
Brukk....
Bukan jatuh, melainkan Anindira dengan sengaja menyenggol bahu Aurora saat akan memasuki ruangan yang masih sangat runyam. Anindira masuk dengan mudah saat tadi ia di beri kartu akses oleh salah satu pegawai, dengan pemaksaan dan ancaman tentunya.
Jadi, Anindira tidak melanggar aturan apapun kecuali saat menjadi pegawai bohongan tadi.
"Kenapa? Panik? Atau takut?" Tanya sinis Nadine kepada Aurora yang terlihat diam saja menatap tajam Anindira dan Nadine secara bergantian.
"Takut? Heh! Tidak ada dalam kamusku kata itu. Silahkan periksa, kau akan menanggung akibat dari perbuatan mu." Ujar Aurora yang terdengar seperti ancaman. Ia menunjukkan bahwa itu bukanlah apa-apa.
Nadine hanya tersenyum sinis, sedangkan Aurora sudah masuk kedalam untuk melihat sejauh mana Anindira bertindak.
.
.
.
.
Brak!
Seorang gadis yang tengah duduk di meja kerjanya, terkejut dan hampir terjungkal kala di kejutkan dengan beberapa polisi yang masuk tiba-tiba.
Aurora yang di belakang polisi memberi isyarat kepada gadis itu.
Sepertinya Aurora menanyakan tentang kepemilikan palsu yang sudah di buat oleh bawahannya itu. Gadis itu mengangguk yakin kala menatap Aurora.
"Oohoooo....Apa ini? Seperti tempat rahasia...." Ujar Anindira mencoba seperti terkejut.
"Jika seperti tempat rahasia, kenapa kau bisa tau tempat ini? Bahkan pegawai disini saja tidak tau. Aneh...." Tanya Aurora yang seperti memancing opini untuk menyudutkan Anindira.
Ia sudah tau kalau sebenarnya Anindira menyamar masuk dan mengira hanya akan membuat direktur park malu, tapi sepertinya ia keliru.
Bukannya direktur park yang di permalukan tapi dirinya juga ikut di seret, akan tetapi itu tidak membuat Aurora terlihat takut. Ekspresi wajahnya masih tetap sama, seakan tidak ada yang ia sembunyikan.
Media sudah mulai menyorot dari luar karena polisi berjaga di depan ruangan khusus itu. Anindira berbalik menatap Aurora dengan wajah santainya.
__ADS_1
"Tentu aku tau, karena aku seperti anj*ng pelacak yang siap menemukan sebuah rahasia tersembunyi." Sahut Anindira.
"William, periksa semuanya disini. Apakah barang berharga ini milik nona Aurora atau penyelundupan!" Titah Anindira.
"Baik! Tunjukan surat kepemilikan emas ini!" Ujar William pada gadis yang sedari tadi berdiri di sebelah kursi kerjanya.
"Tunggu sebentar...." Ujar gadis itu lalu kembali mengotak-atik komputernya.
Wajahnya terlihat mendadak pias saat berkas yang ia buat menghilang di komputernya. Apakah kerena virus? Oh tentu saja tidak! Anindira sudah memprediksi ini akan terjadi, jadi ia meminta Laurinda meretas komputer gadis itu.
"Kenapa lama? Apa ketemu? Atau memang tidak ada?" Desak William yang seperti tau bahwa gadis itu sedang panik.
"Tunggu sebentar! Saya sudah mencetaknya ta-" Ucapan gadis itu terhenti kala surat yang ia cetak tiba-tiba menghilangkan. Gadis itu sangat yakin kalau ia sudah membuat cetakan surat itu tadi, tapi kemana hilangnya?
"Kenapa? Tidak ketemu?" Tanya Anindira saat melihat gadis itu menunduk dalam.
"Nona Aurora, bisa ikut kami? Sepertinya pernyataan anda di perlukan dalam kasus ini.'' Tanpa menolak atau menyangkal, Aurora ikut dan menurut.
Ini yang membuat Nadine merasa aneh, tidak ada kesenangan dalam hatinya kala Aurora diam dan menurut seperti itu.
"Ada apa dengan perasaan ku? Kenapa aku gelisah? Seperti akan ada badai di tengah teriknya matahari."
Nadine sedari tadi hanya menyaksikan dari luar, di sela-sela wartawan yang sedang berebut berita. Tak ada yang menyadari kalau Nadine ada disana karena wajahnya yang tertutup kaca hitam, topi dan masker.
Saat Aurora berjalan di depan Nadine, Aurora terlihat menyeringai. Entah mengapa, ada rasa takut yang terselip di hatinya secara tiba-tiba. Tak ingin memikirkan sesuatu yang belum terjadi, Nadine menepis perasaan itu agar tidak ia jadikan pikiran.
Aurora keluar dengan di kerumuni oleh wartawan, yang seharusnya menjadi bahan utaman yaitu direktur park, kini pria itu bisa melarikan diri agar media tidak meliputnya.
****
"Bagaimana? Kau senang? Namamu telah bersih, lalu Aurora itu juga sebentar lagi masuk penjara." Ucap Laurinda pada Nadine yang sedang duduk di sebelahnya, menikmati nasi goreng yang Bu Ida buat.
"Hah! Andai saja aku bisa memenjarakan maka akan sangat senang." Ujar Anindira yang tiba-tiba masuk kedalam restoran dengan wajah lesu.
Nadine menautkan kedua alisnya, lalu menatap Anindira yang berjalan gontai dan duduk di kursi depan Nadine. "Kasus ini di serahkan langsung ke pusat, aku tidak bisa ikut campur di dalamnya." Ujar Anindira menyahuti tatapan dari Nadine karena mulut gadis itu sibuk mengunyah.
"Hah! Orang kaya memang beda, tapi yang pasti Aurora sudah pasti akan di penjara." Ujar Laurinda menyahuti, Nadine hanya melirik lalu tersenyum tipis.
__ADS_1
Polos sekali pemikiran Laurinda, itulah yang ada di pikiran Nadine.
Ia sangat tau bahwa dalam beberapa jam ke depan, sudah di pastikan bahwa Aurora akan terbebas entah itu karena jaminan atau memang ada yang mau menanggung perbuatannya.
Begitulah orang yang terpandang menurut Nadine, mereka sangat mudah memanipulasi sebuah fakta menjadi kebohongan.
''Oh iya, kemana rekan kita yang terhormat?'' Tanya Anindira kala tidak melihat Vijendra yang biasanya selalu ada.
''Kakakku? Dia di panggil oleh tuan muda karena nona Aurora yang terlibat kasus. Katanya perusahaan mulai mengalami beberapa masalah dan tuan muda membutuhkan kakak untuk ikut dengannya.'' Ujar Laurinda.
''Ini juga, Tyaga sepertinya akan kesusahan menghadapi masalah perusahaan. Maka dari itu dia tidak bisa ikut dalam misi ini.'' Lanjut Laurinda lagi.
Nadine mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah Laurinda. ''Apa bibi sudah kembali?'' Tanya Nadine menanyakan bi Yuri.
Laurinda mengangguk. ''Hmm, ibu sudah kembali kesana karena ada sedikit masalah katanya.'' Ujar Laurinda terlihat sedih.
Baru saja beberapa hari ibunya disini sudah harus kembali bekerja, padahal ia sudah lama tidak melihat sang ibu. Tapi, Laurinda tidak mengeluh karena ia tau tugas sang ibu sangat penting.
''Sudah, ayo istirahat! Kita harus istirahat untuk menghadapi yang akan terjadi." Ujar Nadine yang kini sudah beranjak menuju dapur Bu Ida.
****
Di dalam sebuah ruangan yang sangat familiar, seorang pria sedang berlutut memohon ampunan dari sang kuasa.
''Saya mohon tuan!! Saya sama sekali tidak tau akan hal ini, saya tidak tau bahwa istri saja bisa melakukan semua itu atas dasar dendam." Ujar direktur park dengan tetap memohon.
Brian tengah duduk di kursinya menatap angkuh kepada pria yang sedari tadi berlutut. "Kau tidak tau? Atau memang kau ingin memberontak? Jangan-jangan kau berencana mengkhianati perusahaan ini?" Tanya Brian santai, pria itu seperti senang akan kejadian di depannya.
"Tidak! Saya bersumpah bahwa saya tidak pernah mengkhianati perusahaan sama sekali. Hidup bisa saya pertaruhkan untuk perusahaan ini tuan...." Ujar jujur direktur park kepada Brian.
Kesetiaannya pada perusahaan tidak bisa di ragukan lagi. Kinerjanya yang bagus dan selalu membawa keuntungan dalam perusahaan. Brian sangat tau itu, namun yang ia tidak suka adalah direktur park yang selalu mengungkit Christian.
Tuan Christian baik lah, tuan Christian ramah lah dan sebagainya. Itu yang membuat Brian sangat muak akan direktur park. Meski sudah tau Christian di benci oleh orang-orang namun, itu tidak membuat direktur park gentar atau ragu akan Christian.
Karena memang Christian begitu baik padanya sewaktu dirinya masuk kedalam perusahaan. Keluarganya di tanggung, bahkan tak segan-segan Christina turun tangan sendiri untuk memantau kesehatan orang tua direktur park.
Yang membuat direktur park marah adalah, kenapa orang sangat mudah di perdaya? Melupakan semua kebaikan yang Christian tanam hanya dengan satu rumor yang direktur park percaya itu bohong.
__ADS_1
Sebanyak apapun berita yang menjelek-jelekkan Christina, tidak membuat direktur park percaya kecuali memang dirinya sendiri yang mendengar langsung dari Christian.
Bersambung...