Dendam Atau Keadilan

Dendam Atau Keadilan
Part 39


__ADS_3

Di rumah Nadine, semuanya berkumpul. Anindira, Laurinda dan William sudah datang dari area mall. Sedangkan Zahra, entah apa yang di minta oleh Nadine hingga membuat gadis itu tak terlihat batang hidungnya.


''Apa yang kalian dapat di sungai itu?'' Tanya Anindira yang memang sudah tau bahwa Nadine yang membuat kepala tim mereka kewalahan, untuk bersembunyi darinya.


Awalnya ia memang terkejut, namun saat tau bahwa itu semua untuk menutupi kemungkinan kebocoran kasus maka Anindira menyetujui semuanya. Kepala tim mereka kembali di posisinya, dan Anindira menyelidiki kasus ini secara rahasia.


''Hmm, ini kasus pembunuhan.'' Ucap Nadine tanpa ragu. Anindira sudah menebak bahwa ini semua janggal. ''Apa yang kalian dapatkan di mall?'' Tanya Nadine saat Anindira diam saja.


''Kau harus melihatnya sendiri, aku tidak akan menjelaskannya.'' Ucap Anindira, menggelengkan kepalanya saat mengingat kejadian di mall.


''Kenapa?'' Tanya Nadine, Anindira tetap bungkam tak mau menjelaskan.


''Proyek itu, di berikan kepada Delisha. Saya tidak ingin nona menyakitinya.'' Ucap Tyaga serius, menanggapi ucapan Nadine yang menurutnya pasti akan membuat gadis impiannya itu kesusahan.


Nadine dan yang lain menoleh pada Tyaga, pria yang sedang memasang tampang serius. ''Woaaah....Ini mimpi? Seorang Tyaga punya gadis pujaan? Wahhh ini berita besar....Zahra akan senang mendengarnya. Lagian gadis itu selalu menjodohkan setiap gadis di apartemen ini untuk menjadi kakak iparnya.'' kata Anindira dengan berdecak kagum.


Tak ada yang menyangka bahwa Tyaga juga manusia. Manusia yang tidak hanya memiliki wajah sedatar tembok tapi juga memiliki kisah cinta yang menurut Anindira sangat langka. Tak ada spesies seperti Tyaga.


Nadine sedikit terkejut, meski itu bukan karena Tyaga yang menyukai Delisha. Akan tetapi pengakuan yang tak pernah Nadine sangka akan keluar dari mulut pria kaku itu.


''Hmm.... Akhirnya kau mengaku, terkadang cinta masa kecil juga akan menyeretmu masa depan.'' Ucap Nadine santai lalu membuka laptopnya untuk melihat surel dari beberapa klien nya.


''Nona muda....'' Ucap Tyaga yang seakan meminta kepastian akan ucapan Nadine. Ya atau tidak? Tyaga lebih suka yang spesifik dan pasti, meski Delisha belum memberikan kepastian atau sekedar hanya merespon dirinya.


''Ck! Kau seperti Tante Charlotte! Sangat suka mendesak orang, aku tidak berjanji untuk tidak menyakitinya. Jika semasih dia tidak merusak rencanaku maka aku yakin dia tidak terluka." Ucap Nadine dengan nada yang tidak mau tau.


"Sudah lah! Kenapa suasana jadi tegang gini suasananya. Aku lapar, kalian mau pesan apa?" Ucap Anindira sembari mengeluarkan ponselnya.

__ADS_1


Semuanya memberikan pesanannya pada Anindira karena mereka akan memesan makanan lewat online. "Kau mau apa Nadine?" Tanya Anindira pada gadis yang sibuk membalas surel di laptopnya.


"Hmm, jika kau yang mentraktir ku maka aku akan akan memesan." Kata gadis itu tanpa rasa malu sedikitpun.


"Alah! Tyaga selalu memanggil mu dengan sebutan nona muda. Tapi untuk makanan saja kau tidak bisa beli sendiri." Sindir Anindira, namun tiba-tiba bibirnya terkatup sempurna saat melihat tatapan mengerikan dari Tyaga. "Ka-katakan! Aku yang bayar!" Ucap Anindira mengalah, dari pada harus meregang nyawa dengan tatapan Tyaga lebih baik kehilangan beberapa ribu.


Nadine tersenyum miring, dirinya bukan tidak punya uang hanya saja ingin mengerjai Anindira. "Aku pesan, soto ayam, nasi goreng, ayam panggang, topoki, jangjangmyon, kentang goreng, corndog, ayam crispy, ayam gep-"


"Yak!!! Kau ingin membuatku bangkrut!!" Teriak Anindira yang kini sudah emosi jiwa karena pesanan Nadine yang seakan-akan memberi 10 orang makan. Nadine tertawa puas saat melihat wajah Anindira.


Laurinda juga ikut terkekeh karena memang jika mereka berdua di satukan akan sangat lucu. ''Sudahlah Nadine....Pesan yang semampu kantong Anindira saja...'' Ucap Laurinda menengahi.


''Baiklah, baiklah....Jangan darah tinggi gitu....Aku pesan nasi campur sama es teh. Itu saja, uang mu cukup kan?'' Tanya Nadine meledek. Anindira hanya memutar bola matanya malas menjawab ucapan Nadine.


''Oh iya, mantan direktur park ingin bertemu denganmu. Ini ada surat yang jatuh ke kepolisian kami.'' Ucap William memberi surat pada Nadine.


''Dan sebelum menemui direktur park, satu hal yang harus kau pikirkan nona muda.'' Ucap Tyaga yang kini berucap saat melihat pesannya.


''Ohh jadi Ivander keluar hotelnya dan memilih kuburan?'' Tanya Nadine yang memang sudah menebak semua itu.


Pasti keluarga Brian memanfaatkan kematian bi Nani dan membuat Ivander keluar penjara. Nadine menatap Laurinda, ingin tau bagaimana reaksi gadis itu.


Vijendra yang mendengar bajing@n itu keluar penjara membuatnya mendidih seketika. Tatapannya tertuju pada kembarannya.


''Kau baik-baik saja?'' Tanya Vijendra memecah keheningan. Anindira yang ada di sebelahnya, memegang tangan Laurinda menguatkan.


''Kau harus bertemu dengannya secara langsung....'' Ucap Nadine kembali mengotak-atik laptopnya.

__ADS_1


''Apa maksudmu?'' Tanya Vijendra hendak protes.


''Apa? Tentu saja Laurinda harus menemui Ivander dan membalas dendam. Hukum hanya membuat mereka penjara, namun luka akan selalu terbuka.'' Kata santai gadis itu tanpa mengalihkan pandangannya.


''Apa nona akan membuat Ivander mengalaminya lagi?'' Tebak Tyaga yang sungguh ambigu. Nadine mengangguk tanpa menoleh.


''Pria itu harus kembali ke penjara dengan sendirinya.'' Ucap Nadine dengan senyum yang sungguh tak bisa di artikan. Entah apa maksudnya, hanya mereka berdua yang tau.


Nadine yang sudah sangat mengenal sifat Ivander dan yang lain.


Ting, tong


Anindira membuka pintu dan membawa masuk makanan yang mereka pesan. ''Ayo makan sebelum berperang. Kata orang tua, lebih baik mati setelah kenyang dari pada mati kelaparan.'' Ucap Anindira yang entah dengan maksud menghibur atau merundung.


''Jika ingin mati, duluan saja. Aku masih punya banyak urusan dengan dunia. Aku tidak mau jadi hantu yang banyak masalah nantinya.'' Ucap Nadine.


Semuanya mengambil makanan yang mereka pesan dan mulai memakannya. ''Kau benar, aku juga tidak mau mati sebelum orang itu mati. Bahkan jika aku mati sekarang, akan aku seret orang itu ikut bersamaku.'' Ucap Anindira dengan air muka serius.


Semuanya menatap gadis itu, seperti ada aura menyeramkan yang tiba-tiba muncul. Nadine merasa bahwa setiap orang yang ada disini memiliki sebuah rahasia. Baru Laurinda yang terungkap rahasianya, sekarang siapa giliran selanjutnya.


Meski begitu, Nadine akan mendukung apapun keputusan mereka. Walaupun baru mengenal beberapa bulan, Nadine sangat ingin membantu mereka yang membantunya.


''Baiklah, stop katakan kematian karena yang mati sungguhan itu sudah ada. Lihat! Karena dirinya bermain dengan kematian, akhirnya kematian itu datang secara di sengaja." Ucap Vijendra yang kini mengalihkan perhatian mereka.


"Siapa yang tiada?" Tanya William menggantikan Anindira yang hendak bertanya.


"Nyonya sisi yang terhormat, istri dari direktur park. Mati karena di bunuh oleh teman se sel nya." Ucap Vijendra sembari menyeruput mie yang ia pesan.

__ADS_1


Semuanya hanya mengangguk, tak heran jika sisi meninggal. Memang dirinya sudah meninggal saat di berita itu kan? Meski palsu maka Aurora akan mewujudkannya kala orang itu tak bisa membuat rencana berhasil.


Bersambung.......


__ADS_2