
Di depan gedung, Nadine menadahkan tangannya pada seseorang dan di berikan sebuah flashdisk yang ia minta. Setelah memberikan isyarat, Nadine memasukan flashdisk itu ke dalam kantong jaketnya.
Tepat di waktu yang sama, Tyaga baru saja turun dari mobilnya dan melihat seorang pria memakai topi dan masker sedang berjalan menjauh setelah bertemu dengan Nadine yang sudah melangkah menuju masuk ke restoran.
Raut wajah Tyaga berubah, pikirannya bingung. Ada urusan apa nona mudanya pada pria tadi. Masih dengan kebingungannya, seseorang datang menghampirinya.
''Permisi tuan...'' Ujar Orang itu yang kini membuat Tyaga menoleh ke arah suara.
***
Di dalam restoran, Nadine baru menginjakan kakinya. Semuanya terlihat bersenang-senang dan bersemangat. Laurinda dan Anindira memperlihatkan senyum mereka dan Bu Ida bersama Bu lila menata makanan di atas meja.
Plak!
''Jangan di makan dulu pak, kasihan yang paling tua, pak Kotim belum menyentuh makanan.'' Ujar Bu lila pada suaminya yang hendak menyentuh makanan di hadapannya.
''Bapak tau paling tua di antara kalian, setidaknya jangan secara langsung. Bapak kan terlihat tuan sekali.'' Protes pak Kotim.
''Bapak memang sudah tua!!!" Teriak semuanya kecuali Nadine, Vijendra dan Bu Ida. Setelah berteriak mereka menertawai pak Kotim yang terlihat kesal.
"Jangan menganggu yang lebih tua..." Ujar Bu Ida menengahi.
"Kau memang penyelamatan Ida, mereka semua sama." Ujar Pak Kotim berusaha membela diri.
Laurinda merangkul pak Kotim yang ada di sebelahnya. Pria paruh baya yang sudah terlihat keriput namun masih memiliki semangat muda. Untuk mengajarkan kepada orang muda seperti mereka bahwa dunia itu berat namun mudah jika di jalani dengan ikhlas.
"Tenang pak....Saya tidak ikut berteriak bersama mereka." Ujar Laurinda dengan membela diri yang sudah nyata salah.
"Benar pak, saya juga tidak ikut-ikutan.'' Ujar Anindira yang juga ikut merangkul pak Kotim dari sebelah kiri. Mereka berdua mencari aman sebelum pak Kotim marah.
''Padahal kalian yang paling keras tadi berteriak.'' Ujar pak Kotim menggeleng, semuanya tertawa termasuk Anindira dan Laurinda yang melerai rangkulannya.
''Sudah, ayo makan. Kasihan Nadine....'' Ucap Bu Ida.
Nadine yang sudah memegang ayam dan hendak memasukan ayam itu ke mulutnya, kini terdiam membeku. Semua mata menatapnya karena tanpa sepengetahuan mereka Nadine hendak mendahului.
''Makan...'' Ucap Nadine kaku, wajah tanpa malu itu menjadi tertawaan karena menurut mereka sikap Nadine terlihat menggemaskan.
__ADS_1
Vijendra yang berada di sebelah Nadine juga terkekeh karena melihat tingkah Nadine.
Semuanya mulai makan saat sudah menetralkan tawa mereka. Sebenarnya bukan menunggu pak Kotim selaku yang tertua, hanya saja mereka ingin makan malam ini terlihat lebih ramai dengan adanya sedikit pembicaraan.
''Siapa setuju kita minum hari ini!!!?" Teriak Bu Ida semangat.
"Kami setuju!!!" Teriak Semuanya tak terkecuali Nadine yang sudah mulai terbiasa dengan penghuni gedung.
"Dimana bocah itu?" Tanya Nadine yang sejak beberapa hari lalu belum melihat si polos Zahra.
"Katanya hari ini Zahra harus menghadiri jamuan perpisahan di kampusnya. Dan itu membuat Zahra sedih, dia bilang akan datang menghiburmu setelah pulang dari kampus." Ujar Anindira menyahuti pertanyaan Nadine. Gadis itu hanya mengangguk.
Menunggu Bu Ida mengambilkan minuman, semuanya berbincang. Vijendra sedikit mendekat ke arah Nadine yang terlihat menyimak perdebatan antara Bu lila dan pak Murti.
''Kau sudah menemukan pembunuh kasus Anindira?'' Bisik Vijendra yang membuat Nadine membulatkan mata lalu menutup mulutnya.
''Bagaimana kau tau?'' Tanya Nadine yang tadi menjauh kini mendekat. Sikapnya sedikit berubah karena sering bergaul dengan penghuni gedung. Mulai membiasakan diri menunjukan ekspresinya.
Vijendra tersenyum. ''Dua hari sebelum sidang bukankah kita berpapasan saat akan turun tangga?'' Ucap Vijendra, membuat Nadine kini memutar memory saat berpapasan dengan Vijendra.
Blam...
Pintu rumah ia tutup dengan keras karena waktu yang sudah menunjukan pukul 08:30. Dirinya telat 30 menit untuk menandatangani beberapa berkas untuk kelulusannya yang sudah nyata.
Yang mengujinya bukan lagi dosen, namun langsung pakar hukum terbaik di negara ini. Bahkan kepintarannya jangan di tanya lagi. Pakar hukum itu mengancungkan kedua jempolnya untuk Nadine karena kepintaran yang bisa memahami segala hal dalam waktu cepat.
Saat terburu-buru hendak turun, Nadine sibuk membenahi kemejanya dengan tangan yang menenteng berkas yang seharusnya tak ia simpan di dalam rumah. Siapa saja bisa masuk ke rumah itu untuk mengambilnya jadi, Nadine sudah waspada akan hal buruk yang akan terjadi nanti.
Brukk
Semua berkas berjatuhan, saat Nadine tak sengaja menyenggol Vijendra yang juga hendak turun ke lantai satu.
''Maaf....'' Ujar Vijendra lalu membantu memungut berkas itu.
Matanya tak sengaja membaca salah satu berkas yang berjudul 'investasi sungai batu' Saat ingin membuatnya, Nadine sudah menarik berkas itu dan pergi ke lantai bawah dengan terburu-buru.
''Bukankah itu kasus Anindira?'' Gumam Vijendra yang kemudian hanya menyimpan firasat itu sendiri dan turun ke lantai satu.
__ADS_1
Flashback off
''Aaa....Iya, kau membacanya?'' Ucap Nadine dengan tatapan menyelidik. Vijendra mengangguk mantap.
''Hah! Itu kasus aku yang ambil, sampai sekarang saja kepala tim itu harus bersembunyi dari gadis gila seperti Anindira yang selalu mencarinya mati-matian.'' Ucap Nadine menyandarkan tubuhnya pada kursi yang ia duduki.
''Katakan saja pada Anindira. Tak semua bisa kau hadapi sendiri. Aku akan membantumu jika kau membutuhkanku.'' Ucap Vijendra dengan yakin, Nadine menoleh lalu menghela nafas panjang.
Melihat itu, Vijendra tau apa yang gadis itu rasakan. ''Kalau begitu biarkan aku ikut dalam penyelidikan itu.'' Ucap Vijendra dengan menatap kedua bola mata Nadine.
Belum ada sahutan di bibir Nadine, mereka hanya saling menatap dan terdiam.
Blammmm!!
Suara keras pintu membuat Nadine dan yang lain menatap orang yang sedang berdiri ngos-ngosan di pintu yang terbuka. Tatapan pria itu kini tertuju pada Nadine yang terlihat santai.
"Ada apa Tyaga?" Tanya Bu Ida dari arah dapur dengan tangan yang menenteng dua Bolot minuman.
Tyaga masih menatap mata Nadine lalu berjalan cepat dan menarik tangan gadis itu agar berdiri. "Ada apa?" Tanya Nadine bingung, Tyaga merogoh kantong jaket yang Nadine gunakan.
"Apa yang kau lakukan!?" Sentak Nadine yang terus menolak tangan Tyaga yang masuk menggapai benda itu.
Tanpa peduli ucapan Nadine, Tyaga kini mengeluarkan benda itu dari saku jaket Nadine. Wajah Nadine dan Tyaga kini menegang secara bersamaan saat melihat benda itu.
"Sial!!" Umpat keduanya marah, lalu mereka berlari dengan kencang keluar restoran.
"Ada apa? Apa ada gempa?" Tanya pak Murti yang ikut panik.
Yang lain sudah ikut berlari keluar menyusul Nadine dan Tyaga. "Hey?!! Ada yang bisa menjawab! Ada apa? Apa yang terjadi? Apa kita akan berlindung atau bagaimana? Kenapa semuanya berlari?" Teriak pak Kotim lagi yang sebenarnya ikut berlari mengikuti semuanya menuju keluar gedung.
"Diamlah pak! Ikuti saja! Siapa tau dapat sembako...Kan lumayan..." Ujar Istrinya menyahuti pertanyaan suaminya yang tidak di jawab oleh yang lain.
Bu Ida yang di belakang mereka hanya bisa menggeleng.
Duarrr.....Darrrrr.....Darrrr.....
Bersambung.....
__ADS_1