Delusion

Delusion
21


__ADS_3

“Kau tahu? Bahkan setelah dia membuat adikku menderita dan akhirnya memilih untuk bunuh diri, dia kembali menghancurkan keluargaku! Dia membuat perusahaan kami bangkrut, hanya karena aku berusaha melenyapkan kekasih bodohnya itu! Kami berusaha bangkit dengan sisa-sisa harapan yang ada. Dan akhirnya kami bisa membangun perusahaan kami kembali.” Reyhan tersenyum dingin, matanya berkilat tajam. Masih ada rasa dendam, kecewa, dan marah di dalam hatinya. Sedangkan Reyna, wanita itu hanya membisu dengan tatapan dingin.


Tomy menyeringai lebar. Bahkan tanpa mereka tahu ikatan tangannya sudah terlepas. Dia mengedarkan pandangan dengan awas. Tidak ada yang menyadarinya. Dia melirik Jane yang terpaku dengan wajah pucat pasi. Entahlah, Tomy tidak bisa menebak raut wajah gadis di sampingnya.


“Namun, sepertinya mereka belum puas menghancurkan keluargaku. Sepuluh tahun setelahnya, Damian menabrak mobil orang tuaku hingga masuk jurang. Mereka mati di jurang itu. Dia tidak hanya membunuh orang tuaku, tapi dia juga membunuh Archie. Anak semata watang kami!” Reyhan mengepalkan tangannya. Dia menggeram marah. Namun sedetik kemudian bibirnya menyunggingkan senyum bengis.


“Kali ini aku tidak membiarkannya lolos. Malam itu, aku menyelinap masuk ke kamarnya, dan membunuh mereka. Tidak hanya itu, bahkan aku mengambil anaknya dan menyiksanya selama enam tahun lebih. Rasanya sangat bahagia saat melihat anak itu sekarat secara pelan-pelan.” Bibirnya tertawa keras. Bahkan di sampingnya Reyna sudah tertawa terpingkal-pingkal.


Jane memejamkan matanya, saat bayangan dua orang yang tergeletak bersimbah darah itu kembali berputar di kepalanya. Saat bayangan Iru yang meminta tolong dengan darah menyembur dari mulut dan hidungnya menyelinap masuk ke otaknya. Jane merasa perutnya sangat mual dan kepalanya sangat pusing.


“Tapi ada saja orang yang selalu merusak kesenanganku. Kau ... Jane! Kau mengetahui semua rencanaku, kau tahu jika diam-diam aku menaruh obat itu di setiap makanan Iru. Makanya, setelah aku tahu kau mengetahuinya. Aku segera melenyapkanmu, aku menabrakmu saat pulang sekolah. Padahal aku ingin kau mati, tapi kau malah masih hidup! Tapi ya sudahlah, aku beruntung kau hilang ingatan.”


“Ka-kau yang menabrakku?!” Jane berkata tak percaya, sedangkan Tomy dia sudah bersiap untuk melayangkan tinjunya ke wajah pria tua di depannya.


“Tentu saja hahaha, tapi kau jangan khawatir Jane. Kali ini aku pastikan kau akan mati!” Reyhan tertawa gila.


“Oh, tentu saja kali ini kau yang akan mati!”

__ADS_1


Tomy melemparkan sebuah botol kaca ke arah Reyhan, botol kaya itu pecah saat membentur kepala Reyhan. Reyhan tertawa kecil, dia mengusap kepalanya yang mengeluarkan darah. Jane terkejut, matanya menatap Tomy dengan tatapan tak percaya. Jimmy yang berada di samping Tomy langsung meninju wajahnya hingga terjatuh ke lantai. Lelaki itu menjambak rambutnya hingga wajah Tomy mendongak dan langsung membenturkannya ke lantai.


“Sepertinya kalian merasa bosan ya? Oke, kami akan segera pergi. Selamat bersenang-senang, dan siapkan diri kalian untuk bertemu malaikat maut.”


Reyhan menendang dengan keras tubuh Tomy yang meringkuk di lantai. Dia menggenggam tangan Reina dan keluar dari ruangan itu. Jane menjerit saat tiba-tiba rambutnya ditarik paksa oleh sebuah tangan besar. Tubuhnya terjatuh bersama dengan kursi yang didudukinya. Jane menangis keras saat dia melihat Tomy kembali dipukuli dengan brutal. Tak sampai di situ, tiba-tiba Andrew menendang kepala Jane hingga membuat hidungnya berdarah. Jane merasa pandangannya berkunang-kunang.


“JANE!”


Tomy meneriakkan namanya, namun telinga Jane terasa berdengung. Dia tak bisa mendengar suara di sekitarnya dengan jelas. Tubuhnya kembali ditendang dengan keras, hingga Jane merasa tubuhnya kebas.


Tomy menggerakkan tangannya, namun tangannya diinjak oleh Jimmy. Dia berusaha untuk menggerakkannya. Telapak dinginnya itu menyentuh wajah pucat Jane. Tak terasa setetes cairan bening mengalir dari mata sayu gadis itu.


“Ayolah, kalian terlalu drama!”


Jimmy menginjak punggung Tomy. Dia mengikat tubuh Tomy dengan tali dengan kencang. Andrew pun melakukan hal yang sama kepada Jane. Jimmy menjambak rambut Tomy dan menyeretnya agar berjalan. Sedangkan Andrew, dia memikul tubuh Jane di pundaknya. Di setiap perjalanan Tomy tak henti-hentinya bersumpah serapah. Dia meringis sakit saat rambutnya terasa akan tercabut.


Tak beberapa lama mereka terhenti di bibir sebuah danau.

__ADS_1


“Oke, akhirnya aku akan mengirim kalian ke neraka.”


Jimmy berdesis saat ia mulai mengangkat tubuh jangkung Tomy yang terasa berat. “Ayolah, kenapa kau diam saja? Bantu aku bodoh!”


Andrew meninju wajah Jimmy sekali. “Jangan memanggilku bodoh!”


Jimmy bersungut kesal. Mereka mengangkat tubuh Tomy dan melemparnya ke dalam danau. Melihat itu, tubuh Jane seketika membeku. Dia menggigit bibirnya keras hingga mengeluarkan darah. Tanpa Jane sadari, tubuhnya telah diangkat dan di lempar ke dalam danau.


Seketika Jane merasa kulitnya perih tertusuk air danau yang dingin. Air danau masuk dari mulut dan lubang hidungnya. Jane merasa paru-parunya akan meledak karena air yang terlalu banyak masuk ke dalam hidungnya. Apakah dia akan mati? Tiba-tiba bayangan wajah Ayahnya dan Scarlett memenuhi kepalanya.


Mungkin ... ini memang takdirnya, mati mengenaskan di tangan pembunuh itu.


Tubuh Jane membeku saat dia tak tahu bagaimana caranya bernapas. Tubuhnya semakin tenggelam ke dalam danau.


“Ayah, aku menyayangimu.”


Perlahan matanya tertutup rapat. Detak jantungnya semakin lemah. Lemah. Lemah. Dan akhirnya menghilang.

__ADS_1


°•°•°•°•°•


__ADS_2