
Di dalam kamar, Nadine merebahkan dirinya dan menatap langit kamar. Perasaan gelisah yang pernah ia alami saat berada di pedalaman dulu. Dan tepatnya setelah ia prediksi, ternyata hari yang sama adalah hari kematian orang yang sangat ia sayangi.
Nadine menyentuh dadanya yang terasa sesak tak beralasan. ''Apa yang akan terjadi? Kenapa denganku?'' Gumam Nadine.
Tok...tok...tok....
''Masuk saja Bi gak di kunci...'' Ujar Nadine menyahuti ketukan pintu di luar.
Saat pintu terbuka, bi Nani masuk dengan senyuman. ''Nona belum tidur? Ini sudah larut....'' Ujar Bi Nani sembari duduk di sebelah Nadine yang masih tetap nyaman berbaring.
''Belum bi, ada apa? Apa ada yang ingin bibi bicarakan?'' Tanya Nadine sembari bergeser dan menidurkan kepalanya di paha bi Nani. Sama seperti dirinya waktu kecil, jika di marah oleh Olivia pasti dirinya akan mengadu pada bi Nani dan mendengarkan nasihatnya.
Tangan Bi Nani terulur untuk mengelus kepala nona mudanya itu. ''Jika seperti ini maka nona terlihat seperti 12 tahun silam. Nona akan merengek saat nyonya memarahi nona, akan selalu bertindak semau nona saat marah. Hahahah......Bibi jadi ingat saat itu.'' Ujar bi Nani menerawang jauh ke 12 tahun lalu.
Nadine mendongak dan cemberut. ''Jangan mengejek seperti itu bi.....'' Rengek Nadine manja, entahlah dirinya tidak bisa menahan diri seperti biasanya.
''Hahaha..... Baiklah-baiklah. Oh iya, mengingat 12 tahun lalu. Apa nona sudah tau semuanya? Saat nona di asingkan? Mau bibi ceritakan semuanya?'' Ujar bi Nani tiba-tiba, Nadine melirik sebentar lalu berfikir.
''Aku tau siapa pembunuh mereka, dari rekaman Vidio yang Aurora sengaja tonton untuk menghibur dirinya.'' Ujar Nadine mendadak marah jika mengingat hal itu.
''Vidio? Berarti tebakan bibi kamera yang dia pegang ternyata untuk merekam kejadian kelam itu. Hah....Bibi tidak tau kalau mereka akan sebejat itu padahal mereka juga manusia...'' Gumam bibi yang masih terdengar jelas.
Nadine terduduk dengan wajah marah. ''Manusia? Mereka? Mereka tidak pantas di sebut manusia.'' Marah Nadine dengan menggebu-gebu.
__ADS_1
Bi Nani mengelus puncak kepala nona mudanya dan tanpa di suruh bi Nani menceritakan awal semula semuanya terjadi. Entah mengapa dirinya ingin menceritakan yang sudah di gali jauh oleh Nadine.
''Nona......Ucapan nyonya tentang sesuatu yang sebenarnya belum selesai sejak awal adalah saat-''
''Saat mama di selamatkan di tebing itu? Oleh wanita yang berlagak seperti malaikat tak bersayap tapi nyatanya malaikat maut?'' Tebak Nadine tepat, bi Nani mengangguk.
Bi Nani menatap jendela kamar yang memperlihatkan gelapnya malam. ''Saat itu nyonya sangat merasa bersyukur karena di selamatkan oleh Belen istri dari tuan Brian sekarang. Bahkan nyonya terlalu baik hingga memberikan sebuah apartemen mewah untuk Belen.'' Ujar bi Nani memulai ceritanya.
Nadine mendengarkan dengan jelas dan serius apa yang akan bibi ceritakan. Agar ia tau yang sebenarnya, dirinya memang tahu bahwa semua ini terjadi setelah Belen memasuki mension dan memporak porandakan semuanya.
''Bibi kita kebahagian akan datang setelah nyonya Olivia dan tuan Christian bersama dan saling mencintai. Dengan kepergian Auristela dan keluarganya, keluarga Richards akan bahagia selamanya. Namun semuanya ternyata salah, saat Nyonya besar, nenek buyut nona meninggal. Cahaya keluarga Richards mulai meredup.'' Ujar Bi Nani dengan air mata yang di sekanya kala mengingat tangis pilu dari setiap orang di rumah besar itu.
''Selama 2 bulan semuanya terlihat tidak bersemangat. Rasa sedih kehilangan itu menganggu kesehatan nyonya Chalondra dan kandungannya. Semuanya memutuskan menyimpan duka itu dan memulai lembaran baru. Semuanya berjalan lancar, nyonya Olivia selalu menghibur nyonya Chalondra dan mertuanya nyonya Freya. Meski dirinya masih sangat terpukul.'' Bi Nani menghela nafas berat lalu melanjutkan ceritanya.
''6 tahun berlalu dan nyonya Chalondra di kejutkan dengan tuan Brian yang ternyata sudah memiliki anak dan istri. Namun, entah mengapa nyonya Chalondra melarang tuan Christian ikut campur dan malah menerima kedatangan Belen sebagai istri tuan Brian. Nyonya Olivia merasa sedih saat tau orang yang menyelematkannya, ternyata menjadi bubuk luka untuk kakak iparnya.''
''Tetapi semuanya terlihat akur dan tentram, tuan muda Justin yang sangat gembira mempunyai teman selain nona dan Tyaga. Yuri menjadi jarang datang ke mension sejak kedatangan Belen. Tentu saja itu tak luput dari pandangan tajam tuan Christian dan nyonya Olivia. Sifat nyonya yang sangat penasaran akan sebuah rahasia membuatnya terjerumus ke lubang yang sangat dalam dan membingungkan.''
''Rahasia yang di jaga dengan ketat dan di kunci dengan rumit semakin membuat nyonya penasaran, hingga akhirnya tuan Brian mengambil tindakan sebelum rasa penasaran nyonya terpuaskan. Tuan Brian memulainya dengan nyonya Chalondra, nyonya Chalondra sengaja di beri obat di setiap jus yang ia minum agar setiap harinya nyonya merasa sakit. Lalu yang kedua, sebelum nyonya Chalondra benar-benar jatuh sakit. Tuan muda Justin mulai di lempar jauh meski dengan cara yang halus.''
''Dan yang terakhir, akan melancarkan aksinya lagi. Ternyata nyonya dan tuan sudah mengetahui rencana busuk Brian yang ingin memindahkan aset keluarga. Ternyata ada yang mereka lewatkan selama bertahun-tahun karena sibuk mengorek kebenaran ternyata semua orang di mension telah di ganti. Mulai dari penjaga hingga sopir dan pelayan. Hanya sopir pribadi tuan Christian yang masih utuh. Nyonya memutuskan untuk menjauhkan nona dari kejadian yang mungkin akan terjadi, karena nyonya sangat yakin akan ada hal yang akan terjadi dan itu akan sangat fatal.''
''Terlebih lagi nyonya dan tuan saat itu masih terpuruk akan kematian papa dan mama Tyaga yang sudah mereka anggap saudara. Nona tau sendiri bukan, kematian mereka itu 1 tahun sebelum nona di kirim kepedalaman.'' Ujar bi Nani berhenti menunggu respon Nadine.
__ADS_1
Gadis itu mengangguk, bagaimana dirinya bisa melupakan hari itu. Hari di mulainya sikap keras sang mama dan melihat mamanya yang selalu menangis dan merenung.
''Setelah kepergian nona, malam harinya rumah mulai di kepung. Nyonya Chalondra saat itu sedang keluar negeri untuk menemui putranya. Dari perkelahian hingga tuan dan nyonya kalah di hantam oleh 20 orang pria bertubuh besar. Bibi tak bisa melakukan apapun. Bibi di ikat dan hanya bisa berteriak dan menangis kala melihat penyiksaan itu di hadapan bibi sendiri....Hiks.....Hiks....'' Bi Nani berhenti sebentar, matanya sudah sembab dengan air mata yang semakin menderas.
Nadine memeluk bi Nani dengan wajah yang berusaha ia tahan agar tidak mengalirkan air yang sama derasnya.
''Hiks...Nyonya berteriak saat sebuah guci beras mengenai tubuhnya berulang kali. Tuan menangis dengan terus mengumpat karena kaki dan tangannya sudah tak bisa di gerakan akibat pukulan orang-orang tak punya hati itu. Meski begitu, nyonya dan tuan sama sekali tidak meminta untuk di lepaskan dan malah terus menyumpahi mereka. Tuan Brian, Belen dan anak-anaknya sungguh tidak punya hati, di saat nyonya dan tuan berteriak menahan sakit, mereka malah tertawa dengan kerasnya.''
''Hal yang akhirnya membuat nyonya memohon sebelum ajalnya adalah nona sendiri. Saat Brian mengatakan akan membunuh nona, membuat nyonya dan tuan memohon dan terus memohon sampai mereka di tusuk dengan kejam oleh pria itu. Tak menghiraukan ucapan mereka dan semakin dalam mengunuskan belati itu mengenai tubuh nyonya dan tuan secara berganti. Pria yang sudah selayaknya iblis yang abadi dan tak takut akan kematian.''
''Hiks....Bibi sendiri yang menyaksikan betapa gilanya pria itu mengunuskan belati. Nona mendengar rekaman suara itu bukan? Di saat mereka telah pergi, sebelum nyonya menutup mata menyusul tuan. Nyonya dengan menahan sakit tersenyum kala membuat rekaman itu. Nyonya mengucapkan setiap katanya dengan senyum senang tanpa rasa sakit. Hiks....Nyonya sangat menyayangi nona dan tak ingin nona terluka.....''
''Keesokan harinya, terjadi kebakaran di gudang produksi hingga membuat ratusan orang terluka dan ada yang meninggal. Lebih jahatnya adalah....Hiks....Nyonya dan tuan di tuduh membakar gudang dengan sengaja dan terbakar habis di dalamnya karena kejahatan yang sama sekali tidak mereka lakukan. Nyonya dan tuan di bakar habis di gudang itu dan tidak di kuburkan dengan layak. Setelah itu nyonya Chalondra jatuh sakit dan di rawat di Paris saat ini.'' Cerita bi Nani di akhiri dengan tangis pilu wanita paruh baya itu.
Nadine membeku, matanya merah menahan tangis. ''Dan aku membenci mereka seakan-akan aku adalah orang paling di sakiti.'' Meski suaranya bergetar namun Nadine tidak menjatuhkan air matanya setetes pun.
''Nona tidak salah, itu karena nona di lempar tanpa kejelasan. Dengar nona, hiduplah dengan baik. Makan dengan teratur dan jangan pernah menyerah....'' Ujar bibi tiba-tiba dengan air mata yang masih mengalir.
''Nona harus jadi gadis yang kuat dan lawan mereka yang penuh dengan kejahatan. Seperti yang di lakukan oleh nyonya dan tuan. Di saat bibi tidak ada jangan biarkan nona terluka terlalu dalam....'' Ucap Bi Nani dengan memegang kedua pipi Nadine dengan kedua tangannya.
Deg....
Hati Nadine rasanya terjepit oleh bongkahan batu besar mendengarnya.
__ADS_1
Bersambung......