Dendam Atau Keadilan

Dendam Atau Keadilan
Part 27


__ADS_3

Berbeda dengan suasana di cafe yang terlihat kikuk. Di sebuah mobil van putih, seorang wanita tak bisa mengendalikan mulutnya. Karena yang ia lihat dan saksikan seolah baru dan hangat untuk di tertawakan.


''Bwahahaha...'' Tawanya terus terdengar menghiasi mobil.


''Diamlah Anindira...'' Ujar William yang sudah duduk di sampingnya dengan merebahkan tubuhnya. Tawa Anindira juga membuat dirinya ikut tersenyum. Melihat Anindira yang sebahagia itu adalah satu hal yang sulit untuk lihat.


''Kau lihat? Hahaha.....Wajah sisi terlihat sangat kesal karena kesombongan Nadine. Bagaimana pun aku juga sudah merasa kesal karena rasa sombong gadis itu. Apalagi Nadine secara terang-terangan menghina sisi secara tidak langsung.'' Ujar Anindira yang sudah bisa menetralkan tawanya.


Laurinda yang duduk memangku laptop juga terkekeh. ''Terlebih lagi saat William menyebut sampah. Aku sakit perut mendengarnya.'' Ujar Laurinda menimpali.


''Bagaimana? Sudah kau parkirkan jauh dari cafe? Mengingat kau adalah pria yang sangat tidak suka di suruh dengan semena-mena." Tanya Anindira yang sudah bisa menebak apa lagi kejahilan William jika sudah kesal.


"Heh! Dia akan tau sendiri nanti!" Ujar William.


Mereka sudah merencanakan ini semua dan semua itu berasal dari ide Nadine. Bahkan Anindira sendiri terkejut kala Nadine menjelma menjadi wanita seperti Veronika, yang memiliki satu kesamaan ya itu kesombongan dan angkuhnya.


"Hey, diam....Nadine menghubungiku..." Ujar Vijendra yang kini merebahkan diri agar suara terdengar santai.


"Halo sayang....Ada apa? Apa kau merindukanku?" Tanya Vijendra dengan senyum jenaka. Semuanya bisa mendengar pembicaraan mereka melalui benda kecil yang ada telinga mereka masing-masing.


"Hahaha.....Sayang....Kau membuatku malu saja. Tidak hanya aku yang mendengar tapi juga para nyonya-nyonya yang ada di cafe ini.'' Ucap Veronika alias Nadine itu terdengar imut. Bahkan sekarang karakter yang di tunjukkan Nadine bertolak belakang dengannya.


Mulutnya yang biasanya terdengar pedas kini bicara lembut dan manja. Jangan lupa tubuhnya yang sudah seperti cacing kepanasan. Bergerak sana sini, semuanya terlihat di layar tv di depan mereka.


Anindira hendak menyemburkan tawanya dan di bekap oleh William lebih dulu akan tidak menganggu.


''Baiklah, baiklah. Apa ada yang di inginkan ratuku?'' Tanya Vijendra menahan tawa, bibirnya hanya tersenyum mengalihkan tawa.


Lagi-lagi suara manja yang di buat-buat oleh Nadine membuat Anindira ingin tertawa. ''Sayang....Kau ini tau saja. Apa Vero boleh tinggal di negara ini 2 Minggu.'' Ucap Nadine berubah imut.


Sial! Karakter ku sangat berbeda dengan ini. Menyebalkan!!! Kenapa wanita yang bernama Veronika ini sangat manja!!! Apa tubuhnya tidak lelah seperti cacing begini. Umpat Nadine dalam hati dengan seluruh jiwanya.

__ADS_1


Tidak ada dalam pikirannya akan melakukan akting seperti ini.


''Tidak Ratuku....Aku tidak bisa membiarkan istriku berada di luar dengan cuaca panas begini. Nanti kalau ratuku tidak bisa ku kenali bagaimana? Sekarang cepatlah pulang. Kita harus membagi emas batangan hari ini.'' Ujar Vijendra.


Di seberang sana sudah ada yang kembali mengobarkan rasa iri yang mendalam pada pasangan suami istri ini.


''Vero bahkan sampai lupa kalau ini harinya. Pasti emas di gudang sudah memenuhi langit-langit jadi kau memberikannya secara gratis.'' Ujar Nadine lagi dengan wajah yang di imut-imutkan.


Setelah panggilan terputus, Veronika berdiri yang diiringi sisi dan wanita lain. ''Apa sekarang saya boleh pergi lebih dulu? Jika saya terlambat bisa-bisa suami saya membuang mas kami ke jembatan.'' Ucap Veronika lalu berjalan keluar cafe setelah puas menghancurkan ego sisi.


''Maaf sebelumnya, boleh meminta kartu namamu nyonya Veronika?'' Tanya sisi saat Veronika hampir masuk kedalam mobil.


''Tentu nyonya sisi, kita bisa berteman baik nantinya.'' Ujar Veronika lalu mengambil kartu di tasnya dan memberikannya pada sisi.


Wanita yang ada di dalam hanya bisik-bisik namun tidak ada yang berani bicara di depan sisi.


Mobil Veronika itu melaju menjelajahi jalanan. Sisi menatap kartu mana yang tertera nama suami Veronika. ''Jordan mars?'' Ujar sisi lalu menaruh kartu itu di tasnya.


Sisi tak lagi masuk kedalam cafe saat mengetahui harga dirinya sudah di hancurkan Veronika secara tidak langsung. Meski tak ada yang berkomentar namun bisa di pastikan mulut wanita di dalam sana sudah sama-sama gatal untuk membicarakan hal menarik seperti ini.


***


''Kemana mobil ku!!!" Teriaknya pada salah satu penjaga yang memang sering menjaga area cafe. Sepertinya sisi tidak tau bahwa orang yang ia berikan kunci tadi sangat berbeda dengan yang ada di hadapannya sekarang.


"Apa mobil nyonya berwana coklat? Saya lihat mobil itu masuk ke gang itu." Ujar Pria itu menunduk.


Sisi berlari sembari menenteng tas dan sepatu mahalnya untuk melihat mobilnya.


Seketika wajahnya menegang kala melihat mobilnya masuk ke area pembuangan akhir. Mobilnya lecet di sisi kanan dan kiri. Di tambah lagi bau mobil yang sudah seperti sampah.


"Mobilku !!!!!" Teriak sisi yang sudah beralih terduduk lemas.

__ADS_1


Mobil yang ia beli dengan merengek pada suaminya kini sudah seperti tak bisa di bilang mewah terlebih lagi sampah yang menghiasi depan dan belakangnya.


Ingin sekali ia menangisi mobil yang baru kemarin ia beli. Namun egonya tidak membiarkan hal itu, wanita itu bangun lalu menelpon sopir untuk menjemputnya.


Hari ini ia merasa memang sangat sial, sudah di permalukan dengan dikatai mobil sampah dan sekarang mobilnya benar-benar menjadi sampah.


Meski begitu Sisi tak lupa meminta orang untuk memindahkan dan membuat mobilnya baru kembali.


***


Di mobil Vans William tertawa sangat keras. Bahkan sudut matanya mengeluarkan air mata karena bahagia. ''Rasakan itu, dasar arogan!" Hina William puas.


''Sekarang waktunya, sisi mulai tertarik mencari tahu tentang Veronika. Sekarang giliran mu Laurinda." Ucap Nadine di telinga masing-masing karena alat yang Nadine berikan bisa membuat mereka bisa berkomunikasi tanpa ketahuan.


''Baik bos, sekarang kita lihat kecanggihan teknologi.'' Ujar Laurinda yang kini sudah sibuk dengan laptopnya.


Tak membutuhkan semenit, Laurinda sudah siap dengan beritanya.


Click.


Berita sudah di retas di ponsel sisi. Di ponselnya sudah tersedia berita. Memang benar bahwa Veronika dan Jordan itu memang ada namun mereka sedang tak ada di negara ini.


Meski di kabarkan bahwa mereka sedang menjelajahi setiap negara untuk membagikan emas. Dan itu tidak akan ada yang menyadari karena mereka berdua selalu menutup identitas diri.


Dengan keahlian Laurinda, sisi melihat bahwa Veronika yang ia temui tadi benar adanya. Foto di ganti dengan mudah oleh Laurinda dan meretas semuanya agar berjalan sesuai rencana.


''Apa aku harus menghubunginya?'' Gumam sisi menatap kartu nama yang ada di tangannya.


Sisi sangat mudah di bohongi hanya dengan iming-iming harta yang melimpah. Jika sudah harta maka matanya akan tertutup rapat akan kebenaran.


''Aku akan menghubungi tuan Jordan, siapa tau bisa menjadi selingkuhannya.'' Seringai tipis terukir di wajah sisi lalu menggenggam erat kartu nama itu.

__ADS_1


Terjebak!


Bersambung.......


__ADS_2