
Sebuah mobil Van baru saja terparkir di depan gedung. Vijendra dan yang lain keluar dari mobil lalu menuju restoran tempat Tyaga dan Nadine menunggu.
Anindira sudah senyum-senyum dengan tujuan ingin menggoda Nadine. ''Kalian sudah datang? Ayo duduk, Bu Ida sedang memasakan pesanan kalian.'' Ujar Tyaga yang sudah duduk di sebelah kiri Nadine.
''Vero bahkan sampai lupa bahwa ini adalah harinya....'' Goda Anindira sembari duduk di sebelah kanan Nadine. Bahkan suara dan gerak tubuhnya mengikuti Nadine saat menjadi Veronika.
''Tutup mulutmu!'' Ujar Nadine dengan ekspresi datar namun suaranya terdengar kesal. Anindira tidak peduli, ia semakin gencar menggoda gadis pemarah di sebelahnya.
''Sayang.....Kau ini tau saja. Apa Vero boleh.....Hmmm!!!'' Anindira menghentakan kakinya kala Nadine dengan tidak berperasaan menyumpal mulutnya dengan tisu yang di gumpalkan.
''Kau itu berisik!!" Seru Nadine dengan wajah senang karena Anindira benar-benar diam dengan wajah kesal.
''Kau tidak bisa diajak bercanda! Ada yang manusia sepertimu!!'' Kesal Anindira setelah tisu di mulutnya ia singkirkan.
''Kau tak perlu memujiku.'' Ujar Nadine yang kini beralih mengetuk meja dengan santainya. Menghiraukan wajah sebal Anindira. Mereka memang tidak bisa di satukan karena sifat yang bertolak belakang.
''Ck, kalian selalu saja bertengkar. Tidak bisakah aku sebentar saja?'' Tanya William yang merasa heran.
''Tidak!!'' Sahut keduanya bersamaan lalu saling menatap dan berpaling bersamaan seakan tidak ingin melihat satu sama lain.
''Jangan libatkan dirimu di pertengkaran mereka William, atau kau sendiri yang akan pusing. Sebaiknya sekarang kita makan....'' Ujar Laurinda yang kini sudah menunjuk Bu Ida yang datang dengan pesanan mereka.
Tyaga memang sudah memesan sebelum mereka datang.
''Dari mana nak Xavier? Kau terlihat sangat cantik.'' Puji Bu Ida yang memang jujur. Dengan gaun yang biasanya tidak ia gunakan kini harus ia gunakan untuk menipu sisi. Sisi feminim dalam diri Nadine terlihat jelas.
''Siapa? Dia? Cantik? Apa Bu Ida tidak perlu periksa ke dokter? Siapa tau mata ibu katarak.'' Ujar Anindira dengan tersenyum sinis, Nadine mulai tersulut emosi.
''Sepertinya ada yang iri, apa perlu aku perlihatkan secantik apa diriku?'' Mereka berdua kini sudah saling menatap tajam.
''Ohh, iri? Tidak ada dalam kamus ku rasa iri. Aku hanya ingin memberitahu Bu Ida bahwa gadis yang di puji itu seperti malaikat maut!'' Sahut Anindira dengan tatapan menghina.
''Malaikat maut!! Maka akan ku cabut nyawamu sekarang juga!!'' Ujar Nadine yang kini bersiap untuk mencekik Anindira.
''Oh tidak!! Malaikat maut ingin mencabut nyawa bidadari cantik dan sesuci diriku....Akan aku kutuk kau menjadi batu.'' Ujar Anindira yang sudah memegangi tangan Nadine agar tidak menyentuh lehernya.
''Hah....Sepertinya ibu salah bicara....'' Ujar Bu Ida, Vijendra melirik Bu Ida lalu menatap kedua gadis yang sedang adu argumen itu, lalu ia tersenyum. Gadis yang biasanya diam dan jarang bicara jika sudah beradu dengan Anindira maka sikapnya akan berubah kekanak-kanakan.
__ADS_1
Meski mereka berakhir bertengkar. William yang ada di sebelah Anindira sudah berusaha menarik tangan gadis itu agar kembali duduk. Namun selalu di tepis dan malah semakin runyam.
''Ohohoho.....Kau pikir dirimu bidadari? Ah....Iya kau memang bidadari yang datang dari selokan.'' Hina Nadine yang tidak mau kalah. Anindira semakin kesal dan menunjuk Nadine.
''Dari selokan!!! Lalu kau lebih parah dariku. Kau adalah malaikat maut yang datang dari spiteng...Iyuhhh....'' Ujar Anindira yang kini semakin memanas.
''Apa!!! Kau...''
''Bisa kalian diam!!!'' Bentak Tyaga yang kini sudah kehilangan kesabaran menghadapi keduanya.
Mereka terdiam dan duduk kembali saat merasakan aroma bahaya dari Tyaga yang sudah kesal. Tyaga memijit pelipisnya, ternyata se-cerewet apapun adiknya. Se-bawel apapun adiknya, ternyata nona mudanya akan lebih berisik saat bertemu Anindira.
Kepalanya mendadak pusing dan telinganya sakit kala mendengar keduanya beradu argumen.
Semuanya terdiam, Bu Ida sudah menatap makanan dan kembali ke dapur saat suasana mencekam. Tyaga sekalinya bicara sudah seperti bom yang bisa membungkam semuanya.
''Kenapa diam? Kalian tidak makan?'' Tanya Tyaga menatap semuanya satu persatu. Vijendra tersenyum, akhirnya keheningan terjadi dan mereka bisa makan lebih tenang dari pada melihat dan mendengar perdebatan mereka berdua.
Semuanya mulai makan dan saling melirik, kecuali Anindira dan Nadine yang masih saling mengunci mulut mereka.
Di saat mereka sibuk dengan keheningan, telepon genggam Vijendra berdering. Senyumnya menyeringai kala melihat dari orang yang tak di kenal.
Tanpa menjawab mereka tersenyum, panggilan mulai berlangsung dan bisa di dengan di telinga masing-masing.
''Halo, dengan siapa?'' Sapa Vijendra dengan tangan yang sibuk mengaduk pasta di piringnya yang belum habis.
''Halo, apa benar ini adalah tuan Jordan?''
''Benar, saya sendiri. Anda siapa?'' Tanya Vijendra basa-basi.
''Ahaha.....Ternyata benar, saya kira salah nomor. Perkenalkan saya Sisi, ada yang ingin saya bicarakan dengan anda. Apa bisa kita bertemu?''
Suara sisi yang di buat-buat membuat telinga Vijendra sakit mendengarnya. Namun tidak ia tunjukan. ''Tentu, jika ada waktu maka saya akan menghubungi anda nanti?'' Ujar Jordan sedikit mengulur waktu, ia ingin sisi percaya bahwa dirinya orang sibuk.
Vijendra menunjuk Nadine untuk memainkan perannya. Telinganya sudah gatal meski baru sebentar mendengar suara sisi yang di buat manja.
''Sayang.....Ayo!! Banyak orang yang sedang menunggu kita di luar. Apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Nadine yang kini sudah menjadi Veronika.
__ADS_1
"Ada yang menelpon sayang dia-"
''Jangan katakan tuan, nanti saya sendiri yang akan menyampaikannya pada nyonya Veronika.'' Ucap sisi di seberang sana menghentikan kalimat Vijendra.
''Dia siapa sayang?'' Tanya Veronika dengan senyum devil.
''Dia dari salah satu perusahaan. Ayo kita keluar.'' Vijendra menutup telponnya tanpa ucapan selamat tinggal.
Laurinda bergidik kala mengingat suara sisi. ''Ada yang makhluk jadi-jadian seperti sisi?'' Ucapnya tanpa sadar.
''Hahaha.....Kau harus sabar....Masih ada beberapa hari lagi kau harus mendengar suaranya.'' Ujar Anindira menyemangati meski dirinya juga geli.
''Ayo lanjutkan makan kalian, kita harus banyak tenaga untuk menghadapi manusia sepertinya.'' Ujar William yang sudah makan dengan cepat.
.
.
.
.
.
Brakkk!
Pintu terbuka dengan keras, seorang wanita paruh baya dengan koper yang ia seret dan datang menemui gerombolan anak yang sedang duduk sehabis menikmati makanan mereka.
"Ibu!!!" Pekik Laurinda senang, namun yang di panggil ibu tidak menghiraukan dan malah kini berdiri di sebelah Nadine.
"Nona muda!!!"
Prankkk!
Piring yang di pegang oleh Bu Ida pecah kala mendengar teriakan beruntun. Tak peduli dengan pecahan piring, wanita itu kini menghampiri arah suara.
"Ibu Yuri...." Ujar Nadine dengan tersenyum. Ibu yang dulu ia anggap sebagai ibu kedua karena sering datang ke mension untuk menjadi teman bicara Chalondra.
__ADS_1
"Nona muda kenapa kembali?!' Tanya Yuri dengan wajah marah yang lebih takut. Senyum Nadine menghilang kala melihat guratan marah dalam wajah Yuri.
Bersambung.......