Dendam Atau Keadilan

Dendam Atau Keadilan
Part 45


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Nadine meminta William membongkar cctv itu dan Laurinda mempersiapkan laptop yang akan di gunakan untuk melihat cctv itu.


Semuanya terlihat takut karena bisa jadi cctv yang mereka harapkan ini tidak akan berfungsi. Namun, mereka bertekad akan mencoba apapun hasilnya nanti.


Keempat orang itu menatap laptop dengan harap-harap cemas.


''Setelah hitungan ke tiga maka kita buk-''


Klik


''Kau!" Anindira ingin meminta di buka setelah hitungan ketiga namun rasa penasaran Nadine tidak bisa di bendung hingga akhirnya meng-klik Vidio itu.


Laurinda dan William hanya bisa mengelus bahu Anindira agar bersabar menghadapi Nadine.


Melupakan sikap menyebalkan Nadine, Anindira beralih pada laptop. Menyaksikan betapa kejamnya orang itu menyeret orang yang masih mencoba menggerakkan tubuh.


Terlihat seseorang yang berkudung itu menyeret orang dengan rantai yang di ikat di baju mereka. Inilah sebabnya kenapa tidak di temukan bekas apapun di tubuh mereka. Kecuali goresan kecil yang di prediksi sebagai luka akibat terbentur di bebatuan.


"Kita tidak bisa melihat wajahnya, ini tidak akan mempererat tuduhan." Ujar William memperhatikan Vidio.


Kegiatan orang itu tetap sama namun di waktu dan hari yang berbeda. Hingga satu jam berjalan namun cctv itu tidak memperlihatkan wajah orang itu karena sudut cctv yang salah.


Sebenarnya bisa saja ini di kirim ke pengadilan, namun orang yang ingin mereka masukan ke penjara kemungkinan akan kembali lolos.


''Hah.....Tidak ada ujungnya!!! Apa yang kita temukan!!" Teriak Anindira frustasi, gadis itu menatap ketiga temannya yang masih menonton dengan sabar. "Sampai pagi kalian akan menatap rekaman itu?" Tanya Anindira tidak percaya betapa sabar ketiga orang itu.


"Diamlah! Kau berisik!" Ujar ketiganya yang merasa terganggu karena Anindira yang bosan dan malah menganggu konsentrasi ketiganya.


"Aaa....Kalian teguh sekali....Apa kalian tidak merasa bosan? Apa kalian tidak merasa lelah...Ini sudah malam, aku.....ummm?" Anindira terbungkam dengan tangan kekar milik William.


'Kekar sekali tangan pria ini? Kenapa aku baru menyadarinya?' Batin Anindira lalu sedetik kemudian gadis itu menggeleng.


'Jangan banyak berfikir hal konyol Anindira!! Kau sudah gila ya? Sejak kapan kau mengagumi polisi bodoh ini? Apa jangan-jangan setan yang ada di salah satu pohon itu mempengaruhi otakku. Ohh tidak!!' Anindira terdiam dengan pikirannya, tanpa berniat melepaskan bungkam tangan William.


''Ini dia! Lihat! Wajahnya terlihat! Yeahh! Kita bisa menjebloskannya.'' Antusias Laurinda ketika bosan dan lelahnya terbayarkan. Entah Vidio keberapa tapi di Vidio ini seseorang itu terlihat menengok dan menampilkan wajahnya, yang tidak lain adalah Aurora.


''Sudah ku duga, kita pasti akan mendapatkan bayaran dari kerja keras kita.'' Ujar Nadine ikut senang, mereka bertiga merasa aneh karena satu kicauan belum terdengar dan itu berasal dari Anindira.

__ADS_1


Ketiga orang itu menatap Anindira dengan bingung. Apa yang gadis itu pikirkan hingga membuatnya diam tak bersuara?


Meski di tatap begitu, tak membuat Anindira membuyarkan lamunannya. Tangan William turun karena merasa kebas sedari tadi menutup bibir Anindira.


Bugh!


''Akh!'' Pekik Anindira kala Nadine memukul dirinya dengan bantalan sofa. Gadis yang di pukul mendelik kesal ke arah sang pelaku.


''Ada apa? Aku hanya mengira kau kerasukan tadi, jangan salahkan aku. Aku hanya menyadarkan mu.'' Ujar Nadine santai dan langsung membuang bantal ke sembarang arah.


Anindira hendak membuka mulutnya untuk protes namun dia melirik William terlebih dulu. Penjelasan apa yang akan dia katakan jika protes pada Nadine.


''Sudah ketemu kah?'' Tanya Anindira memperhatikan laptop lagi, Laurinda mengangguk dengan senyum yang terus terukir.


''Ayo kita bawa ke kantor polisi. Aku yang akan menanganinya.'' Ucap Anindira semangat.


''Tidak, belum saatnya. Saat ini aku harus masuk kedalam perusahaan lebih dulu.'' Ujar Nadine, matanya melirik jam yang melingkar di tangannya.


''Apa?!'' Pekik yang lain terkejut, ini yang mereka tidak tau. Nadine ingin kembali ke perusahaan, itulah sebabnya Tyaga berada di kantor untuk melihat berapa peluang dirinya bisa masuk kesana.


Awalnya Nadine tidak mau namun paksaan dari Tyaga membuatnya bertekad. Tyaga memaksa bukan untuk dirinya, melainkan untuk hak yang memang seharunya di ambil oleh Nadine itu sendiri.


''Tentu bisa, mengingat nona muda adalah pewaris yang sebenarnya dari perusahaan RC group.'' Sahut Tyaga yang masuk dengan langkah tegas, melangkah dan berhenti di sebelah sofa yang Nadine duduki.


''Meski pewaris yang sebenarnya, yang ku dengar semua aset sudah di serahkan ke Brian dan itu langsung dari nyonya Chalondra. Pastinya sudah akurat bukan?'' Laurinda bicara bukan sembarangan, dulu saat masih menjalin hubungan dengan Ivander. Dirinya pernah mendengar Ivander menyombongkan kekayaan pada teman-temannya.


Nadine dan Tyaga saling menoleh, mereka tersenyum yang lebih tepat seperti menyeringai. Sungguh, mereka adalah pasangan paling aneh dan tak tertebak bagi yang lain.


.


.


.


Di pagi hari yang begitu cerah, seperti biasa Aurora masuk dengan angkuh dan sombong. Hari ini adalah hari dimana dirinya akan melakukan rapat untuk membicarakan mall yang akan segera dibuka.


Cepat bukan? Sudah seperti Sangkuriang saja.

__ADS_1


Saat memasuki ruang rapat, semuanya terdiam. Memang Aurora sangat di segani oleh yang lain. Tak ada yang bisa membuka mulutnya kala mata elangnya bertindak.


Bahkan mungkin hampir setiap tuan direksi gugup jika bicara dengan gadis yang memiliki mulut berbisa itu. Benar, itu adalah julukan untuk Aurora karena memang dirinya tidak suka di bantah terlebih lagi, ada yang mengajukan pendapat yang tak sesuai dengan keinginannya.


''Silahkan duduk.'' Ucap Aurora saat dirinya sudah duduk di kursi CEO. Dirinya memang bukan CEO namun Brian, sang ayah menginginkan anaknya saja yang menghadiri rapat tersebut.


''Jadi, apa yang ingin kalian ketahui tentang mall tersebut.'' Seseorang baru saja hendak membuka mulutnya untuk bicara namun Aurora sudah bicara mendahului.


''Sebelum itu, baca buku yang sudah saya bagikan.'' Dengan isyarat tangan, beberapa karyawan membagikan sebuah buku tipis.


''Itu adalah mengenai mallnya secara mendetail. Jika ada yang kurang kalian bisa bertanya, aku tidak menjawab pertanyaan yang sudah jelas kenyataannya.'' Ujar Aurora, dari kata-katanya sudah jelas bahwa dirinya sangat tidak menerima pertanyaan sekarang.


Yang artinya, tidak ada yang boleh meluncurkan pertanyaan apapun itu bentuknya.


.


.


.


Setelah beberapa menit mereka saling berbisik dan membicarakan mall yang akan di buka tersebut. Memang perancangan Aurora tidak bisa di ragukan lagi. Semuanya matang dan terencana.


''Baiklah jika tidak ada pertanyaan maka kita akhiri rapat hari ini.'' Ujar Aurora berdiri, semua orang berdiri. Meski mereka takut namun kepuasan akan kinerja Aurora sangat mereka rasakan.


''Nona anda tidak bisa masuk!'' Keributan di luar mulai terdengar sebelum Aurora melangkahkan kakinya.


Brakk


Seorang gadis masuk dengan gaya yang tak kalah arogan dan elegan. Tak ada yang bisa mengalahkan kecantikan dan arogan gadis itu. Langkahnya yang panjang dan rambut yang berterbangan membuatnya sangat elegan.


Aurora mengerutkan keningnya, kenapa gadis ini bisa ada disini? Apa yang dia lakukan disini? Apa yang ingin gadis itu lakukan?


''Mau apa kau?'' Tanya Aurora dengan menatap dengan mata elangnya, tajam dan menusuk. Namun sayangnya.... Aurora salah menatap orang. Yang ia tatap sama sekali tidak takut atau gemetar seperti orang yang ada di ruangan itu.


Semua orang seperti tak bisa menelan Salivanya sendiri karena melihat ketegangan disaat kedua wanita penuh ambisi itu bertemu.


Bersambung.....

__ADS_1


Maaf ya reader, othor udah gak up-up lama🥺. Karena othor merasa novel othor gak ada yang baca😓, selain itu othor juga sibuk karena memulai hidup barunya othor sebagai orang dewasa🤭


__ADS_2