
Malam yang begitu gelap, tepatnya jam 12 malam. Nadine dan yang lain menuju villa tempat Ivander bersembunyi. Entah apa yang mereka rencanakan, namun terlihat para pria membawa tas yang besar.
Mereka membawa dua mobil yang mereka parkir tepat di sebelah villa. Pastinya tidak akan ada yang tau karena villa itu terbukti tidak ada cctv. Tyaga dan Vijendra sudah memastikannya.
''Ayo masuk!'' Ajak Anindira yang hendak menuju gerbang. Nadine menarik kerah baju Anindira dari belakang.
''Enak saja, kau pikir kita kesini untuk bertamu.'' Sarkas Nadine dengan wajah kesal, entah bagaimana Anindira bisa menyandang gelar polisi jika dirinya bodoh begini.
''Lalu? Kita kemari untuk apa?'' Tanya Anindira dengan polosnya.
''Mencuri!'' Ketus Nadine dengan menatap Tyaga yang sedang berjongkok membangun sebuah tangga di tembok pekarangan villa tersebut.
''Hey!"
"Syuttt! Jangan berisik..." jeda Nadine sembari menaruh telunjuknya di depan bibir. Tyaga melirik sebentar lalu menggeleng, untung adiknya tidak ikut. Maka mereka bertiga akan lengkap jika di satukan.
"Kau gila! kau itu pengacara dan seorang polisi apa kau ingin ku seret ke penjara?" Lirih Anindira tapi masih tetap dengan suara tertahan.
"Ck, William juga polisi. Lihat wajahnya, dia biasa saja tuh." Ucap Nadine menunjuk William yang ada di sebelah Vijendra.
"Pasang wajah marah!" Titah Anindira dan William langsung memasang wajah marah. Astaga, polisi satu itu memang sudah terlanjur jatuh cinta pada gadis ini. Pikir Nadine.
"Sudahlah! Lagian kita mencuri di rumah ku sendiri dan aku mengizinkannya! Dari kawasan ujung villa ini hingga depan sana adalah milik papaku! Bukankah tidak salah mengambil hak sendiri? Benar tidak kak?" Ucap Nadine meminta persetujuan.
"Benar nona muda." Ucap Tyaga lalu pria itu berdiri karena tangganya sudah siap.
"Ayo naik! Ini akan menyenangkan...." Ucap Nadine antusias, ia seakan mengulang apa yang ia lakukan di masa lalu.
''Hati-hati...'' Kata Vijendra kala sang adik yang tadi terus diam, naik dan masuk melalui tembok.
Mereka membungkuk dan menghindari para penjaga yang ada di depan pintu villa.
Krak!
''Sialan!'' Umpat Nadine kala Anindira menginjak ranting, gadis itu tersenyum menunjukan deretan gigi putihnya.
Untung para penjaga itu bodeg, jadi bunyi itu tak sampai terdengar.
Mereka masuk melalui pintu belakang, tak ada yang bisa masuk villa saat malam begini. Para pelayan pergi setelah membersihkan villa dan hanya menjaga yang ada di depan pintu.
''Hah! Sampai juga....'' Ucapnya dengan lega, Nadine menatap villa yang begitu lenggang. Tak ada yang tinggal di sini kecuali Ivander.
Dulu, Nadine dan Justin akan sering kemari untuk berlibur karena saat pagi hari, pemandangan di luar villa sangatlah indah. Nadine bergegas mengeluarkan barang yang di bawa oleh Tyaga, Ivander dan William di tas yang Nadine berikan.
''Apa ini?'' Panik Laurinda kala melihat rambut hitam panjang dari dalam tas, ia tarik dan rambut itu ada kepalanya.
''Aaa!! ummmm!!'' Nadine langsung menutup mulut Laurinda kala gadis itu hendak berteriak histeris.
''Jangan berteriak, atau kita akan di cingcang di villa ini.'' Kata Nadine menakut-nakuti, padahal kalau pun ketahuan dirinyalah yang akan mencincang mereka.
''Tapi apa ini?!'' Tanya Laurinda dengan lirih sembari bergidik ngeri kala melihat rambut tadi tergeletak di lantai.
__ADS_1
''Iya Xavier, apa yang akan kita lakukan? Kita tidak jadi mencuri? Padahal villa ini di penuhi barang-barang mewah. Kalau di jual pasti dapat satu kos-kosan.'' Ujar William melihat isi villa, jika miskinnya meronta-ronta kala melihat barang mewah.
''Ingat kau itu polisi, jaga image!'' Anindira memberi peringatan.
''Kita akan membuat sebuah kejutan, untuk mencuri nanti aku akan mengambil apa yang tidak bisa mereka ingat.'' Ucap Nadine dengan wajah bangganya.
Nadine memberikan semuanya pakaian yang sudah ia siapkan. Nadine mengulurkan sebuah pakaian pada Tyaga yang terlihat menghindar.
''Saya kita, saya tidak ikut nona.'' Ucap Tyaga karena tau apa yang akan dilakukan oleh nona mudanya.
''Tentu saja dapat! Kakak adalah kunci segalanya.'' Ucap Nadine dengan senyum miring.
Semuanya menerima kostum mereka masing-masing. ''Wahhh....Aku tak percaya dalam hidupku harus seperti ini. Mimpi apa kemarin diriku ini hadeh.....'' Anindira hanya bisa terus mengeluh.
.
.
.
Di sebuah kamar yang luasnya seluas lapangan. Seorang pria tengah tertidur dengan pulasnya, ini sudah tengah malam. Siapa juga yang masih terjaga malam-malam begini? Kecuali orang itu sudah gila.
Dengkuran halus pria itu terdengar jelas. Pergerakan mulai ia rasakan di sebelahnya, dirinya ingin membuka mata namun sayangnya ia sangat mengantuk.
Tidurnya kembali terusik kala ada yang menetes di dahinya, lalu turun ke pipi. Ivander mulai terusik, tangannya meraih pipinya yang basah.
Matanya terbuka perlahan, bola matanya membulat sempurna. ''Darah?'' Ucapnya lirih kala melihat tangannya penuh darah. Meski kamar yang remang-remang, dirinya masih bisa melihat dengan jelas.
Glekk
Ivander perlahan menoleh ke sebelahnya dengan rasa takut. Sedetik kemudian.....
''AAAAAA!!!!!"
Gedbruak.......!
Ivander terjungkal ke bawah karena terkejut ada seorang wanita di sebelahnya. Sayangnya, jika wanita itu sungguhan maka Ivander tidak akan kabur.
Wanita dengan rambut yang panjang menutupi sebagian wajahnya. Sedangkan sebagian wajah yang terlihat begitu menyeramkan, dengan darah dan mata yang memutih.
"Aaaaa!!!!!" Teriak Ivander lari Luntang-lantung, kakinya lemas tidak bisa di gerakan.
"Kikikikikik!!!!" Suara yang begitu melengking hingga membuat telinganya sakit.
Saat menoleh wanita lain kembali bermunculan Ivander semakin takut, wajahnya pucat. "Bawa aku pergi sayang.....Selama kau berada di penjara aku merindukanmu kikikikiki......"
"Tidak! Pergi sana! Hantu jelek! Pergi!!!!" Teriak Ivander berlari keluar dengan kaki yang di seret.
"Akh!"
"Nona muda! Anda terluka?" Tanya Tyaga yang tadinya berada di atas kasur bersama Ivander. Ini sungguh adegan yang patut di abadikan. Rencana gila yang di buat oleh Nadine sangat berpengaruh.
__ADS_1
"Ah....Aku tidak apa? Apa mereka sudah siap di luar?" Tanya Nadine sembari menatap Tyaga.
"Sudah nona...."
"Ayo keluar." Nadine dan Tyaga keluar kamar.
Cctv di dalam rumah sudah di kelabui dengan gambar yang sengaja di buat untuk menutupi kejadian ini.
Vijendra berlari hendak menuju bawah memanggil para bodyguard. "Tinggallah disini sayang ......Aku akan menjagamu.....Kikikiki....." Ucap Anindira yang berpenampilan sama dan duduk di pagar tangga.
"Tidak!! Aku tidak mau!! Pergi!! Kalian semua pergi!!! Akh!" Teriakan Ivander terdengar kala dirinya terjatuh dari tangga atas hingga bawah.
Anindira yang syok menengok ke bawah. "Apa dia masih hidup?" Gumam nya takut, tapi saat melihat Ivander menyeret P@nt@tnya membuat Anindira bernafas lega.
''Syukurlah ku kira aku membunuhnya.'' Ucap Anindira bermonolog sendiri.
''Sayang......Tinggallah di sini sayang.... Kik...Kik...kik...'' Ucap Laurinda dengan menggantung di atas. Suara cekikikannya berbeda dari yang lain karena dirinya tidak bisa cekikikan seperti mbak kun-kun.
Untung saja Ivander tidak ngeh dan semakin takut. ''Pergi!!! Jangan ganggu aku!!!'' Teriak Ivander dan menutup matanya. Dengan segera Laurinda di tarik oleh sang kakak dan kepala yang Laurinda temukan tadi di lempar tepat di genggam oleh Ivander dengan mata tertutup.
Lampu di mainkan oleh William layaknya di film-film horor. Pintu di luar sudah di gendor-gedor semakin menambah kesan horor. Kalau di depan pintu itu, bukan Nadine yang punya rencana.
Itu adalah para bodyguard yang seperti ingin masuk dan untung sudah di kunci dari dalam oleh Vijendra.
''AAAAA!!!" Teriak Ivander yang di akhiri dengan tak sadarkan diri.
"Dia mati?" Tanya William yang menghampiri Ivander.
"Tidak mungkin, mana ada yang terkejut bisa langsung mati." Ucap Nadine yang datang dari atas.
"Bukankah ada yang meninggal karena serangan jantung?" Celetuk Anindira yang membuat Nadine melotot.
Mereka berlari cepat menuju Ivander bahkan hampir tersandung karena baju putih panjang yang mereka pakai. Di belakang Tyaga yang bisa menggeleng pelan. Melihat tingkah mereka yang tidak akan ada habisnya.
"Hah! Syukurlah, aku kira dia mati." Ucapnya lega kala Ivander hanya pingsan.
"Sepertinya penjaga di luar sudah mulai menghubungi yang lain. Ayo cepat berberes, kita tidak punya waktu." Ucap Tyaga, mereka segera membereskannya. Mengusap darah buatan di pipi dan tangan Ivander lalu menyeting semuanya seakan Ivander terjatuh dari tangga.
Mereka keluar setelah membuka kunci pintu dan kabur dari tempat mereka masuk. "Hah! Akhirnya...." Ucap lega Anindira yang sudah seperti datang dari perang.
"Kau lihat wajahnya Hahaha....Rasakan itu..." Ledek Nadine yang cekikikan mereka mulai membicarakan Ivander termasuk Laurinda yang terlihat puas.
"Apa yang kau lihat?" Tanya Vijendra pada William, pria itu membesarkan volume Vidio.
Kikikikikikk
"Aaaaa!!!" Kini giliran ketiga gadis itu yang berteriak dan lari tunggang-langgang. Karena mengira yang mereka dengar tadi adalah hantu sungguhan.
"Lah? Kenapa mereka lari?" Para pria menertawai ke tiga gadis itu. Mereka suka menakuti Ivander tapi ternyata benar-benar takut pada hantu.
Bersambung......
__ADS_1