
Pagi yang berguru cerah, dengan di mulainya sinar mentari yang malu-malu untuk menampakkan dirinya. Pagi ini adalah pagi yang baru untuk Nadine, dimana ia akan mulai peperangan dengan Aurora.
Nadine yakin bahwa kekalahan Aurora kemarin pasti akan membuat gadis itu menggila.
Di dalam ruang tengah, Nadine sibuk dengan laptopnya. Wajahnya terus di tekuk meneliti berita yang sedang ia baca.
Seorang wanita di temukan tewas di area proyek mall. Banyak orang yang kini mulai menggunjingkan proyek itu, banyak juga rumor yang beredar bahwa proyek itu membawa kesialan. Beberapa masyarakat bahkan sedang berdemo di depan RC group saat ini.
Nadine tersenyum miring. ''Baiklah! Mari kita lihat apa tanggapan yang akan Aurora berikan.'' Ujar Nadine lalu beranjak keluar rumah. Hari ini ia ingin membelikan beberapa barang yang kurang.
Bi Nani selalu memasak untuknya saat pulang dan beberapa barang sudah habis jadi Nadine berniat membantu sedikit untuk pelayan kesayangannya.
***
Di toko sayuran, Nadine sedang menyerahkan sayuran dan buah yang ia beli pada kasir. Saat sedang menunggu sayurnya di kemas, Nadine menoleh ke arah televisi yang sedang mengadakan siaran langsung.
***
Di loby perusahaan RC group, banyak masyarakat yang sedang berdiri dengan papan yang berisikan pemberhentian proyek. Sebuah mobil hitam kini berhenti di hadapan semuanya.
Aurora keluar dengan gayanya tersendiri, lalu melepas kaca mata hitamnya dan memberikannya pada asisten. ''Hentikan proyek ini!!" Teriak seorang pria paruh baya.
"Hentikan! Hentikan....! Hentikan....!" Teriakan di lanjutkan oleh masyarakat lainnya. Aurora berjalan ke depan mereka dan berdiri tegak.
"Kenapa kalian ingin proyek ini di hentikan? Bukankah ini akan sangat menguntungkan masyarakat?" Tanya Aurora dengan wajah ramahnya.
Seorang ibu-ibu maju menyela dan berdiri di hadapan Aurora. ''Tapi, kami dengar bahwa proyek itu menyebabkan kematian seorang wanita! Kami tidak ingin ada yang menjadi korban lagi!'' Ujar Ibu itu mencoba unjuk rasa.
Aurora berubah menjadi sedu, wajahnya seperti akan menangis. ''Ada apa nona? Apa ada yang membebani mu? Kenapa kau tampak sedih?'' Tanya pria paruh baya, pemimpin unjuk rasa itu.
Aurora menyeka air matanya, lalu menatap satu persatu Masyarakat yang kini terlihat diam. ''Untuk itu saya minta maaf, saya sebagai direktur yang seharusnya menangani proyek itu meminta maaf dengan tulus. Ini bukan kesengajaan dari pihak kami, namun.....'' Aurora sengaja terdiam dengan berusaha mengusap air matanya.
''Namun apa? Beritahu kami nona, Anda sudah sangat baik dulu membantu rakyat jelata seperti kami, jadi katakan lah apa yang sebenarnya terjadi. Kami juga butuh penjelasan tentang hal itu.'' Ujar ibu itu kembali berucap dengan ekspresi kasihan.
''Benar, kami butuh penjelasan!!'' Ujar Serempak semuanya.
Aurora kini menangis lalu menjatuhkan dirinya dan bersimpuh di hadapan semuanya. ''Maaf, maafkan kami. Mungkin ini memang tidak seharusnya di bicarakan. Tapi kalian terlalu mendesak hingga membuatku bercerita dengan berat hati.'' Lagi-lagi Aurora menyeka air matanya.
__ADS_1
Gadis itu menunduk dalam. ''Ini bukan kesengajaan yang kami lakukan, namun ini semua karena seseorang. Kami tidak tau apakah ini benar atau salah. Salah satu pekerja kami melihat sebelum wanita itu meninggal, dia bicara dengan seseorang yang kami sembunyikan dari kalian. Hiks...'' Kata Aurora dengan suara serak.
''Siapa yang anda maksud nona? Siapa orang yang kalian sembunyikan?'' Tanya pria paruh baya itu.
Bisik-bisik mulai terdengar, mereka seperti sangat ragu akan perbuatan mereka sendiri karena ucapan Aurora. ''Dia yang seharusnya kami sembunyikan dan tidak kami publish, setelah mengetahui semuanya. Kami hanya berusaha meyakinkan bahwa dia adalah orang yang berbeda. Tak ada niat jahat yang tersembunyi untuknya namun, namun dirinya sungguh tak bisa di kendalikan.'' Ujar Aurora lalu mendongak menatap wanita paruh baya yang sedang ikut menangis dibuatnya.
''Kami sudah berusaha menyembunyikannya tetapi dirinya tidak mau menerima hal itu dan malah membuat masalah. Dia adalah putri dari Christian dan Olivia, Nadine Xavier Richards. Maaf jika harus menyebutmu di depan publik adik.....'' Ujar Aurora dengan menunduk.
Masyarakat mulai marah saat mendengar putri seseorang yang mereka benci. Bahkan ada dari mereka yang mengumpat langsung.
Ternyata putri penjahat itu kembali.
Aku kira dia sudah mati.
Sudah di berikan hidup enak masih mau melawan nona ya?
Tidak tau malu.
Tidak tau diri.
Mati saja sana.
Itulah yang mereka ucapkan tanpa dosa sedikit pun. Aurora terlihat menyeringai dengan tertunduk.
''Ayo nona, anda ada rapat hari ini.'' Ujar asisten Aurora yang langsung memapah Aurora masuk kedalam perusahaan dengan tersenyum miring.
''Sudah ku bilang bukan, kau mencari masalah dengan orang yang salah.'' Gumam Aurora, gadis itu masih memerankan aktingnya hingga di papah ke dalam ruangannya.
''Anda memang hebat nona, anda yang terbaik!'' Puji asistennya dengan menaikan dua jempol tangannya.
Aurora tersenyum angkuh dan duduk di kursi kebesarannya. ''Aku tau, kita lihat bagaimana cara gadis itu menangani publik yang marah. Minta gadis itu untuk menyebarkan foto Nadine pada seluruh televisi. Tak boleh terlewat satu televisi pun. Jangan lupa surat kabar dan internet. Biar mereka tahu Nadine si pembawa sial datang.'' Ujar Aurora yang kini sudah menantikan hancurnya Nadine.
Jika publik sudah mengetahui ini, maka publik akan menggila. Kemana pun gadis itu pergi maka semuanya akan menolaknya. ''Kau sudah tamat Nadine...Hahahah.....'' Tawa Aurora memenuhi seluruh ruangannya.
***
Melihat berita itu membuat Nadine mengumpat kesal. Bukannya takut namun dirinya belum ada persiapan menghadapi ini. Kasir yang tadi saja bahwa sampai menatap jijik dirinya.
__ADS_1
Keluar dari toko, Nadine berjalan cepat. Tak ada taksi maupun ojek yang mau mengantarnya. Bahkan dengan bayaran yang sangat besar pun orang-orang itu menolak.
Dengan terpaksa Nadine berjalan dengan tatapan mata orang yang begitu tajam padanya. Tak menunduk sedikitpun, Nadine berjalan dengan angkuhnya. Dirinya tidak salah, lalu apa yang harus ia tundukkan.
Plak
Sebuah plastik dengan air mengenai kepalanya. Nadine hendak berbalik namun itu hanya akan menyulut emosinya. Kembali ia langkahkan kaki tanpa menoleh atau protes.
Plak......Plak.....Plak
''Dasar tidak tau malu, masih mau keluar dengan wajah angkuh mu? Menjijikkan!!" Hina seorang wanita paruh baya. "Benar, dirinya sama seperti Olivia Karena tidak punya rasa malu akhh!!" Teriak ibu itu merasa sesuatu mengenai pundaknya.
Wanita itu terus meringis karena pundaknya sungguh sakit di lempari buah apel. "Berani sekali gadis ini!!!" Teriak ibu yang satu lagi hendak maju.
"Kenapa!! Kenapa tidak berani!! Siapa kalian yang berhak menghina orang lain atas sesuatu yang kalian tidak tau akan kebenarannya!!! Menjijikkan? Apa kalian pikir kalian tidak seperti itu? Bahkan kalian lebih dari kata menjijikkan!" Ujar pedas Nadine dengan wajah marahnya.
Jika hanya dirinya yang dihina itu tidak masalah, namun mereka membawa nama mamanya. Bahkan untuk sedetikpun Nadine tak tahan mendengar hinaan itu.
''Kau!!!'' Teriak ibu itu marah, Nadine semakin menatap tajam.
Plak...
''Masih berlagak sombong, kau akan melawan kami?'' Tanya ibu-ibu yang baru datang dan melemparinya dengan telur di sebelah kanan kepalanya.
Nadine hendak melangkah menuju ibu tadi tetapi di tahan oleh seseorang. ''Jika ibu saya laporkan atas tuduhan penganiayaan maka ibu bertiga ini akan di penjara setidaknya 2 tahun lamanya. Bagaimana? Harus saya laporkan?'' Tanya seorang pria dengan wajah datarnya.
Ibu-ibu tadi langsung membubarkan diri, mereka pergi dengan mulut yang sibuk bergosip. ''Masuklah.'' Ajak Vijendra yang sudah masuk kedalam mobil miliknya.
Nadine masuk dengan wajah masih kesal. Ia ingin sekali melempari mulut wanita tadi dengan telur itu agar tidak bisa bicara selamanya.
Vijendra melajukan mobilnya menuju gedung mereka tinggal. ''Ambilah...'' Ujar Vijendra dengan menyerahkan sekotak tidur kering dan tisu basah. Nadine hanya mengambil tanpa berniat untuk berterima kasih.
Mobil melaju dengan kecepatan biasa, Vijendra sesekali melirik Nadine yang seperti sedang komat-kamit kerena kesal. ''Belum bersih, ini masih tersisa kulit telurnya.'' Ujar Vijendra meraih kulit telur di rambut Nadine karena mobil sedang berhenti untuk lampu merah.
''Kenapa menjawab mereka? Tidak seperti gayamu saja? Meski sedikit yang kutahu tentangmu, namun kau bukan gadis yang akan bicara banyak seperti tadi.'' Ujar Vijendra dengan tangan yang sibuk membelokkan mobil menuju jalan biasanya.
''Kau juga bukan pria yang kukenal suka bicara banyak.'' Ketus Nadine yang sepertinya masih memendam amarah yang belum tersampaikan.
__ADS_1
Bersambung....