Dendam Atau Keadilan

Dendam Atau Keadilan
Part 24


__ADS_3

Duarrr.....Darrrrr.....Darrrr.....


Ledakan yang begitu luar biasa terdengar dari depan gedung. Bu Ida menutup mulutnya tak percaya saat sudah berada di depan gedung. Pak Murti memeluk istrinya yang juga terkejut dan takut.


Semuanya terkejut dengan yang mereka lihat. Malam yang sunyi dan gelap kini terisi dengan ledakan bom di langit sana. Nadine dan Tyaga saling melempar pandangan seakan saling menukar pikiran lewat tatapan mereka.


''Kalian tidak apa? Apa yang meledak itu?'' Tanya Anindira sembari mendekat ke arah Nadine dan Tyaga.


''Apa kau gila!!!" Teriak Tyaga dengan wajah marah, tatapannya sungguh mengobarkan kemarahan dan ketakutan yang sangat terlihat jelas. Bahkan, ia tidak menjawab ucapan Anindira yang sudah berdiri di sebelah Vijendra.


"Aku_" Ucapan Nadine terhenti saat Tyaga memeluknya erat. Tubuhnya terasa bergetar dan pelukan itu mengerat. Bahkan Tyaga memejamkan matanya saat memeluk erat Nadine.


Rasa takut, lega dan marah menjadi satu, membuat Tyaga membentak Nadine dengan keras. Semuanya hanya diam menatap interaksi kedua manusia yang masih tetap saling memeluk.


Nadine mengelus punggung pria kekar yang sedang mengkhawatirkannya itu. "Aku tidak apa....Aku tau kau akan melindungi ku ka-kakak....'' Ujar Nadine untuk pertama kalinya memanggil kakak selain Justin saat dia dewasa.


Tyaga melerai pelukannya dan memegang bahu Nadine. Menatapnya tajam dan lekat. ''Anda pikir apa? Jika saya tidak pulang, apa saya hanya akan melihat tubuh anda yang terbagi menjadi beberapa bagian? Kenapa anda ceroboh sekali nona muda!! Apa yang harus saya katakan pada tuan dan nyonya besar saat saya meninggal nanti.'' Ujar Tyaga terlihat frustasi, wajahnya gusar terlebih lagi melihat Nadine yang tersenyum.


''Katakan pada mereka bahwa aku bahagia dan senang bersama mu.'' Ucap santai Nadine, Tyaga semakin kacau. Bukannya takut, nona mudanya ini malah semakin melawan.


''Nona muda, saya tidak sedang bercanda! Anda mengerti bukan!'' Ucap Tyaga penuh penekanan. ''Baiklah, baiklah.....Sekarang berikan benda yang asli.'' Ujar Nadine setelah Tyaga berdiri tegak di depannya.


Nadine mengadahkan tangannya dan di sambut oleh Tyaga dengan flashdisk yang ia ambil dari orang suruhan Nadine yang asli.


''Apa sekarang sudah bisa menjawab pertanyaan ku? Apa yang meledak tadi?'' Tanya Anindira yang tidak sabaran.


Nadine membalik badannya dan menatap Anindira. ''Yang meledak tadi?'' Tunjuk Nadine pada langit yang meledak, semuanya mengangguk penuh tanda tanya.


''Ohhh....Itu bom...'' Ujarnya santai, Tyaga sudah menepuk keningnya karena sikap nona mudanya.


Semuanya terlihat panik, wajah mereka mengisyaratkan ketakutan. ''Astaga....Jadi kita hampir saja mati saat di restoran?'' Tanya Bu Ida kembali menutup mulutnya tak percaya. Nadine mengangguk.


''Lalu itu bom ada padamu?'' Tanya pak Kotim yang membuat semua orang menatap Nadine dengan menuntut. Gadis itu kembali mengangguk.

__ADS_1


''Kenapa kau santai sekali?!! Apa ini adalah rencana mu?'' Anindira melontarkan pertanyaan yang membuat semua orang merasa ragu pada Nadine yang terlihat biasa saja.


''Ini bukan rencana nona muda. Nona sendiri tidak tau bahwa flashdisk yang dia pegang adalah bom waktu. Jika bom itu meledak kalian tidak akan apa-apa karena yang akan hancur berkeping-keping adalah nona muda sendiri karena dia yang membawanya.'' Jelas Tyaga agar tidak ada yang salah paham pada Nadine.


''Astaga....Bagaiman ini? Hidup kita sedang terancam.'' Ucap Bu lila panik, pak Murti menenangkan istrinya.


''Kita bahkan belum punya anak.'' Ujar pak Murti menimpali.


''Aku akan pindah dari sini dengan segera setelah berita miring itu hilang. Kalian jangan khawatir, aku tidak akan melibatkan siapapun.'' Ujar Nadine menjawab ucapan pak Murti dan Bu lila.


Nadine tidak marah, dia tau bahwa mereka semua pasti merasa was-was setiap harinya karena kejadian ini. Kekhawatiran mereka sangat bisa di maklumi. Terlebih lagi banyak hal yang harus mereka hadapi saat Nadine pindah ke gedung ini.


Nadine berjalan masuk di ikuti oleh Tyaga, Laurinda, Vijendra dan Anindira. Mereka menaiki tangga menuju rumah bi Nani.


''Kalian ini! Kalian sudah dengar bahwa yang akan terluka itu hanya Nadine, lalu kalian bicara seperti itu? Bagaimana perasaan Nadine. Ck!'' Kesal Bu Ida yang menuju restoran.


''Nadine sudah kehilangan orang tuanya dan harus menghadapi berita miring tentangnya. Kalian ini hanya menambah sedih anak itu saja!'' Ucap pak Kotim yang juga ikut meninggalkan pasangan suami istri itu.


''Apa kita salah ya pak?'' Tanya Bu lila pada suaminya yang juga sepertinya merasa bersalah.


***


Di ruang tengah rumah bi Nani, mereka duduk berkumpul.


Setelah berdebat dengan Nadine yang melarang mereka ikut, Tyaga dan yang lain ikut masuk saat Nadine kalah adu argumen.


Nadine mulai mengotak-atik laptopnya setelah memasukan flashdisk yang Tyaga dapat. Untuk penipu tadi, Tyaga sudah mendapatinya tewas dengan kepala di tembak oleh seseorang. Yang pasti bisa dia tebak bahwa semuanya adalah ulah dari Aurora.


Vidio di putar dan di saksikan semuanya. Mereka bingung kenapa di dalam Vidio tidak ada yang aneh. Semuanya berjalan sebagaimana mestinya, tak ada yang ganjal.


''Tidak ada yang aneh, apa Vidio ini salah?'' Tanya Anindira sembari menunjuk layar laptop Nadine.


Semuanya yang tadi terlihat antusias kini malah lesu tanpa tenaga. ''Tidak, ini adalah vidio di lokasi proyek.'' Ujar Laurinda menyahuti ucapan Anindira.

__ADS_1


Vijendra, Nadine dan Tyaga masih tetap memperhatikan Vidio bahkan berulang kali. ''Tunggu!!'' Ucap Nadine dan Tyaga.


''Ada apa?'' Tanya Vijendra yang menjeda Vidio itu, Nadine menatap waktu yang tertera di ujung layar, juga melihat durasi Vidio.


''Coba lanjutkan sedikit.'' Ujar Tyaga dan Nadine masih memperhatikan.


''Stop!'' Ucap Nadine dan Vidio berhenti, setelah beberapa detik Nadine menghela nafas.


''Ternyata vidionya di edit, lihat bagaimana mungkin durasi Vidio dari 2.34 jadi 5.34.'' Ujar Nadine menunjuk durasi Vidio.


''Nona benar, Vidio ini di rekayasa.'' Ujar Tyaga menyetujui.


Yang lain mengangguk mengerti saat mengamati hal yang di tunjuk Nadine. Gadis itu menyandarkan tubuhnya di sofa. Kepalanya mendadak sakit saat dirinya tak bisa menemukan hal yang seharunya ada.


''Berarti kita tidak bisa menyelidiki semuanya? Apa ada cara agar Vidio itu kembali utuh?'' Tanya Anindira saat cctv ini adalah satu-satunya jalan agar semuanya ada titik terang.


''Tidak ada yang bisa IT di antara kita.'' Sahut Nadine.


Laurinda keluar dari sana tanpa sepengetahuan yang lain. Beberapa menit, dirinya kembali dengan laptop.


''Aku bisa memulihkan Vidio itu.'' Ujar Laurinda yakin, semua mata tertuju padanya.


''Kau yakin?'' Tanya sang kakak yang masih tidak percaya. Memang benar jika Laurinda sangat tertarik pada bidang IT namun ibunya selalu melarang Laurinda terjun kesana.


Menurut ibunya, di bidang itu sama sekali tidak bisa menghasilkan uang. Laurinda di paksa untuk masuk universitas yang menjerumus ke bisnis seperti sang kakak.


''Iya, aku yakin.'' Ujar Laurinda yang duduk di antara Nadine dan kakaknya.


Ia membuka laptop khusus miliknya dan memasukan flashdisk itu ke laptopnya. Tangannya seakan sudah ahli dan memencet tombol dengan cepat dan gesit.


Anindira yang menatap layar laptopnya hanya bisa pusing sendiri. Tak ada yang ia mengerti, semuanya bahasa yang tidak ia pahami. Sedangkan Nadine dan dua orang itu juga tidak mengerti namun hanya memperhatikan Laurinda melakukan tugasnya.


''Selesai!'' Ujar Laurinda dengan senyum mengembang. Kini semua yang ia pelajari secara diam-diam akhirnya berguna juga.

__ADS_1


''Coba kita lihat....'' Laurinda memutarkan Vidio yang sudah pulih kembali.


Bersambung.....


__ADS_2