Delusion

Delusion
08


__ADS_3

Jane melangkahkan kakinya di koridor yang tampak sepi, karena para siswa sibuk belajar di dalam kelas mereka. Semakin hari, hidupnya makin rumit saja. Hari ini dia diusir dari kelas, besok apalagi? Jane merutuki dirinya sendiri yang tertidur di dalam kelas. Dia menghela napas panjang, ya sudahlah hal ini telah terjadi. Mau bagaimana lagi?


Jane berjalan dengan pelan hingga tiba-tiba dia merasa udara di sekitarnya berubah menjadi lebih dingin. Jane menatap sekelilingnya, kenapa sepi sekali? Seperti tidak ada orang di sini, dan kenapa dia tidak mendengar suara berisik dari kelas? Dengan langkah tergesa dia berusaha pergi ke lapangan. Namun entah kenapa koridornya menjadi sangat panjang.


Napas Jane semakin tak beraturan, dia mengedarkan pandangannya ke arah lain. Dia melihat seorang lelaki berpakaian serba putih tiba-tiba berjalan di depannya. Dan hanya berjarak beberapa meter saja. Jane berusaha mengikuti lelaki yang tadi dia lihat di kelas. Dengan berlari kecil dia berusaha mengejar lelaki yang berjalan cepat itu.


“Hei, tunggu!” seru Jane agar lelaki di depannya berhenti, namun lelaki itu tetap berjalan.


Jane menaiki tangga yang entah sudah berapa kali, lelaki itu membawanya ke tempat yang tidak dia tahu.


Di satu sisi, seorang lelaki dengan seragam dikeluarkan dari celananya mengikuti Jane sambil mengernyitkan dahinya. Dia penasaran dengan gadis itu, mau ke mana dia? Dia semakin bingung saat Jane menaiki tangga yang menuju rooftop.


Dia mengangkat alisnya saat beberapa kali Jane berseru menyuruh orang lain berhenti. Aneh, padahal tidak ada orang lain selain mereka berdua. Lelaki itu berlari kecil saat Jane berlari kencang melewati anak tangga.


Lelaki itu membelalakkan matanya saat Jane akan melompat dari atas gedung sekolah. Dengan sekuat tenaga lelaki itu berlari dengan kencang, dan meraih salah satu tangan Jane.


Jane merasa seseorang menarik tangannya hingga tubuhnya berbalik dan menabrak tubuh orang itu. Jantungnya berdebar kencang karena terkejut.

__ADS_1


“Kalau ingin bunuh diri jangan di sekolah!”


Jane mengerjapkan matanya beberapa kali saat sebuah suara dengan nada tinggi menyambut telinganya. Jane mendongakkan kepalanya. Mendapati sepasang mata cokelat gelap yang menatapnya dengan tajam. Napas lelaki itu tampak terengah-engah. Jane memundurkan tubuhnya, dan menatap mata itu dengan bingung.


“Apa?!” seru lelaki itu sambil melotot kesal.


“Tomy kau kenapa?” tanya Jane dengan wajah polos, membuat Tomy ingin terjun ke bawah.


“Sudah jelas kau ingin bunuh diri, dan kau masih tanya aku kenapa? Seharusnya kau yang bertanya begitu kepada dirimu tau!” kesal Tomy.


“Kau, siapa lagi?!” jawab Tomy dengan sengit.


“Aku sedang mengejar orang! Dan kau malah menggagalkannya, padahal tadi hampir saja aku menangkap tangannya!”


“Menangkap apa? Daritadi aku hanya melihatmu sendirian!”


“Orang berbaju putih.”

__ADS_1


“Siapa? Malaikat maut?! Yang ada aku hanya melihatmu akan melompat ke bawah! Kalau benar ada orang, seharusnya orang itu jatuh ke bawah! Mana ada orang berjalan melayang.” Tomy berkata dengan sarkas, membuat Jane mencebikkan bibirnya kesal.


“Matamu yang rabun! Sudah jelas aku melihat orang itu berlari ke sini!”


“Astaga Jane! Apa kamu menderita halusinasi? Aku melihatmu berlari seperti orang kesetanan dan akan melompat ke bawah!” teriak Tomy dengan marah, ingin sekali dia menghancurkan kursi butut yang ada di sana.


“Sudah jelas tadi aku melihat orang lain! Kau yang rabun!”


“Oh, astaga. Kenapa Tuhan menciptakan gadis keras kepala sepertimu? Harusnya kau yang berterima kasih kepadaku, karena kalau telat sedetik saja kau akan terjun bebas ke neraka!”


“Halah lebay. Terserah apa katamu aku tidak peduli.”


“Aku menyesal menolongmu, seharusnya aku biarkan saja kau bertemu dengan malaikat maut!” Tomy berlalu dari hadapan Jane.


Jane menghentakkan kakinya dan mencebikkan bibirnya kesal. Dia mulai mengedarkan pandangan ke sekeliling, ke mana lelaki pucat itu?


°•°•°•°•°•°•°

__ADS_1


__ADS_2