Dendam Atau Keadilan

Dendam Atau Keadilan
Part 44


__ADS_3

Semuanya terlihat baik-baik saja namun, siapa yang menyangka bahwa kebenaran selalu muncul di saat kejahatan sudah merajalela. Tak ada yang tau apa yang akan terjadi hari ini, esok atau nanti.


Seseorang yang selalu mengutuk dunia ini, kini sedang berjuang untuk sebuah kebenaran. Ia haus akan kenyataan yang tak pernah ia lihat. Tekadnya untuk sebuah kenyataan pahit itu, sama seperti halnya saat ia membenci dunia ini. Menyalahkan semua yang terjadi kepada dunia dan menutup mata ternyata salah. Ia harus berjuang dan berkorban untuk apa yang ingin ia ketahui.


Nadine tengah menatap senja yang hendak tenggelam, senja seperti menyapanya yang sedang dilema akan semua hal. Banyak hal yang tak ada jalan keluarnya dan hanya memutar di satu tempat. Ia yakin akan dugaannya namun, dunia membutuhkan sebuah bukti untuk mendukung dugaannya.


"Kalian tau? Aku sangat membenci senja...'' Ucap Anindira sembari menatap senja yang sebentar lagi terbenam. Nadine dan Laurinda menatap gadis itu untuk mendengar lanjutan dari ucapannya.


Anindira melirik kedua gadis itu yang sedang menatapnya bingung, senyumnya terukir. "Karena aku akan bertemu dengan malam, dimana setiap malamnya adalah hal yang paling mengerikan untukku."


"Hal mengerikan apa yang terjadi pada malam hari? Tidak mungkin kau takut dengan suara burung hantu kan?" Ucap Nadine dengan maksud bercanda, entah mengapa gadis di sebelahnya ini terlihat menyedihkan. Anindira hanya terkekeh menyahuti ucapan Nadine yang menurutnya sangat konyol.


"Aku harap aku takut dengan suara burung hantu, tapi kenyataannya aku takut dengan suara teriakan wanita itu. Wanita yang aku bunuh di malam itu dengan kejam dan tanpa perasaan." Batin Anindira.


"Dimana William? Sepertinya dia meninggalkan kita disini." Laurinda merasa takut saat senja menghilang dan polisi itu belum kembali juga. Dirinya masih terbayang-bayang akan suara cekikikan kun-kun di luar villa Ivander malam itu. Meski dirinya sudah di beritahu bahwa itu adalah rekaman dari villa tapi Laurinda masih merasa takut pada malam harinya jika berada di luar rumah.


"Mari kita cari, pria itu memang selalu menyusahkan." Ajak Anindira sembari merangkul Laurinda di sisi kanannya. Nadine mengikuti mereka tanpa bicara, awalnya mereka kesini ingin mencari bukti lebih lanjut.


Tapi tak ada apapun yang mereka berempat temukan, William tadi pamit ingin mengambil mobil namun sampai sekarang pria itu belum juga datang. Entah benar dia meninggalkan mereka atau ada hal yang terjadi padanya.


Mereka berjalan beriringan dengan Laurinda yang ada di tengah, jika kalian bertanya kenapa? Tentu saja karena sedari tadi Laurinda terus saja komat-kamit tidak jelas dan menggenggam tangan Anindira dan Nadine dengan erat.


Parkiran yang mereka tuju memang jauh dari sungai itu, mau tidak mau mereka harus berjalan sedikit lama. Tak selang beberapa lama, terdengar seseorang yang sedang marah-marah dari arah kanan.


Mereka bertiga mendekat untuk memastikan siapa yang sedang berbicara itu. Terlihat seorang pria yang sedang duduk di atas pohon dan pria yang bicara tadi tengah berkacak pinggang dan terus bicara.


"Diamlah pak, ini saya sedang berusaha untuk mencabutnya." Ucap pria yang ada di atas pohon dengan sabar.

__ADS_1


"Apa kau bilang! Diam? Kau pikir siapa yang tidak akan marah jika pekerja seperti kalian tidak bisa bekerja dengan benar!! Harga pohon ku sudah menurun karena terus terjadi kematian di sungai itu, dan sekarang apa! Kalian tanpa diminta menaruh cctv yang salah disini! Kau pikir aku harus diam dan berterima kasih begitu!! Yang benar saja!!" Teriak bapak itu yang terus mengomel tanpa henti.


"Baik pak, kami mengakui kesalahan kami ini karena mungkin pegawai saya keliru tentang penempatan cctv. Jadi mohon maaf atas semuanya." Entah sudah keberapa kali pekerja itu meminta maaf namun, bapak satu ini sangat keras kepala dan terus bicara.


Nadine melangkah mendekati mereka berdua. ''Kalau boleh tau sejak kapan cctv itu di pasang pak?" Tanya Nadine menyela pembicaraan keduanya.


Mereka menatap Nadine bingung, gadis itu bukanlah dari daerah ini jadi kedua bapak itu tidak mengenali Nadine.


"Siapa kau? Apa kau juga memiliki salah satu pohon disini? Dan di pasang cctv sama seperti pohonku?" Tanya bapak itu dengan niat menyudutkan pekerja pria itu.


"Apa benar nona?" Tanya pekerja itu yang merasa takut kalau ucapan bapak bawel itu benar. Dirinya akan disalahkan oleh atasan karena tidak bisa mengajari juniornya yang teledor.


"Tidak, kami hanya ingin tau sejak kapan cctv ini dipasang." Sahut Nadine tanpa ingin memperkenalkan diri.


"Mungkin semenjak 1 tahun yang lalu, kami baru menyadarinya saat salah satu tempat tidak ada cctv semenjak bulan kemarin.'' Jawab pekerja itu jujur, Anindira dan Laurinda ikut mendekat ke arah Nadine.


"Ini adalah cctv lama jadi kemungkinan masih berfungsi.'' Pekerja itu menatap aliran kabel yang di bawa oleh junior bodohnya ke pohon itu.


"Bisa kami minta cctv ini?'' Tanya Laurinda, jika ini cctv lama maka bisa di pastikan kalau cctv ini tidak langsung terhubung ke layar monitor melainkan ada penyimpanan khusus di dalamnya.


"Ohh untuk itu....Saya tidak bisa berikan karena harga-"


"Saya akan bayar cctv ini seharga cctv baru. Bagaimana? Bapak setuju?'' tanya Nadine negoisasi, pekerja itu mengangguk dengan antusias dan turun dari pohon. Memberikan cctv itu lalu mengambil uang yang di berikan oleh Nadine. Gadis itu memberikan semua uang cash yang ia bawa. Untungnya ia memang sering membawa uang cash.


"Kalau boleh tau, kalian siapa? Sepertinya cctv ini sangat penting.'' Tanya bapak itu yang curiga bahwa mereka adalah oknum negara.


"Saya polisi yang mengurus kejadian di sungai itu, dengan cctv ini kemungkinan buntunya kasus ini kecil.'' Penjelasan Anindira di terima baik oleh bapak itu, meski ia merutuki dirinya yang bicara tidak sopan.

__ADS_1


''Ada apa kalian disini? Apa aku melewatkan sesuatu?'' Tanya William yang datang dengan ngos-ngosan.


''Tidak ada, ayo pulang.'' Ujar Nadine yang berlalu begitu saja.


''Ck! Kau dari mana saja! Menyebalkan sekali harus menunggu mu!'' Umpat Anindira pada William sembari mengikuti Nadine. Meski dalam lubuk hatinya, Anindira sedikit lega karena William baik-baik saja.


Jika di katakan tidak khawatir maka dirinya akan berbohong, karena sedari tadi pikiran negatif saat rekannya satu ini tidak datang. Ada secuil rasa takut, mengingat mereka sedang berada di sungai yang sering terjadinya pembunuhan.


''Aku menyebalkan? Atau aku sangat berarti hingga kau merindukanku...'' Goda William dengan jahilnya, dirinya sangat suka kala bisa menggoda calon kekasihnya ini.


Plak


''Akh! Sakit Anindira.....'' Pekik William kala telapak tangan gadis itu mengenai pipinya yang mulus.


''Ups! Sakit kah? Jadi kau tidak tidur hingga bermimpi aku merindukan rekan sepertimu.'' Anindira tersenyum mengejek, pria yang di Ledek hanya bisa mendengus sebal.


''Hey kalian!!'' Panggil Nadine yang tadinya sudah masuk kedalam mobil kini menunjukan kepalanya saja dan menatap kedua orang yang sedari tadi bertengkar tanpa ada niat masuk kedalam mobil.


Sepertinya pertengkaran mereka lebih menyenangkan meski di sisi mereka gelap gulita.


''Kalian benar-benar menyebalkan! Aku nikahkan kalian sekarang juga ya!!'' Teriak Nadine frustasi saat keduanya hanya menatap saja.


''Tidak!! Aku tidak mau!!'' Pekik Anindira yang bergidik ngeri lalu berlari masuk kedalam mobil, seperti gadis yang malu-malu kucing karena ketahuan pacaran.


''Aku tidak masalah...'' Gumam William yang masuk ke kursi kemudi dan mengendarai mobil keluar lingkungan.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2