti lain. Kami adalah keluargamu! Kami sangat menyayangimu!”


Jane langsung membenamkan wajahnya di dada bidang Tomy. Kali ini entah mengapa, air matanya mengalir deras dengan mudahnya. Tomy mengusap pelan rambut Jane. Dia mencium pucuk kepalanya, dia sudah lama tidak melakukan hal ini.


“Aku merindukanmu, Jane.”


°•°•°•°•

__ADS_1


__ADS_2