Dendam Atau Keadilan

Dendam Atau Keadilan
Part 22


__ADS_3

Di depan gedung, mobil baru saja berhenti. Nadine keluar dengan menenteng barang-barang yang ia beli. Saat akan melangkah masuk, semua orang terlihat menatapnya sendu.


Bahkan tuan sibuk kerja seperti pak Kotim kini juga ada dan menatapnya. Pasangan suami istri yang romantis itu juga ada, Bu lila dan pak Murti yang baru datang dari bulan madu di rumah mertuanya.


Nadine berjalan dengan santai namun risih karena bau telur yang begitu amis dan menyengat merusak penciumannya. ''Ada apa? Kenapa dengan wajah kalian?'' Tanya Nadine dengan wajah sangarnya, meski begitu ada sentuhan dalam ujung hatinya melihat semuanya.


Orang-orang berkumpul karena mendengar berita yang ada di tv. Pak Kotim sendiri bahkan sampai meninggalkan proyeknya dan datang ke gedung untuk mengetahui semuanya. Bu Ida sering bercerita di grup yang mereka buat khusus untuk leluhur gedung. Ya.... Contohnya mereka, leluhur karena sudah tinggal dari awal.


''Apa kalian ingin mengusirku karena aku adalah anak dari tuan Christian dan Olivia? Apa kalian akan sama memusuhiku seperti masyarakat lainnya?'' Tanya Nadine dengan menatap satu-satu mata mereka.


''Nak....Kamu jangan salah paham. Kamu tidak terluka kan? Kami khawatir tentangmu...." Ujar bu Ida bijak, dirinya memang sudah tau dari awal dan sudah menceritakannya pada yang lain.


Saat kejadian penembakan di depan gedung hingga sidang Laurinda. Nadine ingin bermanja-manja pada mereka yang menyayanginya namun, itu bukan dirinya yang sekarang. Gadis yang dulu ceria, polos dan menggemaskan sudah mati saat di lempar jauh ke pedalaman.


"Aku baik-baik saja, kalian lihat bukan bahwa aku masih berdiri utuh di hadapan kalian?'' Ujar Nadine dengan tersenyum angkuh, namun tidak ada yang menghiraukan itu dan malah semakin cemas.


''Hey! Hey! Hey!.... Detektif gila ini juga khawatir tentangku? Bukankah kau membenciku dan ingin aku di hina? Lihat semuanya sudah terjadi, seharusnya kau senang." Ujar Nadine berusaha bercanda dan tertawa pada Anindira yang masih menatapnya.


"Diamlah! Kau sama gilanya dengan ku! Kau pikir aku gadis seperti itu? Aku awalnya memang berharap begitu namun!! Kau su-sudah ku anggap teman jadi jangan merasa sendiri. Mengerti!!" Bentak Anindira yang ingin menutupi rasa canggung dan malunya setelah berucap seperti itu.


Niat Anindira ingin menghibur namun ia tidak bisa menurunkan harga dirinya di hadapan gadis seperti Nadine yang pasti akan mengejeknya terus-menerus.


Nadine tersenyum. ''Iya, iya, terserah padamu. Yang pasti kalian jangan khawatir, aku tidak apa. Aku baik-baik saja.'' Ucap Nadine meyakinkan.


''Meski baik-baik saja yang kau ucapkan namun itu semua bisa saja hanya sebuah penutup.'' Ujar Bu lila, lalu di angguki oleh suaminya.


''Penutup bahwa kamu itu sedang terluka.'' Ujar Bu lila lagi dan suaminya kembali mengangguk meyakinkan. ''Benarkan sayang?'' Tanya Bu lila pada suaminya yang kembali mengangguk.


''Jangan hanya mengangguk! Bagaimana kalau kepala mu jatuh! Aku tidak mau punya suami tanpa kepala, apa lagi jadi janda karena suaminya kehilangan kepala. Aaaa!!! Aku tidak bisa membayangkannya." Ujar sewot Bu lila dengan tangan yang terus mencubit suaminya.

__ADS_1


"Iya, aku juga belum siap meninggal tanpa kepala. Bagaimana kata arwah lainnya? Bisa-bisa aku di ejek di dunia sana." Sahut suaminya yang sama ngawur seperti istrinya.


Sepertinya mereka memang ditakdirkan untuk bersama dengan otak yang satu se frekuensi. Nadine menyunggingkan senyumnya saat melihat perdebatan konyol mereka.


Pemandangan yang akan ia rindukan nantinya saat mereka berpisah.


Semuanya tertawa kala suami istri itu kembali bertukar dialog dengan lucunya. Bahkan mereka melupakan sejenak bahwa mereka sedang mengkhawatirkan kondisi Nadine.


Masih bisa tertawa ternyata.


Memang beda ya, anak yang didik dengan baik dan tidak.


Aduhhh.....Jangan sampai ada korban lain.


Itulah yang mereka semua dengar hingga membuat tawa mereka menghilang.


Semuanya berjalan, berdiri di depan Nadine dengan tangan di dada. Wajah mereka terlihat angkuh. Para tetua kini berderet melindungi gadis muda mereka. Memang di dalam gedung ini, semua penghuninya suka ikut campur dan memperdulikan sekitar.


''Dasar, masih aja ngebela gadis kayak dia. Awas ihhh!! Nanti jadi korban selanjutnya." Sindir ibu yang satunya lagi.


"Tentu! Saya setuju Nadine membunuh orang, apa lagi orangnya kayak kalian yang suka tebar mulut sana-sini.'' Ujar Bu lila kini angkat bicara.


''Benar! Hey ibu! Gunakan mulut mu dengan benar, sini saya patri biar mulutnya berubah gak ngurusin hidup orang kerjaannya.'' Ujar pak Kotim ikut membela.


Ibu-ibu itu pergi karena merasa kalah argumen. Namun tetap saja, ibu-ibu itu bicara di belakang dengan berbisik-bisik.


Nadine menatap semuanya, gadis itu kembali menyunggingkan senyumnya. ''Kenapa kalian percaya bahwa aku tidak membunuh?'' Pertanyaan Nadine mengundang mata mereka menatapnya.


''Kami percaya padamu, entah itu membunuh ataupun tidak. Yang pasti berita yang menyatakan dirimu pembunuh itu tidak benar. Kau bahkan tidak keluar gedung bagaimana bisa kau membunuh?'' Ujar Bu Ida menyahuti ucapan Nadine.

__ADS_1


Aku sudah membunuh mereka. Batin Nadine.


Mereka semua memutuskan untuk masuk ke dalam restoran. Sebelum masuk, Nadine menyuruh orang untuk mencari cctv yang ada di area itu.


''Jangan terlalu pikirkan ucapan orang, nak. Kami akan selalu ada untukmu.'' Ujar Bu lila mengelus kepala Nadine.


Gadis itu menatap semuanya satu persatu.


Kalian adalah orang-orang yang baik, tak pantas kalian bersama denganku yang seperti iblis. Aku tak ingin melibatkan kalian, namun kalian selalu melibatkan diri dalam peperangan antara aku dan Brian. Nadine.....


''Okey!!! Jangan Terlalu sedih, kau bersihkan dirimu dulu. Kita akan buat pesta untuk kemenangan sidang yang Laurinda dapatkan. Kau setuju Laurinda?" Tanya Bu Ida pada Laurinda yang sedari tadi hanya diam.


"Ya, aku setuju." Sahut Laurinda dengan tersenyum lembut. Meski hatinya masih terluka, Tapi bagaimana pun Nadine yang membuatnya menang dalam kasus ini.


Nadine membersihkan diri dan berjalan menuju rumahnya di lantai dua. Ponselnya berdering saat ia akan membuka pintu. Nadine mengurungkan niatnya dan naik ke atap untuk menenangkan diri.


Belanjaannya ia taruh sembarangan di depan pintu rumah.


"Halo? Katakan apa yang kau dapat." Ujar Nadine saat sudah berada di atap. Tangan kanannya menempelkan ponsel di telinganya lalu tangan kirinya masuk ke dalam saku celana.


''Nona, kami dapat cctv-nya namun kenapa saya merasa sangat mudah mendapatkannya. Tidak ada penjaga di monitor cctv.'' Sahut Di seberang sana.


''Bawa saja kemari, aku tunggu saat ini.'' Ujar Nadine lalu mematikan teleponnya. Nadine menatap langit malam yang masih indah seperti biasanya.


Bahkan bulan purnama terlihat menerangi malam yang gelap. Saat melihat ke bawah, arena gedung ini juga terlihat indah. Banyak bangunan tinggi-tinggi yang mengelilingi gedung bahkan sangat tinggi hingga membuat Nadine mendongak.


''Hah....'' Helaan nafas terdengar dari bibir Nadine, ia tau bahwa hidupnya memang tidak mudah sejak awal. Nyawanya selalu terancam setiap detiknya, namun itulah yang ia suka. Tantangan dan kebingungan yang akan membuatnya mencapai sesuatu yang tak seharusnya.


Setelah menenangkan diri, Nadine kembali ke rumah dan membersihkan diri. Mereka semua yang ada di bawah pasti sudah menunggunya.

__ADS_1


Bersambung.......


__ADS_2