Dendam Atau Keadilan

Dendam Atau Keadilan
Part 46


__ADS_3

Seringai tipis terlihat menghiasi wajah Nadine, matanya tertuju pada tiga orang di ruangan tersebut.


''Aku ingin hak ku sebagai seorang pewaris yang seharusnya ku miliki. Kursi ini, semuanya yang di miliki oleh papaku.'' Ucap Nadine lantang, menatap Aurora.


Gadis yang di tatap terlihat tersenyum sinis.


''Kau tidak bisa meminta hakmu, karna semua hak itu sudah di berikan kepada mama Chalondra. Karena mama tidak bisa mengurusnya sendiri, maka papaku yang memegang semuanya.'' Jawab Aurora, tak lupa tatapan yang masih sangat tajam dan menusuk.


''Yakin sekali kau akan mendapatkan hak itu? Lagi pula, meski kau pemilik perusahaan ini. Tak ada ada yang setuju kau yang memimpin, bukan kah begitu para pemegang saham.'' Ujar Aurora dengan melirik para pemegang saham yang sepertinya menyetujui ucapan gadis itu.


''Benar! Kami tidak rela jika seandainya, keturunan pendosa besar memimpin perusahaan ini. Hah! Menjijikkan.'' Ujar salah satu pria yang seperti berada di pihak Aurora.


''Benar! Kami akan menarik semua saham kami jika kau yang memimpin.''


''Benar!'' Sahut yang lainnya.


Aurora tersenyum puas. Apa yang bisa di perbuat oleh Nadine jika dirinya hanya benalu di ruangan itu.


''Bagaimana? Bukankah kau sendiri yang mendengar tak ada yang setuju kau disini. Pergilah dan tidur di rumah, jadilah anak yang baik dan penurut.'' Tangan Aurora hendak terulur untuk mengusap kepala Nadine.


Dengan cepat gadis itu menepisnya, cih! Tidak Sudi dirinya di sentuh wanita ular satu ini.


''Hey! Ayo lah, jika kau ingin menumpang hidup di mension utama, aku akan sangat menerima mu. Anak yang malang....'' Hina Aurora, Nadine masih diam. Dirinya menatap setiap wajah yang hadir di rapat tersebut.


''Pulanglah, jika kau masih disini maka kau yang akan malu.'' Bisik Aurora, Nadine yang sedari tadi menahan tawanya kini tertawa dengan keras.


Tawa yang seharusnya bahagia, ini terdengar sangat menyeramkan. Bagaikan serigala yang menggonggong di malam hari.


''Apa kau gila? Sepertinya otakmu sedang geser.'' Ujar Aurora dengan melirik prihatin.


''Hahaha.....Kalian ini sangat lucu ya? Menjijikkan? Siapa? Kedua orang tuaku?'' Tanyanya dengan tawa yang perlahan menghilang.


''Kalian yakin? Hah! Sungguh aku ingin sekali membanting kepala kalian semua. Siapa tahu dengan begitu otak kalian tak akan sekeji ini.'' Nadine berjalan ke arah kursi CEO dan duduk di sana, mendorong Aurora agar menyingkir.

__ADS_1


''Ingin mencabut semua saham? Hahaha....Lucu sekali....'' Ujar Nadine kembali dengan merebahkan punggungnya.


''Tyaga! Pasang dengan lebar kebenaran yang tersembunyi itu.'' Titah Nadine dengan melirik Tyaga yang terlihat mengangguk mengerti.


''Apa-apaan ini? Kurang ajar sekali gadis ini! Apa begini yang di ajarkan oleh orang tuanya!'' Umpat pria itu lagi.


''Diam! Lidah memang tanpa tulang, namun lidah seharunya di kendalikan oleh otak. Berfikir sebelum berucap, atau lidah mu tidak akan berfungsi nantinya.'' Ujar Nadine marah, para dewan direksi sedikit takut namun mereka tetap menentang Nadine sebagai pemilik perusahaan.


Semua bisik-bisik itu terdiam saat melihat analisis saham yang dimana pemilik 50% saham adalah milik Nadine. Semua saham tersembunyi milik Christian kini di ungkap secara nyata oleh Tyaga di layar besar itu. Aurora juga sama terkejutnya kala melihat hal itu. Kenapa dirinya bisa tidak tau saham yang terselundup itu.


''Kenapa? Kalian sepertinya tercengang sekali. Kenapa Aurora? Apa kau tidak tau bahwa seorang Richard juga bisa menyembunyikan saham sebesar ini? Bukan hanya kau yang bisa menyelundupkan uang....'' Ejek Nadine dengan senyum puas.


Tiga orang pemegang saham mendekat ke arah Nadine lalu menunduk hormat.


''Tugas kami sudah selesai nona, bisa kami pergi dari sini?'' Tanya seseorang yang terlihat sudah tua.


''Terima kasih sudah menjaga saham ini dengan baik, aku akan menjamin hidup kalian bahagia.'' Ujar Nadine tersenyum, ketiga orang itu adalah orang yang memiliki saham beberapa persen.


Ternyata kecurigaan Aurora tentang asal usul mereka terpecahkan. Ketiga orang itu pergi dan di antar oleh beberapa orang berbadan besar.


''Kau, kau dan kau! Kalian ingin menarik saham kalian? Baiklah! Aku sebagai pemilik saham terbesar disini, menyatakan kalau saham kalian aku kembalikan.'' Ucap Nadine tegas, dirinya tidak mau jika harus menyimpan ular berbisa yang bisa mematoknya kapan saja.


''Aaa...Itu-''


''Kalian ini keluar dari perusahaan ini, atau saham yang kumiliki akan kutarik hingga kalian hancur sendiri.'' Ucapan yang keluar begitu tegas dan tak main-main.


Aurora menghampiri Nadine dengan amarah, menarik gadis itu hingga berdiri di hadapannya. ''Kita harus bicara!'' Ujar Aurora dengan menarik paksa Nadine untuk mengikutinya.


''Lepas! Berani sekali kau menarikku! Urusanku denganmu belum di mulai wakil CEO.'' Nadine bicara dengan penekanan di setiap katanya.


''Kalian! Keluar! Atau kau ingin diseret secara tidak hormat?'' Ujar Nadine dengan menatap ketiga orang itu. Mereka pergi dengan wajah yang malu dan sangat menyesal.


''Untuk yang lain, ada yang ingin mengikuti mereka?'' Tanya Nadine kepada para pemegang saham yang masih tersisa.

__ADS_1


''Tidak nona....'' Ujar salah satu memberanikan diri.


''Baiklah, semuanya kita tutup hari ini.'' Ucap Nadine lalu keluar dengan Aurora yang ikut dengan langkah penuh amarah.


Di ruangan CEO, Brian terkejut kala sang putri datang dengan gadis yang membuatnya sakit kepala akhir-akhir ini.


''Katakan, apa yang ingin kau dengar?'' Ujar Nadine dengan tatapan remeh.


''Hah! Tak kusangka cacing seperti mu bisa menjadi ular berbisa.'' Aurora mencemooh Nadine yang terlihat lempeng saja.


''Apa? menarik saham? Hey...Kau jangan bodoh, perusahaan ini akan hancur jika kau melakukan itu.''


''Setidaknya tidak akan ada parasit seperti kalian disini.'' Ujar Nadine santai.


''Ada apa ini? Kenapa gadis ini ada disini?'' Tanya Brian yang bingung, sepertinya berita itu belum sampai ke telinganya.


''Sudahlah, aku tidak mau repot menjelaskannya. Dengar, bersiap-siap untuk kehancuran kalian. Kejayaan kalian selama 12 tahun ini akan hancur perlahan.'' Ujar Nadine lalu berlalu dari sana tanpa permisi.


''Sebelum itu, kau hanya akan tinggal nama saja.'' Ujar Aurora yakin bahwa dirinya akan bisa mengalahkan Nadine yang hanya pengganggu kecil.


.


.


.


Saat Nadine berjalan melewati sebuah ruangan, tiba-tiba tangannya di tarik dengan kasar oleh seseorang.


Tangan orang itu hendak melayang indah di pipinya namun dengan cepat ia tepis. ''Apa yang kau lakukan? Kurang ajar sekali dirimu!'' Bentak Nadine kesal, orang itu terlihat lebih marah dari dirinya.


''Aku yang seharusnya bertanya sepeti itu? Apa yang kau lakukan Nadine Xavier Richards!!'' Bentak gadis itu dengan mata yang melotot.


''Kau tau apa dampak dari perbuatanmu!!''

__ADS_1


Bersambung.........


Yeahh akhirnya bisa up juga, annyeong 👋


__ADS_2