
Dua hari telah berlalu, Nadine sama sekali tidak keluar dari rumah. Jangankan keluar, temannya saja ingin berkunjung tak ia bukakan pintu. Dua hari terasa sepi, tanpa adanya gadis yang selalu bertengkar dengan Anindira.
''Bagiamana cara membuat gadis itu keluar....'' Gumam Bu Ida yang ikut pusing, mereka sudah terlanjur menyayangi Nadine sepenuh hati jadi, Nadine tidak terlihat sangat berpengaruh.
''Nona tidak akan keluar jika dia tidak ingin....'' Ucap Tyaga menyahuti gumaman Bu Ida. Zahra yang ada di sebelah kakaknya, gemas pada saudaranya ini. Bagaimana bisa dirinya memberi jawaban yang sudah mereka tahu.
''Hah.....'' Helaan nafas dari Bu Ida kembali terdengar.
''Ada apa? Apa bu Ida sesak?'' Tanya seseorang dari arah pintu restoran.
''Tidak hanya saj-?'' Bu Ida menoleh termasuk semuanya. ''Xavier.....'' Ucap semuanya serempak kecuali Tyaga dan Vijendra. Semuanya sedang berkumpul di restoran Bu Ida seperti biasa.
Selama dua hari Bu Ida tutup karena masih merasa berkabung. Nadine berjalan santai lalu duduk di kursi paling ujung. ''Ada apa? Kenapa menatapku? Jika Bu Ida sesak bawa ke rumah sakit, dia tidak akan sembuh hanya kerena kalian melihatku.'' Ucap Nadine lalu mengetuk air yang ia ambil di meja.
''Ibu senang karena kau sudah keluar rumah, setidaknya ibu sedikit lega....'' Ujar Bu Ida bersyukur.
''Untung saja kau tidak bunuh diri di rumah, jika itu terjadi bisa-bisa repot diriku membersihkan mayat mu.'' Celetuk Anindira tanpa sadar, semuanya kembali hening.
''Ada apa? Apa aku salah berucap?'' Tanya Anindira tak mengerti, Nadine terlihat acuh.
''Ahahaha.....Kau merusak suasana Anindira. Ayo Ida, sajikan sarapan yang kau buat. Kita makan bersama..'' Ujar pak Kotim mencairkan suasana.
Tidak ada yang bicara, mereka sarapan dengan tenang bak air yang mengalir. Selesai sarapan, Nadine hendak keluar namun langkahnya terhenti saat teringat akan sesuatu.
''Zahra, Tyaga aku ingin bicara dengan kalian sebentar.'' Ucap Nadine, Tyaga mengangguk.
***
Siang harinya, Nadine baru saja selesai dengan persidangannya. Menjadi pengacara baru sangat menantang, Nadine sudah di beri kasus ini untuk ia ambil. Pengacara bukan hanya gelarnya saja, melainkan harus ia pertanggungjawabkan.
''Nadine, mau makan siang bersama?'' Tanya seniornya, Nadine menggeleng tanpa menoleh. Meski tak memiliki satu teman pun, namun semuanya tidak ada yang mau mencari urusan dengan Nadine. Terlebih lagi dengan sikapnya yang cuek dan terkesan arogan.
Semua sudah tau latar belakang Nadine, tak ada yang berani mendekat atau menggunjingkannya.
__ADS_1
''Bagaimana? Sudah kau buatkan laporannya?'' Tanya ketuanya pada Nadine yang terlihat merapikan berkasnya.
''Hmm sudah, ini berkas yang akan di tinjau pengadilan. Kasus ini pasti akan di menenangkan.'' Ucap Nadine menyerahkan berkasnya.
Fokus pada pekerjaan? Oh no! Bukan itu yang membuat Nadine bekerja. Ia ingin menyelidiki kasus mall dan kematian orang di sungai batu. Tekadnya sudah bulat, kini gilirannya melayangkan serangan.
Dengan dalih kasus pemerkosaan yang sudah pasti akan ia menangkan, Nadine kini tengah membaca berkas kematian orang-orang sungai batu. Di saat makan siang inilah yang bisa ia manfaatkan untuk tidak di curigai oleh rekannya.
"Aku harus masuk sendiri agar tau apa yang ada di dalam." Ucap Nadine yang langsung mengambil tas kerjanya dan keluar dari ruangannya.
.
.
.
Di teriknya matahari, begitu juga terik keteguhan dalam hati Nadine. Gadis itu dengan berdiri menatap sungai yang tenang.
"Sungai yang tenang bukan berarti tidak ada buaya di dalamnya." Ucap Tyaga yang ada di sebelahnya.
''Maka dari itu, kita harus menemukan apa yang tersembunyi di balik ini semua.'' Ucap Nadine menyahuti sembari menatap pembatas yang di buat polisi.
''Bagaimana jika aku memang tercebur ke dalam sungai ini? Apa aku akan selamat? Berapa kemungkinan keselamatan ku?'' Tanya Nadine menoleh pada Tyaga.
''Menurut perkiraan saya, anda bisa selamat 90% bagi yang bisa berenang. Dan 50% bagi yang tidak bisa berenang. Anda lihat batu yang muncul di beberapa tempat sungai itu? Jika seseorang yang masih mengalami kesadaran yang utuh maka akan berusaha untuk meraih batu itu sebagai tunjangan.'' Ucap Tyaga memperkirakan.
''Tapi jika dia memang tidak sadar atau di bunuh dulu pasti akan kelihatan di hasil otopsi.'' Ucap Vijendra menimpali. ''Tapi ini memang tidak di temukan luka atau apapun di dalam tubuh mereka. Lagipula, kalau di pikir-pikir. Jika mereka tenggelam tidak mungkin akan sampai di sini bukan? Mereka seharunya terapung atau tenggelam di dasar sungai.'' Lanjut Vijendra dengan bingung.
''Tenggelam?'' Ucap Nadine lalu Tyaga mengangguk, mereka berdua saling tatap seakan menemukan yang seharunya di selidiki.
''Ambil perahu sekarang....'' Titah Nadine, mereka bertiga naik ke perahu yang di bawa oleh Tyaga. Entah di mana dirinya dapat perahu itu, yang pasti Tyaga tidak mencuri.
Perlahan, mereka menyusuri sungai. Dari sisi kiri ke sisi kanan. Tapi, di atas batu itu tak ada apapun yang bisa ia jadikan petunjuk. Sebab, jika di bunuh dengan kekerasan pasti akan terlihat bercak di batu itu.
__ADS_1
Byurrr.....
Nadine dengan beraninya menceburkan diri ke sungai lalu berenang bertumpu pada batu di sebelah perahu. Tadinya Tyaga dan Vijendra yang hendak menyusul, mengurungkan niat saat Nadine sudah muncul di permukaan.
''Jika kita bertumpu di sini maka kita akan selamat. Meski butuh waktu untuk meraih batu yang lain tapi kita akan selamat. Hmmm.....Pelik sekali...'' Ucap Nadine.
''Bagaimana jika kita tidak bisa bergerak di dalam air? Maka tentu tidak akan bisa keluar.''
''Aku akan masuk, kalian tunggu disini saja. Lihat apakah ada petunjuk lain.'' Ucap Nadine yang tanpa persetujuan sudah masuk kedalam air lagi.
Blubuk....blubuk....
Nadine berenang hingga ke dasar sungai. Ternyata sungai ini cukup dalam, dirinya bukan ikan yang bisa bernafas di dalam air. Hingga harus cepat menuju dasar. Setelah bersusah payah turun, tak ada apapun. Nadine dengan cepat kembali memunculkan diri.
''Hah.....Tidak ada apapun. Coba aku cari yang lain sisi. Kalian bisa kembali ke sisi sungai.'' Lagi-lagi Nadine berenang dari sisi kiri ke kanan.
Tyaga memacu perahu itu dari sisi kanan ke kiri. Mereka turun di sisi kiri sungai yang lumayan jauh dari tempat kejadian. Saat mereka turun, mata jeli Tyaga dengan cepat bisa menangkap sesuatu yang aneh di alang-alang dekat sungai.
''Jangkar?'' Gumam Tyaga bingung, ia merasa ada di dalam labirin sekarang ini.
''Jangkar ini ada talinya, apa jangan-jangan jangkar ini yang di kaitkan ke baju jasat itu? Dari yang di laporkan, pakaian semua jasat itu robek di bagian leher.'' Ujar Vijendra meneliti, untung saja belum di sentuh oleh Tyaga.
Di sisi lain, Nadine tengah berenang tanpa menyerah. Meski dirinya harus berenang hingga malam pun akan ia jalani untuk sebuah kebenaran. Nadine yang tak hati-hati, terbentur sebuah batu besar di dasar sungai.
Matanya mengerjap pelan lalu menarik sesuatu yang menurutnya aneh. Di lihatnya sebuah rantai kecil yang melilit batu besar itu. Saat melepas rantai itu, Nadine meraih sebuah gelang lama yang kemungkinan besar milik korban atau pelaku.
Nadine berenang ke sisi sungai di mana ada Tyaga dan Vijendra yang sedang mengamati jangkar. ''Kau tidak apa?'' Tanya Vijendra, Nadine mengangguk.
''Sepertinya pembunuh itu menganggap dirinya sedang bermain sebagai nelayan. Dengan sengaja korban di ikat di batu besar di dasar sungai yang tak jauh dari sisi kiri. Lalu menarik korban ke sisi saat sudah tiada.'' Ucap Nadine.
''Setelah itu, jangkar ini di gunakan untuk menyeret korban hingga ke sisi sana. Lihat batu yang berjejer seperti goresan. Di tarik hingga sana hingga nanti akan di kira mati karena tenggelam namun di detik terakhir korban meninggal, korban berhasil sampai di sisi.'' Ucap Vijendra melanjutkan asumsi Nadine.
''Wow! Taktik yang bagus...." Ucap Tyaga yang lebih terdengar jengkel.
__ADS_1
Memang benar yang asumsi mereka, namun satu yang mereka tak ketahui. Sebelum korban di ikat. Korban di paksa meminum sesuatu hingga sekujur tubuh mereka tak bisa di gerakan. Itu adalah taktik yang sangat sempurna.
Bersambung.....