
Vidio di putar dengan benar, dari awal hingga akhir. Karena sudah di pulihkan, Nadine dan yang lain bisa tau apa yang terekam cctv yang sebenarnya.
Dari awal memang biasa, namun saat malam hari seorang wanita menemui seorang pria di belakang perusahaan. Pria itu terlihat mendekat perlahan lalu tanpa disadari, wanita itu sudah tersungkur di tanah.
Wajah wanita itu terlihat jelas dan perlahan ia memucat. Entah apa yang di lakukan pria itu hingga membuat wanita itu sudah tak sadarkan diri. Pria itu sengaja memunggungi cctv dan menggunakan topi agar tidak terlihat cctv.
''Apa ada foto dari mayat yang di temukan? Sepertinya wanita ini bukan wanita dari kalangan bawah.'' Ujar Nadine memperhatikan wanita itu.
Vidio itu terjeda dan semuanya mulai meneliti. Anindira menaruh telunjuknya di dagu dan berfikir. ''Benar yang Nadine katakan, dari barang dan pakaian branded yang ia pakai sepertinya wanita itu bukanlah kalangan bawah.'' Imbuh Anindira menyetujui ucapan Nadine.
''Dari yang di beritakan, foto wanita itu di sensor namun menggunakan pakaian yang sama seperti yang di Vidio. Semuanya tidak ada yang menanyakan lebih lanjut karena mengira akan merusak privasi wanita itu.'' Ujar Vijendra dengan membaca salah satu berita tentang wanita yang terbunuh.
''Kenapa tidak di beritakan wajahnya? Apa yang tersembunyi di balik semua ini?'' Tanya Tyaga yang satu pemikiran dengan Nadine.
''Benar, kenapa harus di tutupi jika dia memang sudah tiada.'' Ucap Vijendra menimpali, Nadine menatap ke arah Vijendra.
''Maksudmu?'' Tanya Nadine agar lebih jelas, ia tau maksud Vijendra namun lebih baik ia tau dengan pasti.
Vijendra mengangkat sebelah sudut bibirnya. ''Adik, kau bisa melacak keberadaan wanita itu? Data dirinya yang sebenarnya.'' Tanya Vijendra pada Laurinda, gadis itu memberi isyarat tangan 👌 bahwa ia bisa meski lewat Vidio itu.
Laurinda sibuk kembali dengan laptopnya, ini yang ia impikan. Membantu seseorang dengan kebiasaan yang ia miliki. Terlebih lagi bidang ini yang dulu ia idam-idamkan.
''Apa maksudmu melacak keberadaannya?'' Tanya Nadine yang masih penasaran akan pikiran Vijendra. Ia merasa bahwa Vijendra memiliki satu kesamaan padanya.
''Kita lacak saja, jika benar meninggal maka kenapa kita tidak melayat?'' Ucap Vijendra melempar pandangan dengan maksud tertentu. Nadine Ikut tersenyum miring dengan Vijendra.
Tyaga yang juga paham hanya diam, berbeda dengan si kepo Anindira. ''Apa maksudmu benar meninggal?'' Tanya Anindira yang masih di selimuti rasa penasaran yang tinggi.
Nadine kembali bersandar menunggu Laurinda mencari informasi wanita itu. Semuanya terdiam dan membiarkan Laurinda yang akan menjawab rasa penasaran Anindira.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian.....
''Nyonya sisi, istri salah direktur perusahaan RC group. Wanita ceroboh dan arogan, dia dikenal dengan wanita angkuh dan sombong di kalangan sosialita. Sering membanggakan suaminya dan barang branded yang ia beli dengan uang suaminya. Dan wanita itu.....'' Ucap Laurinda menjeda ucapannya.
Matanya melebar sempurna bahkan mulutnya menganga. ''MASIH HIDUP!!!" Pekik Laurinda yang membuat Nadine bangkit dari sandarannya.
Semuanya mendekat dan menatap laptop Laurinda tentang biodata wanita yang di katakan meninggal tersebut.
"Apa maksudnya semua ini?" Tanya Anindira, hanya dirinya yang seakan terlalu lemah dalam memikirkan hal tersebut.
"Dia memalsukan kematiannya." Ujar Tyaga santai. Hanya mereka bertiga yang bisa mengerti betapa licik dan kerasnya hidup kalangan orang kaya.
''Kalian sudah tau? Kalian memang hebat, bagaimana mungkin kalian bisa menebak tepat sasaran sekali.'' Puji Anindira, pada ketiganya yang menampilkan wajah angkuhnya. Mereka sudah pantas disatukan karena sikap mereka yang hampir mirip satu sama lain.
''Baiklah, sudah dulu untuk puji memujinya. Sekarang kita beri dia pelajaran.'' Tunjuk Vijendra pada layar laptop.
Nadine mengangguk. ''Kita laporkan saja langsung kepihak yang berwajib.'' Usul Anindira yang membuat ketiga orang itu hanya bisa menghela nafas panjang.
''Baiklah, sekarang apa rencana kalian?'' Tanya Tyaga, sedangkan Laurinda hanya menyimak karena tugasnya hanya berhubungan dengan it bukan memikirkan masalah rumit yang Nadine hadapi.
''Baiklah, buat dia tampil sendiri di atas panggung yang kita buat. Kita buat dia sendiri yang mengumumkan kematiannya.'' Ujar Nadine menyeringai, Vijendra mengangguk.
''Baiklah, kita mulai dari besok. Persiapkan dirimu Laurinda dan juga kau Anindira. Besok adalah hari penuh drama dan melelahkan.'' Ujar Vijendra sembari berdiri dari duduknya dan keluar dari rumah Nadine.
''Saya permisi nona...'' Ujar Tyaga yang kini sudah ikut berdiri dan keluar setelah mendapat anggukan dari Nadine.
''Kau tinggal disini Laurinda, ada yang harus kau selesaikan sebelum tidur. Menginap saja disini.'' Laurinda hanya mengangguk dan kembali menatap laptop.
''Kalian akan menyelesaikannya sendiri? Tidak mau meminta bantuan hukum?'' Tanya Anindira, Nadine merangkul gadis yang masih terselimuti rasa penasaran itu.
__ADS_1
''Kita akan melakukan hal besar besok, jangan terlalu terkejut nanti.'' Ucap Nadine lalu menepuk pelan pundak Anindira.
Anindira hanya bisa diam, tak ada yang akan menjawab pertanyaan sebelum esok hari.
''Apa yang harus aku kerjakan Xavier?'' Tanya Laurinda yang masih terbiasa menggunakan nama Xavier.
''Kau hanya perlu memanipulasi.......Banyak penipuan di dunia ini jadi kita akan menipu orang yang sering menipu.'' Ujar Nadine lalu meminta Laurinda mengerjakan sesuatu.
Anindira hanya bisa memperhatikan dan mencoba mencerna semuanya. Hingga larut malam barulah mereka beristirahat karena kantuk yang sedari tadi terus menerjang.
Mereka tidur dalam satu kamar, Nadine tak mempermasalahkan kedua orang itu tidur di tempatnya. Mereka bahkan saling memeluk tanpa sadar saat dingin menerpa tubuh mereka.
***
Di sebuah penginapan yang megah dan mewah, seorang wanita tengah duduk dengan seorang pria di atas ranjang. Mereka saling merangkul satu sama lain dan menikmati malam yang indah.
''Kau sudah meyakinkan suamimu? Sepertinya ia masih yakin bahwa foto itu kamu.'' Ujar pria itu sembari mengecup pundak wanita di sebelahnya.
Dengan sama-sama memakai kimono, mereka menikmati wine yang sudah tersedia. ''Tentu, mudah untuk meyakinkan pria tua itu. Jika bukan karena nona Aurora mengetahui rahasiaku, mana mau aku mengikuti ucapannya.'' Ujar Wanita itu sembari menyesap wine yang seharga rumah.
''Syukurlah sekarang wanita licik itu tidak menganggu kita lagi. Oh ya, apa kau tau wanita yang sedang di rumorkan membunuh mu itu? Sepertinya bukan dari orang biasa.'' Ucap pria, wanita yang di tanya seakan tidak peduli.
''Mana ku tau, aku hanya menjalankan apa yang ia minta. Apa kau ada fotonya?'' Tanya wanita itu lagi yang kini mulai penasaran, pria itu meraih ponselnya dan mencari berita itu.
''Aneh, foto wanita itu tidak ada. Rasanya tadi masih di sebarluaskan.'' Wanita itu meraih ponsel prianya lalu menaruh di nakas.
''Wanita lemah! Jangan pikirkan siapa dia. Bagaimana kalau kita lanjutkan sesuatu yang tertunda. Berada di samping suami tuaku itu membuat diriku tidak puas akan nikmatnya dunia.'' Ujar wanita itu dengan senyum menggoda.
''Tentu nyonya, aku akan melayani mu.....''
__ADS_1
Lalu terjadilah pergulatan yang hanya di nikmati berdua.
Bersambung......