
Plak!
Sebuah tamparan mengenai pipi mulus Nadine, dari Anindira. Gadis itu sepertinya tidak tahan melihat Nadine yang seperti orang tidak waras.
"Bibi telah tiada! Kau harus menerima itu!" Sentak Anindira dengan air mata di pelupuk matanya.
"Tidak!! Aaaaa!!!! Itu tidak mungkin!!! Baru tadi bibi keluar untuk mengambil bahan makanan....Semua itu bohong!!! Bangun bi!!! Bangun!! Aaaaa......." Teriak Nadine dengan air mata.
"Bi!!! Aku sudah berjanji akan melindungimu!! Aku gagal!!! Aku gagal!!! Aaa......" Tangis yang begitu menyayat hati siapapun yang mendengarnya. Tak pernah sekalipun Nadine menangis di hadapan orang lain, namun sekarang dirinya menangis dengan pilu.
Rasa sedih yang selama ini tertampung erat di hatinya, sekarang meluncur sebagai air mata kesedihan yang ia tunjukan. "Bi....Bu-bukankah bibi akan selalu bersamaku? Bibi sendiri yang bilang akan, akan-" Ucapan Nadine terhenti karena teringat ucapan bi Nani tadi.
''Tidak nona, jika suatu hari nanti bibi pergi ketempat di mana nona tidak bisa akan menemukan bibi maka jangan biarkan diri nona lemah. Jangan biarkan nona terpengaruh akan kehilangan bibi.''
Ucapan bi Nani yang masih membekas di hatinya. Nadine tertunduk dan memeluk jasat bi Nani erat. ''Bibi sudah tau akan hal ini? Bibi tau akan meninggalkanku sendiri? Bagaimana denganku bi....Hanya bibi yang selalu ada di setiap diriku melangkah. Di saat mama marah dan menghukum ku, bibi datang dan menenangkan ku layaknya seorang ibu...''
''Bibi datang dengan selalu berkata, 'Nona tidak boleh cengeng hanya kerena di marahi oleh nyonya. Nona adalah anak yang kuat, hadapi apapun yang nona perbuat' Hiks....''
''Siapa yang akan ada di samping ku dan menemaniku seperti itu? Mama, papa, bahkan bibi sekarang pergi dengan mudahnya. Apa kalian memikirkan ku? Apa kalian tau bagaimana rasanya hidup sendiri....Aku harus menghadapi mereka dengan segala cara.''
''Bertahan hidup di jembatan tua dan di kelilingi lautan api. Yang dimana, sedikit saja diriku lengah maka akan terjatuh dan mati. Kalian meninggalkan ku dengan kesedihan yang harus di tanggung anak seperti itu. Mama dan papa melihat anaknya yang setiap harinya mengumpat dan menyumpahi mereka dari atas sana. Aku hanyalah anak bodoh yang tidak tau akan dunia.''
''Bibi sendiri yang selalu menyemangati ku dan membuatku kuat. Sekarang bibi ikut pergi bergabung dengan mama dan papa? Kalian memaksaku hidup sendiri.....Aku.....Aku takut.....Aku takut bi... .Setiap harinya dunia seakan menelanku ke dasar bumi....'' Ucap Nadine dengan lirih, tak ada yang bisa mendengarnya karena Nadine masih memeluk bi Nani yang berlumuran darah.
Nadine terus menangis dengan pilu, bahkan yang mendengar tangisnya saja ikut menangis. Tangis yang tak pernah di keluarkan oleh siapapun. Tangis dimana seakan kesedihan yang sangat mendalam hingga membuat hati yang mendengar tersayat.
Anindira tidak bisa membuat Nadine melepas bi Nani. Justin mengambil alih, kakaknya itu memeluk adik rapuhnya dan memaksanya melepas bi Nani. ''Tidak!!! Jangan!!! Jangan sentuh bibi ku!!! Jauhkan tangan kalian!!!'' Teriak Nadine histeris kala Vijendra dan Anindira memindahkan jasat itu ke dalam mobil.
__ADS_1
Mereka akan membawa bi Nani untuk di otopsi dan di makamkan secara layak. ''Tenang Nadine, tenang....'' Ucap Justin meski tau bahwa itu sia-sia. Dirinya bisa merasakan sakit yang Nadine alami saat ini. Nadine berteriak dan menangis saat mobil itu menjauh dari gedung.
Tak ada yang mendekat saat melihat Nadine yang masih coba Justin kendalikan. Semua juga ikut berkabung atas kematian bi Nani.
.
.
.
.
Di rumah sakit, Tyaga yang mengurus semua kelengkapan. Putri bi Nani sudah di hubungi namun tidak bisa pulang sekarang karena dirinya masih di luar negeri. Mungkin akan sampai saat pemakaman besok.Polisi sudah mulai investigasi di atap gedung.
Nadine kini menatap wanita yang sudah di tutupi kain putih dan di bersihkan. Sedangkan Nadine kerumah sakit dengan pakaian yang masih berlumuran darah.
Nadine hanya menatap tanpa mengeluarkan air matanya. ''AKAN AKU BUAT ORANG YANG MEMBUNUH KALIAN MERASAKAN AKIBATNYA. AKAN AKU BUNUH MEREKA DENGAN CARA YANG PALING KEJAM YANG TAK PERNAH MEREKA PIKIRKAN.'' Ucap Nadine lantang dan hendak berbalik.
Ceklek
Ceklek
Nadine berhenti saat kedua tangan di borgol. Gadis itu menatap kedua pria yang sedang terborgol bersama dengannya. Tyaga dan Justin.
Kedua pria itu dengan cepat memborgol Nadine agar gadis yang masih tersulut amarah itu tidak bisa kemana-mana. Jika sampai Nadine pergi dan membuat masalah maka semua akan tambah runyam.
''Lepas!'' Bentak Nadine dengan ekspresi datar, sama seperti Christian saat marah.
__ADS_1
''Tidak! Kau harus menenangkan diri, jangan biarkan amarah menguasimu hingga pada akhirnya akan merugikan diri sendiri.'' Ucap Justin.
Tak ingin berdebat, Nadine terdiam. Anindira yang melihat kilatan amarah di mata Nadine kini menjadi sedikit takut. Entah mengapa, sepertinya polisi akan sibuk untuk kedepannya. Firasatnya tak pernah salah karena ia sangat yakin akan hal itu.
***
Pemakan berjalan lancar, putri bi Ani menangisi kematian ibunya yang sudah lama tak ia jumpai. Sedangkan Nadine? Gadis itu layaknya manusia tanpa ekspresi, jangankan ekspresi kata saja tidak keluar semenjak datang dari rumah sakit.
Pakaiannya sudah di ganti dan kini sudah bersih.
Mereka hendak kembali kerumah, namun langkah Nadine terhenti saat melihat keluarga Brian datang termasuk Ivander. ''Sudah lama tidak bertemu keponakan....'' Ujar Brian menyapa, tak ada siapapun disana karena memang bi Nani sudah lama di kuburkan.
Hanya saja ada Tyaga, Laurinda, Anindira dan William. Para penghuni gedung tadinya sudah datang namun sudah kembali saat selesai penguburan. Mata Nadine menatap semuanya dengan ekspresi tak bisa di tebak.
Bahkan tak ada yang sampai mengira akan terjadi hal itu. Nadine berlari secepat kilat mencengkram erat leher Aurora. Bahkan gadis itu terlihat terbatuk-batuk. ''Lepas! Lepaskan putriku!!'' Ucap Brian yang kini sudah memegangi tangan Nadine yang masih mencengkram Aurora.
''Kenapa kau takut?'' Tanya Nadine dengan seringainya. ''Kau merasa dunia akan hancur? Tenang saja, ini baru permulaan....Kalian masih belum menghadapi sakit yang mereka telah hadapi.'' Ujar Nadine tanpa melepaskan cengkraman itu.
''Kau pikir a-aku takut? Uhuk...Uhuk...Kau harus tau akibat dari main-main denganku.'' Sahut Aurora tak kala jahat. Bukannya takut, gadis itu terlihat malah senyum meledek.
''Jangan nona! Ayo kita pergi!!'' Ajak Tyaga dengan memaksa Nadine melepaskan cengkraman itu.
Tyaga menarik Nadine dan yang lain ikut pergi dari saja. ''Sial!'' Umpat Aurora kala merasa lehernya sakit.
''Astaga! Gadis gila itu membuat lehermu berbekas!'' Ucap Belen saat tampak tangan Nadine memberi bekas yang sangat terlihat di leher putrinya . Aurora hanya memegangi perihnya Cengkraman itu
Bersambung.....
__ADS_1