
Keesokan paginya, di sebuah mension besar. Lebih tepatnya di ruang makan, suasana menjadi tegang. Tangis yang terdengar begitu melengking namun tak mengalahkan teriak seorang pria yang terdengar marah.
Siapapun tidak akan berani mendekat meski hanya berjarak dua meter sekalipun. Para pelayan hanya datang untuk menyajikan makanan untu tuannya, setelah itu langsung pergi karena kondisi yang tidak kondusif.
Pria itu menatap wanita yang sedang menangis tersedu-sedu, bukannya merasa kasihan tetapi dia malah menyalahkan semuanya pada sang istri.
''Ini semua karenamu! Jika saja kau tidak melahirkannya maka kita tidak akan serumit ini! Lihat dia!!! Lihat!! Dengan perbuatannya kita sudah mendapatkan malu yang sangat besar!! Mau kemana harus ku taruh wajahku ini!!!"
Brakk
Meja di gebrak dengan sangat keras.
Teriak pria itu menunjuk pada wanita yang masih menangis tersedu-sedu, namun bukan karena bentakan atau teriakan sang suami. Melainkan memikirkan kondisi sang anak yang memaksa untuk masuk kedalam penjara. Bukan hanya itu, bahkan dengan nekatnya sang anak melarikan diri ke penjara.
Para polisi terheran-heran saat melihat perilaku sang tahanan. Bukannya menahan sang pelaku tapi polisi malah hendak mengembalikan pria itu kerumah sakit, takutnya pasien rumah sakit yang lepas. Bagaimana tidak mereka berfikir seperti itu, pria yang datang dengan wajah linglung lalu pakaian acak-acakan, dan pakaian khas rumah sakit membuat semuanya berfikir pria tersebut lepas dari rumah sakit.
Setelah mendapat konfirmasi dari atasan mereka bahwa pria tersebut adalah salah satu tahanan, pada akhirnya penjara di bukakan untuk pria itu yang tidak lain dan tidak bukan adalah Ivander.
"Baru kali ini ada pria yang memaksa untuk di masukan ke dalam sel! Dan itu hanya putramu!! Hanya dia yang selalu berteriak meminta di tahan!! Hanya dia yang memaksa untuk masuk ke penjara!!! Akh!!! Kenapa aku bisa memiliki putra sepertinya." Pria dengan tubuh kekarnya duduk di kursi setelah memaki, menunjuk dan menghina sang istri yang masih saja menangisi putra kesayangannya.
Pria itu memijit pelipisnya, kepalanya terasa akan meledak saat kejadian itu di ketahui oleh publik. Mau kemana dia sembunyikan wajahnya itu.
"Dia juga putramu! Kau tidak lihat wajahnya mirip denganmu! Bagaimana bisa kau sebagai seorang ayah hanya bisa memikirkan dirimu saja. Kau tidak lihat! Putra kita terlihat pucat dan malah memilih penjara bukannya rumah sakit! Hiks....Putraku yang malang....." Tangis Belen semakin pecah saat mengingat putranya.
__ADS_1
"Putramu memang gila! Aku tidak memiliki putra sepertinya!" Ucap Brian yang seakan-akan tidak menginginkan putranya.
"Apa kau bilang!! Tidak memiliki putra! Kau yang sudah membuat kedua putraku seperti itu! Kau juga membuat putriku yang ceria seperti balok es sekarang! Apa kau sadar! Karena sikap egois dan ambisi mu semakin membuat kami menderita! Itu semua kesalahan mu!" Teriak Belen berdiri lalu menunjuk Brian dengan tangannya.
"Kau juga menikmati setiap ambisi yang aku dapatkan! Sekarang menyalahkan ku saja! Apa kau lupa kau berada disini karena siapa! Kau berada disini karena ambisi ku! Kalian menikmati hal mewah dengan gratis karena diriku! Jangan lupakan itu!!" Teriak Brian yang tidak terima egonya di lukai.
"Kau-"
"Bisa kalian diam? Atau aku akan membuat kalian bungkam selamanya." Gadis yang sedari tadi diam dan menonton kini mulai akan suara setelah menatap laptopnya sangat lama.
Pertengkaran yang sungguh mengoyakkan hati dan perasaan, seakan tidak mempengaruhinya. Seakan semuanya sudah sering ia dengar, terlihat dari cara ia menatap dan bicara. Tak ada perasaan atau emosi dalam ucapan dan matanya.
Namun mata dan aura berubah drastis saat suaranya terdengar, sangat menakutkan dan mencengkam.
"Kalian ingin menyalah satu sama lain? Maka lakukan itu nanti, saat ini diamlah. Masalah Ivander sudah aku atasi, sekarang sarapan dahulu sebelum aku membalikan seluruh meja ini." Ucap datar oleh Aurora terdengar seperti ancaman menakutkan. Air mata Belen surut seketika.
Tak ada yang bersuara, kedua orang itu sarapan dengan tenang. Seperti biasanya mereka hanya bertiga karena Justin tidak pernah ada di mension saat pagi hari, pria itu bisa saja ke kantor pagi-pagi sekali atau tidak keluar kamar dan hanya keluar saat siang hari.
Hingga sarapan selesai, semuanya terdiam. Aurora mengelap bibirnya dengan anggun lalu menatap kedua orang yang tadi bertengkar hebat dengan raut wajah datar. Sungguh menyeramkan gadis itu, karena tak ada emosi atau perasaan dalam ucapan maupun matanya.
''Dengar! Ivander mendapatkan perawatan dari dalam penjara, aku sudah menghubungi anak buah ku untuk melakukan tugas itu. Pa untuk masalah media semuanya sudah beres, tak akan ada yang berani mengungkit itu. Dan yang perlu ku lakukan sekarang adalah menjinakkan kucing liar itu." Jelas Aurora untuk menjawab semua pertengkaran tadi.
"Apa Nadine yang membuat Ivander ketakutan dan memilih penjara? Gadis sialan itu!!!'' Belen terdengar murka, dirinya tidak salah menebak karena siapa lagi yang Aurora maksudkan dengan kucing liar selain Nadine.
__ADS_1
''Cukup diam dan tenang sudah sangat membantu. Aku yang akan menjinakkan kucing itu.'' Ujar Aurora lalu bangun dari tempat duduknya.
''Berarti gadis itu belum kapok juga setelah kematian Nani?'' Ujar Brian dengan melirik Aurora yang mengangguk.
''Apa kau yang membunuh Nani? Apa kau yang membuatnya mati?'' Tanya Belen yang sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya, sebabnya ia sangat mengenal suaminya. Belen merasa suaminya adalah dalang dari kematian mendadak bi Nani.
''Kau pikir aku akan mengotori tanganku untuk membunuh seorang pelayan? Bahkan untuk membunuh pasangan suami istri itu saja aku lakukan saat mereka sudah terkapar tak bernyawa.'' Sahut Brian dengan wajah serius, dirinya memang tidak melakukannya.
Semuanya terjadi begitu saja dan mengejutkan untuknya.
''Tapi saat kejadian kau tidak ada di mension? Kau adalah orang pertama yang ku curigai.'' Ucap Belen jujur, suaminya tak ada di mension tepat saat bi Nani di bunuh dan itu membuat Belen curiga.
''Cih! Kau tidak lihat agenda ku? Saat itu aku sedang bersama dengan beberapa klien dan bermain golf.'' Sahut Brian jujur, dirinya sudah di tuduh dari awal oleh istrinya.
Melihat pertengkaran yang dirasanya tidak bermanfaat sama sekali. Aurora berjalan keluar ruang makan tanpa mau mendengar atau sekedar pamit.
Semua itu membuat kedua orang yang saling bicara itu menatap penuh kecurigaan. Mereka saling bergelut dengan pikiran masing-masing saat Aurora pergi begitu saja.
''Apa Aurora yang membunuhnya?'' Tebak Belen dengan rasa bimbang. Putrinya itu tak bisa di tebak, banyak rahasia yang dirinya simpan sendiri tanpa mau melibatkan papanya sekalipun.
''Entahlah, siapapun itu yang pasti tidak akan mempengaruhi hidupku maka terserah.'' Ucap santai Brian lalu menjauh dari ruang makan. Belen hanya menatap kepergian suaminya dengan tatapan yang sungguh tak bisa diartikan.
Bersambung........
__ADS_1
Hay ya para readers , author jadi lama up karena kesibukan. Mohon pemakluman nya ya? Jangan pergi dan tinggalkan author sendiri, cukup dia yang pergi dan menyisakan kenangan kalau kalian sisakan jejak saja😉😘