Dendam Atau Keadilan

Dendam Atau Keadilan
Part 34


__ADS_3

''Hah! Andai saja ada yang bisa menggantikan posisi Aurora di penjara maka perusahaan tidak akan menurun. Dia adalah kunci kesuksesan perusahaan.'' Ucap Brian cukup keras dan menyandarkan tubuhnya berakting seakan sedang dilema berat.


Direktur park mendongak, ia bukan orang bodoh yang tidak tau maksud ucapan tuan didepannya. Ucapan pria itu seakan menyudutkan nya dan memintanya untuk jatuh.


''Apa jaminannya jika saya menerima tuduhan yang di berikan pada nona Aurora? Apa nantinya saya akan bebas?'' Tanya direktur park sebelum dirinya membuat keputusan yang benar-benar akan merubah hidupnya.


Mungkin gunjingan ini hanya akan berhenti sebentar lalu di lupakan, tapi direktur park tidak berfikir tentang itu. Melainkan, bagaiman jika saham perusahaan mulai menurun? Bagaimana jika perusahaan mulai mengalami keruntuhan? Bukankah usaha Christian selama ini akan sia-sia?


Terlebih lagi ini adalah perusahaan yang turun-temurun. Jika orang yang berada di posisinya tentu tidak akan memikirkan orang lain. Direktur park menatap Brian di depannya. Pria yang tidak akan jadi apa-apa tanpa putrinya Aurora.


Pria yang asal merebut posisi Presdir dan membuat anaknya melakukan semuanya. Termasuk Justin, putra tirinya yang harus puntang-panting untuk mengurus beberapa masalah membantu Aurora.


''Sungguh? Sungguh kau ingin menerima itu semua. Jika benar maka setelah beberapa hari kau di penjara maka aku akan mengeluarkan mu dan mengembalikan posisimu.


''Hah...'' Bukannya tidak percaya, dengan mudah Aurora bisa mengeluarkannya namun, ia ragu jika Brian yang bicara. Putranya saja masih mendekam di penjara, yang lebih tepatnya seperti hotel karena Evander di jadikan raja di penjara. Tentunya karena suruhan Aurora.


''Baiklah! Saya akan mengakui semua itu, namun tuan harus menepati ucapan anda." Ujar tegas direktur park yang lebih mementingkan perusahaan ketimbang dirinya.


Brian mengangguk lalu memutar kursinya hingga menghadap ke belakang setelah kepergian direktur park. "Terperangkap!" Ucapnya setelah panggilan terhubung.


****


Senja mulai menutup dirinya dan berganti dengan malam yang terlihat lebih gelap dari sebelumnya. Gelap yang seakan-akan akan membawa berita buruk kepada seseorang dan menutupi setiap kejahatan yang di lakukan orang malam hari.


Di depan kantor polisi, Aurora keluar dengan ekspresi datarnya. Karena pengacau kecil seperti Nadine membuatnya harus berada di kantor polisi dan mengalami kerugian.


''Selamat datang nona...'' Ujar elice sebagai pengendali semuanya saat Aurora di penjara. Elice yang sama, yang juga orang kepercayaan sekaligus tangan kanan Aurora. Cctv yang tak tertandingi.


Aurora hanya berdehem lalu pandangan tertuju pada mobil yang kini berhenti di depannya. Seorang pria dengan tubuh gagah dan tegap keluar dan memberi hormat pada Aurora.


''Selamat datang kembali nona...'' Ujar Xperia yang lebih di kenal dengan nama mixo, tangan kiri Aurora yang merupakan tentara Rusia yang terlempar disini dan menjadi bawahan Aurora.

__ADS_1


Aurora berjalan ke arah mobil yang sudah di bukakan oleh mixo. ''Bagaimana? Sudah kau lakukan?'' Ujar Aurora pada elice yang sudah duduk di kursi depan bersama mixo yang mengemudi.


''Tentu nona, sesui perintah.'' Ujar elice, wanita yang memiliki ambisi tinggi. Ingin segala sesuatu yang di lakukan oleh Aurora berhasil sama seperti Delisha, namun jika Delisha akan mendukung perbuatan yang sedangkan Elice, baik buruk dia dukung yang penting Aurora senang.


''Bagus! Kita sudah selesai bermain-main. Kini balasan untuk kerugian dan harga diriku yang sempat hancur karena tikus jalanan itu. Lajukan mobilnya ke apartemen, suasana hatiku sedang buruk untuk menghadapi setiap pertanyaan adik sialan itu.'' Ucap Aurora sembari menutup matanya perlahan.


Siapa lagi adik yang ia anggap sialan, tentu saja Justin yang polos itu. Akan selalu bertanya dan mempercayai ucapan Aurora. Entah sihir apa yang di berikan Aurora hingga Justin se penurut itu.


***


''Bibi?'' Ucap Nadine kaget kala bi Nani terlihat berdiri di ambang pintu restoran dengan wajah lelahnya. Sepertinya bi Nani sama sekali tidak dapat istirahat beberapa hari ini.


Bahkan tidak pulang kerumah dan membiarkan Nadine sendirian. Memang tidak masalah jika bi Nani tidak pulang karena harus mengurus beberapa orang di rumah besar dan memandu pelayan dengan baik.


''Nona, apa kabar? Sepertinya nona terlihat sangat letih.'' Ujar bi Nani sembari mengelus kepala Nadine hingga membuat hati Nadine berdesir.


Entar desiran apa, yang pasti itu menyisakan sesak yang tiba-tiba. Nadine berdiri secara tiba-tiba dan memeluk wanita setengah abad itu.


''Bibi yang lelah, kenapa malah menasehatiku? Ayo duduk, kita makan malam bersama.'' Ajak Nadine dan bi Nani menurut begitu saja.


''Nona sudah dewasa ya? Dulu nona masih harus bibi kejar dulu jika ingin makan.'' Ujar bi Nani menatap wajah Nadine yang sibuk menuangkan air pada gelas untuk bi Nani.


''Tentu! Aku sudah besar, bisa menjaga bibi dengan seluruh hidupku.'' Ujar Nadine, bi Nani seakan belum puas menatap Nadine sedari tadi.


''Jangan pertaruhkan hidup nona hanya untuk melindungi wanita tua ini. Nona juga punya kehidupan yang harus di lalui.'' Ujar Bi Nani dan sekali lagi mengusap pucuk kepala Nadine.


Suasana berubah sendu, keberhasilan Nadine membongkar salah satu Aurora seakan membuat hati Nadine bergetar hebat saat bi Nani seperti sekarang ini.


''Hey! Kenapa ini seperti acara perpisahan saja....'' Celetuk Bu Ida yang kini membuat Nadine menoleh padanya.


Ia terdiam sesaat lalu menatap mantap Bu Nani. Do genggamannya tangan Bi Nani erat dan menatapnya lekat. ''Bi Nani berhenti dari pekerjaannya itu ya? Aku bisa membiayai kebutuhan hidup bi Nani dan putri bi Nani yang jauh disana.'' Ucap Nadine mantap dan terdengar tak ingin di gugat.

__ADS_1


''Baiklah, bibi setuju. Lagi pula tabungan bibi sudah cukup dan anak bibi juga sudah dewasa dan bisa mencari uang sendiri.'' Bi Nani menyetujuinya dengan mudah.


Meski sedikit merasa lebih baik namun rasa sesak itu masih ada.


Mereka kembali makan dengan bungkamnya Nadine. Laurinda dan yang lain mengobrol karena menganggap Nadine memang seperti itu, selalu pendiam.


.


.


.


.


.


''Oh iya, kenapa bibi tidak pulang saat Xavier di kabarkan ada di negara ini?'' Tanya Anindira setelah mereka menyelesaikan makan malamnya.


Sedetik kemudian, Anindira mengaduh sakit kala Zahra mencubi lengannya. Zahra sangat tau jika bi Nani pasti tidak bisa keluar mension dan membuatnya harus berada di penjara tak berjeruji itu.


''Ada apa? Aku tidak salah bertanya kan?'' Bisik Anindira merasa ucapannya salah. Bi Nani hanya tersenyum menanggapi.


''Semua pelayan tidak di berikan izin pulang karena takut diserang oleh wartawan hingga membocorkan beberapa yang mereka lihat di kediaman Richards.'' Jelas bi Nani yang menampilkan guratan kesedihan saat tidak bisa menemani nona mudanya di saat seperti itu.


Melihat suasana hening dan sedikit sedih, Nadine tersenyum kepada bi Nani. ''Tidak apa bi, aku sangat yakin kalau bibi pasti mendoakan aku dari sana agar bisa membuktikan bahwa aku benar.'' Ujar Nadine menyemangati.


Anindira mengetuk mulutnya beberapa kali karena merasa bersalah atas pertanyaannya. Mereka kembali ke rumah masing-masing saat Nadine dan bi Nani kembali kerumah.


''Hah....Kenapa melihat mereka berdua membuatku bersedih..... Kehidupan mereka terlihat menyedihkan...'' Gumam Bu Ida yang menatap kekosongan restoran kala di tinggal oleh Nadine dan yang lain.


Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2