
Tomy duduk di balkon kamarnya, satu tangannya sibuk memainkan gawainya, tak lupa sesekali dia menyesap rokok yang dia pegang di satu tangannya. Dia begitu menikmati malam dingin yang sunyi ini. Saat sedang asyiknya berselancar di dunia maya, dia terkejut saat tiba-tiba pintu kamarnya tertutup dengan keras.
Tomy berdecak kesal, dia berjalan menjauhi balkon kamarnya dan masuk ke dalam kamar. Dia mengernyitkan dahinya, dan dia baru sadar kalau tadi dia sudah menutup pintu kamarnya. Seketika hawa dingin menusuk tulangnya, Tomy mengusap tengkuknya sendiri. Seketika adrenalinnya terpacu. Jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya.
Bugh
Tomy terperanjat kaget saat lagi-lagi sebuah suara mengejutkannya. Matanya menatap sebuah buku yang terjatuh. Loh, kapan ada buku di nakasnya? Dia yakin tidak pernah meletakkan buku di atas nakas. Tomy mengambil buku bersampul cokelat di lantai. Dia mengernyitkan dahinya, sejak kapan dia mempunyai buku catatan? Dia bahkan tidak pernah menulis satu pun kata di buku tulisnya.
Dengan rasa penasaran yang tinggi, Tomy membuka sampul buku itu. Dan matanya langsung disambut kata yang membentuk sebuah kalimat. Apa ini? Sepertinya besok Tomy perlu membicarakan ini dengan nenek lampir itu. Dengan berbagai pertanyaan yang terus berputar di kepalanya, Tomy meletakkan buku itu di dalam tasnya.
__ADS_1
°•°•°•°•°•°•
Jane menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Padahal dia meletakkan buku itu di laci mejanya, namun kenapa sekarang tidak ada? Astaga, padahal dia sangat penasaran dengan isi buku itu. Jane berusaha mencari buku itu lagi. Bahkan dia sampai membuat kamarnya seperti kapal pecah.
Tiba-tiba Jane teringat sesuatu. Dia langsung mengambil tasnya yang berada di atas kursi. Dia menggeledah tasnya dan menghela napas lega saat kertas itu masih ada di sana.
“Syukurlah.” Ucap Jane sambil meletakkan kembali kertas itu ke dalam tasnya.
Tok tok tok
__ADS_1
Jane berjalan ke arah pintu, dan langsung membuka pintunya.
“Ayo, makan malam sudah siap.” Ucap Ayah sambil tersenyum kecil.
“Sebentar, nanti aku akan menyusul.” Sahut Jane sambil menyengir kuda.
“Jangan terlalu lama, Ayah sudah lapar.” Ayah mengusap perutnya yang buncit, membuat Jane terkekeh pelan.
Ayah meninggalkan Jane yang masih berdiri di depan pintu kamar. Jane masuk ke dalam kamarnya sejenak, memastikan jika kertas itu masih ada di dalam tasnya. Setelah itu dia berjalan keluar kamar untuk menyusul Ayah yang sudah duduk di meja makan.
__ADS_1
°•°•°•°•°•°
Tinggalkan jejak gaesss :)