
''Tunggu sebentar tuan Jordan, saya akan akh-''
Brakk
''Maaf nyonya, saya tidak hati-hati.'' Ujar seorang gadis dengan rambut pirang yang di tata rapi dan pakaian staf kitchen.
Sisi terlihat ingin marah namun sayangnya panggilan masih terhubung dengan Jordan. ''Jika aku tidak sedang senang maka sudah pasti aku akan membuatmu membayar ini semua.'' Bisik sisi dengan kedua tangan yang menutupi sound ponsel agar tidak bisa di dengar.
''Sekali lagi maaf nyonya....'' Ucap gadis itu lagi lalu memungut kartu akses yang terlempar jauh dari mereka.
Saat mengambilnya, tanpa pengetahuan sisi gadis itu menempelkan kartu itu pada alat yang ia bawa. ''Ini kartunya nyonya...'' Ujar Gadis itu yang kembali menunduk dan memberi kartu akses itu.
Dengan kasar wanita itu menarik kartunya dan sedikit berlari menuju lift. ''Hah! Kesombongan mu tak akan berlangsung lama.'' Ujar Gadis itu lalu memegang telinganya.
''Scan kartu sudah ku dapat. Target sedang menuju lobby.'' Ujar Gadis itu sembari berjalan ke arah pintu.
''Baiklah, hati-hati masuk nanti ya? Jangan sampai dirimu terluka.'' Sahut Nadine di seberang sana.
''Ohoho....Sejak kapan malaikat maut ini bisa berubah menjadi malaikat?'' Ucapan Anindira di akhir dengan kekehan.
''Ck, jangan g-r! Aku hanya khawatir kalau kita akan ketahuan gara-gara dirimu!''
''Terserah!" Sahut Anindira acuh lalu memakai kaca matanya. Tangannya memencet tombol di benda tadi dan beberapa menit kemudian menempelkannya pada tempat biasanya kartu akses di tempel.
"Aku mohon....." Ujarnya sambil berdoa agar alat yang di ciptakan oleh Laurinda itu berhasil.
Alat yang memudahkan mereka masuk tanpa harus menggunakan kartu akses. Melainkan hanya dengan menscan kartu itu dan di tempelkan seperti biasa maka pintu akan terbuka.
Laurinda dan Nadine sudah mengetahui bahwa pintu tidak akan terbuka jika tidak menggunakan kartu akses. Dengan keahlian Laurinda, ia bisa membuat alat itu.
Ting!
Pintu terbuka, Anindira yang sempat memejamkan mata kini matanya terbuka dengan lebar. "Yes!! Berhasil! Kau memang pintar Laurinda...." Puji Anindira lalu membuka pintu dengan lebar.
Dengan berjalan biasa, Anindira kini sedang mendorong troli makanan ke arah dapur. Tujuannya sekarang adalah menempelkan sebuah magnet pada proyektor mini yang akan menampilkan hasil kerja keras direktur park nantinya.
__ADS_1
Meski terlihat mudah namun sangat susah untuk melangkah ke proyektor itu terlebih lagi ada si nona ular yang sedang berbincang dengan direktur yang lain.
Dengan terpaksa dirinya harus ke dapur dan membantu menyajikan makanan sembari mengintai apakah ada peluang untuk kesana.
***
''Tuan jordan?" Ucap sisi yang menghampiri Vijendra yang sudah berbalut jas dan membuatnya tampan bak ahjussi Korea yang sudah sangat melegenda. Suami dan kekasih idaman setiap kaum wanita, Lee min ho.
Dengan senyum yang menawan, gaya rambut yang rapi dan style yang begitu pas di badannya membuat otot-otot yang tersembunyi jauh disana hampir terlihat.
''Benar, apa anda tuan jordan? Saya kira anda sedang berada di luar negeri....'' Ujar Sisi dengan wajah bersemu merah saat di tatap intens oleh Vijendra.
''Kyaaa!!! Kenapa baru tau kalau ciptaan tuhan sesempurna ini!! Tidak seperti suamiku yang sepertinya gagal di cetak huh!" Sungut sisi dalam hati.
Tak ingin merusak suasana hatinya dengan mengingat suami tuanya, sisi kini mendekat ke arah Vijendra mendengar jawaban pria itu.
''Iya, saya datang tadi pagi dan melakukan beberapa pertemuan di gedung ini. Saya mengajak anda bertemu disini karena anda sendiri bilang bahwa sedang berada di gedung ini.'' Ujar Vijendra dengan menyelipkan senyumnya di akhir ucapan.
''Ahh....Iya, saya kesini untuk menghadiri penghargaan kakek saya.'' Ujar sisi bohong, tidak mungkin kah dia akan bilang kalau suaminya ada disini.
''Tentu! Di bawa kemana juga mau..." Ujar sisi yang kini sudah berjalan beriringan dengan Vijendra memasuki lift.
"Oh iya, apa ini tuan? Apa sebuah hadiah?" Tanya sisi menatap sebuah paper bag besar yang di bawa oleh Vijendra.
"Oh ini?" Vijendra mengangkat paper bag itu dan di angguki oleh sisi. "Ini milik istri saya, dirinya kemarin meminta saya ke Prancis untuk membelikannya pakaian terbaru." Sahut Vijendra santai.
"Memangnya harus ke Prancis? Anda tidak lelah harus bolak-balik? Memang berapa sih harganya sampai harus bolak-balik? Kasihan anda harus seharian di pesawat.." Tanya sisi berusaha simpati.
"Ahaha....Tidak apa, sebagai suami aku sangat senang jika istriku senang. Ini harganya tak seberapa dengan kebahagiaan istriku." Sahut Vijendra.
Ting!
Drttt...
"Anda bisa masuk duluan, saya akan mengangkat telepon dulu. Dan satu lagi, saya titip hadiah ini tidak apa kan?" Sisi mengangguk mantap.
__ADS_1
Hatinya sudah di penuhi rasa penasaran dengan hadiah yang di beli oleh Vijendra. "Saya harap anda segera menyusul ya..." Ujar sisi sembari mengedipkan sebelah matanya.
.
.
.
.
.
Di dalam ruangan, sisi terlihat kecewa. Ia kira ruang tidur atau sebagainya. Ternyata hanya ruangan biasa yang sangat luar dan hanya ada satu meja. Tak ingin mendalami rasa kecewanya, sisi mulai tertarik pada hadiah itu.
Dengan cepat tangannya membuka paper bag dan mengeluarkan gaun itu. Gaun yang sama, warna dan model yang sama yang seperti ia gunakan saat pura-pura di bunuh.
Tangannya meraih lebel harga yang sudah di rem@s tak berbentuk. Sisi menutup mulutnya yang ternganga saat melihat harga baju itu. ''200 juta? Gila!!! Baju seperti ini di berikan untuk gadis yang kalah cantik dariku! Heh! Sebelum kau memakainya, aku akan memakainya lebih dulu dan menggoda suamimu!" Tekad sisi yang langsung beranjak ke kamar mandi yang ada di ruangan itu.
Mungkin lupa atau tidak ingat, sisi memakai baju yang sama seperti malam itu tanpa ia sadari. "Lihat, aku terlihat sangat cantik memakainya...." Ujar sisi sembari memperhatikan tubuhnya yang sudah terbalut pakaian tadi.
Sisi keluar dari kamar mandi untuk duduk di kursi yang tersedia. Sebelum dirinya duduk, kursi yang hendak ia sentuh itu mundur ke belakang hingga terbentur dengan tembok. "Aa!!!" Pekik sisi kaget.
Tak hanya disitu, lampu di ruangan itu meredup dan mati dengan sendirinya. Suasana ruangan itu terlihat angker. Sisi kembali memekik kala pisau terlempar ke arahnya dan hampir melukai wajahnya.
''Aaaa!!! Tolong!!! Tolong buka pintunya!!!" Teriak sisi dengan tangan sibuk menggedor pintu ruangan.
"Hahaha....Bagaimana? Apa kau merasa takut? Ini bukanlah hal yang besar tapi kau takut?" Ucap seseorang yang tiba-tiba datang entah dari mana.
Sisi bersandar pada pintu dan menatap takut seseorang yang sedang berjalan ke arahnya. Suasana yang gelap membuat sisi tak bisa melihat jelas wajah orang tersebut. Tetapi yang pasti, seseorang itu terlihat menyeramkan di hadapan sisi.
Srinkkk!
"Akh!!!"
Bersambung.......
__ADS_1