Dendam Atau Keadilan

Dendam Atau Keadilan
Part 30


__ADS_3

1 Minggu kemudian....


Selama satu Minggu, sisi sudah bagaimana permen karet yang tak mau semenit pun menjauh dari Jordan. Meski mereka tidak pernah bertemu, ya....Memang sengaja untuk mengulur seberapa sabar wanita ulat bulu itu bertahan.


Selain itu, ada hal lain yang Nadine tunggu agar semuanya terlihat lebih sempurna.


Di dalam rumah Nadine , Vijendra dan Laurinda sudah duduk di ruang tengah. ''Hah.....'' Entah sudah helaan nafas yang ke berapa yang Vijendra keluarkan saat melihat ponselnya terus berdering.


Drrrttt......Drtttt


''Bisakah aku melempar ponsel ini sekali saja...'' Ujarnya dengan wajah yang sudah menahan kesal.


''Sabar.... Beberapa menit lagi, kau tidak sabaran sekali ingin mengangkat telepon sisimu tersayang.'' Goda Nadine dengan menaik turunkan alisnya.


''Hah! Tidak sabaran kau bilang?! Jika bisa memilih maka aku tidak akan mau melakukannya." Ujar Vijendra semakin kesal.


"Sudahlah kak, jangan marah-marah bagaimana jika kakak tua sebelum menikah? Aneh bukan jika aku memiliki kakak yang serasa kakek sendiri.'' Ujar Laurinda yang sudah tergelak kala membayangkan wajah kakaknya tua sebelum waktunya.


''Akhh!'' Pekik Laurinda kala Vijendra melempar bantal ke arah wajah adiknya.


Hubungan mereka sangat erat. Laurinda menceritakan semuanya pada Yuri hingga membuat wanita itu menangis pilu. Kenapa nasib anaknya bisa sepertinya dulu. Meski Yuri tak pernah menyesali keputusannya namun, sangat sulit untuk menerima bahwa putrinya di perlakukan seperti itu.


Yuri kini hanya diam di rumah, untuk menenangkan diri dan meyakinkan diri bahwa putrinya sudah mendapat keadilan.


''Zahra.....'' Ujar senang Nadine kala melihat gadis yang sangat ia rindukan hampir 2 Minggu itu. Pintu terbuka dan Zahra berlari ke arah Nadine yang juga menghampirinya.


''Kakak......Huaa......Rindu Zahra sudah menumpuk seperti gunung.'' Ujar Zahra yang sudah menghamburkan pelukannya pada Nadine.


''Benarkah? Apa kakak tau kau pulang? Sepertinya dia sibuk dengan kisah cintanya...'' Ujar Nadine dengan terkekeh.


Cantik.... gumaman seseorang di dalam hatinya, tanpa mau menunjukkan siapa dirinya.


''Hah.....Kakak menyebalkan itu? Bahkan dirinya terus mengubungi ku dan menanyakan semua aktivitas ku. Bagaimana dan apa yang aku kerjakan. Kalau begini aku tidak akan pernah bertemu dengan pangeran tampan ku.'' Gerutu Zahra sambil melepas pelukannya.

__ADS_1


''Itu karena dia menyayangimu. Sudahlah , ayo duduk. Dan ya! Kami sudah membuat apa yang aku minta?" Tanya Nadine memastikan, hatinya harap-harap cemas saat memberi tugas berat itu pada gadis kecil seperti Zahra.


''Iya, aku tau kak. Aku sendiri yang akan terjun kesana. Ini adalah tugas utamaku bukan? Kakak tenang dan pikirkan saja rencana kakak sekarang.'' Saran Zahra, Nadine tersenyum dan sekali lagi memeluk gadis itu.


''Terima kasih....'' Ujar Nadine, kata yang tak pernah ada dalam kamusnya kini terukir indah saat kebersamaan yang mereka lalui.


''Hey! hey!...Ada apa dengan suasana rumah angker ini? Apa malaikat mau itu berubah melunak? Ternyata bisa sedih juga ya?'' Sindir Anindira yang kini sudah masuk ke rumah Nadine seakan masuk kedalam rumahnya sendiri.


''Oh jadi ada bidadari tanah? Ada apa? Kau ingin masuk neraka?'' Ujar Nadine sinis. Zahra yang sudah tau kejadian ini dari Laurinda hanya bisa menggeleng.


Mereka memang seperti kucing dan anj*Ng. Anindira tak datang sendiri, ia datang bersama dengan William yang bagai ekor yang tak mau lepas dari Anindira.


''Berhentilah, kalian akan membuat kepala ku makin rumit. lihat!!! Wanita itu kembali menelpon!!'' Kesal Vijendra memperlihatkan ponselnya yang kembali tertera nama sisi.


''Ini berkas yang kau minta, sisi tidak punya siapapun. Tak ada catatan kriminal apapun.'' Ujar Anindira sembari memberikan profil sisi yang ia dapat dari kepolisian.


''Hmm, apa Vidio itu sudah kau berikan? Menurutku lebih baik wanita itu sendiri yang mengumumkannya.'' Ujar Anindira, Nadine mengangguk.


''Angkat telponnya dan katakan dimana kalian akan bertemu. Dan ya! Ruangan itu sudah siap bukan?'' Tanya Nadine pada ketiga orang yang ada di hadapannya.


''Cctv aman semua sudah terhubung.'' Kini Laurinda yang menyahuti.


''Okey semua siap, Zahra kau bersama bi Yuri saja. Dia pasti merindukanmu.'' Ujar Nadine membuat wajah Zahra sumringah.


''Bi Yuri sudah pulang? Aku akan menemuinya. Aaa....Iya, nanti kalau ketemu kakak bilang padanya kalau aku baik-baik saja. Dan titip pesan padanya juga, jangan menghubungiku terus.'' Pesan Zahra sebelum benar-benar melenggang pergi.


***


Di sebuah gedung kini sudah di penuhi banyak orang. Banyak orang ternama datang untuk memberi ucapan selamat pada direktur park atas dedikasi yang ia berikan pada perusahaan RC group.


Di acara ini, di selenggarakan langsung oleh Aurora sebagai tanda terima kasih atas dedikasi yang direktur park berikan pada perusahaan.


''Sudah pastikan semuanya aman? Tidak akan ada yang bisa masuk tanpa kartu akses.'' Ujar Aurora memerintah sembari melirik sana sini.

__ADS_1


''Sudah nona, semuanya aman. Sebentar lagi tuan Brian akan segera sampai.'' Ujar salah satu stafnya.


''Baik, pantau semuanya dengan baik. Jangan sampai ada yang tertinggal barang setitik debu sekali pun.'' Ujar Aurora.


Sebenarnya ada sesuatu di balik acara ini. Bukankah acara ini terlalu sia-sia jika hanya penghargaan? Benar, bukan hanya penghargaan tetapi transaksi dan cuci uang yang di lakukan di balik itu semua.


Aurora akan membiarkan para petinggi perusahaan untuk merayakan acara dan dirinya akan merayakan uang yang ia dapat.


Gadis dengan pakaian formal itu terlihat berjalan menuju pintu tempat persiapan makanan lalu berjalan ke pintu gudang. Di dalam gudang, Aurora memencet salah satu saklar Lampu.


''Bagaimana? Suratnya sudah di ganti?'' Tanya Aurora pada staf terpercaya dan memang sudah melakukan ini selama bertahun-tahun.


''Sudah nona, surat sudah siap. Dan semua uang itu juga sudah siap di berangkatkan.'' Ujar staf itu dengan tersenyum.


''Kau memang selalu bisa di andalkan, masukan uang itu kedalam tas dan antar ke luar negeri. Ingat! Hati-hati!" Ujar Aurora lalu pergi dari sana, seakan tidak ada yang terjadi.


Di ruang tadi, tuan Park sudah di temani sang istri yang tampak cantik dan menggoda. "Sisi sayang....Apa bisa kau ambilkan aku tisu itu." Ujar tuan Park pada istrinya yang sedari tadi duduk dengan wajah di tekuk. Sepertinya ia sedang menunggu seseorang menelponnya.


"Sisi!" Ucap tuan Park sedikit menaikan nada suaranya.


"Ah! Iya sayang, ini aku ambilkan." Ujar Sisi dengan suara manjanya.


Astaga!! Kenapa wajah pria ini tua sekali!! Auh!!! Aku ingin sekali menjambak dan mencakar wajah buruknya itu! Apa dia tidak mau operasi apa? Lihat wajah tuan Jordan yang tampan ini, bahkan suamiku ini jauh di bawah tanah jika di bandingkan dengan tuan Jordan yang tampan dan kaya tentunya. Batin sisi yang terus melihat foto Jordan dan sesekali melirik suaminya lalu menggeleng.


Drttt....


Sisi mengangkat panggilan itu dengan sumringah, terlebih lagi menatap nama yang tertera. Jordan


''Halo tuan Jordan....'' Ucap Sisi dengan suara yang **** bahkan tanpa permisi dirinya pergi dari sisi suaminya untuk menjawab panggilan Jordan, sang idaman.


Memang Jordan berfoto dengan pakaian formal dan menggunakan jas yang menambah kesan tampannya yang tiada tanding.


''Sungguh!! Baik!! Saya akan menemui mu di loby." Ujar Sisi yang langsung pergi dari sana, tak lupa ia juga membawa kartu akses agar bisa masuk kedalam sana lagi.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2