Dendam Atau Keadilan

Dendam Atau Keadilan
Part 43


__ADS_3

Pada siang hari yang cerah, di sebuah mobil Vans terdengar gelak tawa yang sangat keras. Pengemudi mobil hanya bisa ikut terkekeh saat mendengar tawa orang-orang yang ada di dalamnya.


''Ahaha.....Perutku sakit karena tertawa. Aku tidak tau bahwa pengaruhnya sangat besar pada pria itu.'' Ujar Nadine kembali tertawa saat mendengar berita dari Tyaga atas kejadian yang terjadi pada Ivander.


''Aku yakin, meski Ivander di bebaskan, pasti dirinya tidak akan mau keluar dari penjara.'' Sahut Anindira dengan tawa di akhir kalimatnya.


''Sudah, diam kita sudah sampai di tempat tujuan.'' Ujar sang sopir saat mengetahui ketiga wanita itu hendak membicarakan Ivander.


Mobil terparkir di sebelah kontraktor yang sedang bertugas. Mereka keluar mobil dan menatap bangunan yang hampir jadi tersebut.


Cepat bukan? Entahlah, mall yang memiliki desain megah terlihat sudah hampir selesai. Sepertinya tukang yang bertugas tidak tidur pada malam harinya.


''Apa yang salah dengan ini? Kalian ingin menunjukkan apa?'' Tanya Nadine karena memang ia merasa tidak ada yang perlu di lihat disini.


Semuanya terlihat berjalan lancar, selayaknya pembangunan biasa.


''Itulah kesan awal yang aku dapat juga saat sampai disini. Tapi kita tidak tau bahwa ada rahasia besar di balik mall ini.'' Ujar Anindira lalu menatap para pekerja yang terlihat bolak balik untuk membangunnya.


''Ayo ikut aku....''


Nadine di tarik ke bagian belakang mall. Gadis itu mengerutkan keningnya, apa yang salah? Semuanya terlihat biasa. Tak ada yang mencurigakan sama sekali.


''Apa yang ingin kau tunjukkan?'' Tanya Nadine yang sudah tidak sabar.


William mengambilkan bekas wadah semen dan menunjukannya pada Nadine. Lalu mengambil segenggam semen yang sudah di buka dan dari merek yang sama.


''Ini.....Palsu?'' Tebak Nadine yang menatap semen yang ia pegang.


''Benar, sangat berbahaya jika ada yang masuk ke dalam mall karena bangunan ini sewaktu-waktu bisa roboh. Lihat ini...'' Anindira menunjuk semen yang di pegang oleh Nadine. ''Semen ini tidak murni, semen ini telah di olah dan lihat krikil yang ada di dalam semen begitu juga dengan tanah. Dan satu lagi, semen yang mereka pakai adalah semen murah tanpa kualitas.'' Jelas Anindira dengan menggebu-gebu.

__ADS_1


Bagaimana bisa ada manusia seperti Brian yang tega mempertaruhkan banyak nyawa. Mall ini tidak akan bertahan lama dengan bahan yang semuanya serba palsu. Anindira benar-benar tak habis pikir, kenapa di dunia ini harus di ciptakan manusia seperti Brian. Semuanya seakan mudah untuknya, meski itu merugikan orang lain.


''Dia jelas-jelas pasti tau semua ini. Lalu mengapa tetap menjalankan pembangunan ini? Apa yang membuatnya sangat terobsesi dengan pembangunan ini? Ini semua pasti merugikannya bukan?'' Kenapa Nadine berfikir demikian karena memang Brian adalah orang yang sama sekali tidak mau rugi.


Meski dirinya terlanjur rugi maka semuanya akan ia limpahkan pada orang lain dan mengambil keuntungan dari hal tersebut.


''Itu juga yang aku pikirkan! Dan semuanya terjawab oleh itu." Anindira menunjuk sebuah kaleng yang tergeletak di atas tanah. Nadine mengerutkan keningnya bingung, apa hubungannya kaleng itu dengan alasan Brian.


Melihat Nadine yang bingung, Laurinda kini berjalan ke arah kaleng itu dan di ikuti yang lain. Laurinda menendang kaleng tersebut dan membuat Nadine membulatkan matanya.


Dirinya terkejut saat melihat kaleng itu tidak terlempar dan malah sebuah tangga tiba-tiba muncul di hadapannya dan itu seperti menuju ke bawah tanah. Jalan rahasia? Benar sekali! Ada sebuah jalan rahasia di bawah mall yang di bangun itu.


"Di dalam sini adalah tempat penggelapan dana perusahaan dan pencucian uang yang di lakukan Brian, bahkan uang itu melebihi nilai perusahaan." Ujar Laurinda yang memang sudah menyelidik hal ini bersama dengan William dan Anindira saat mereka di minta untuk melihat pembangunan mall.


Awalnya mereka tidak menemukan sesuatu hal yang mencurigakan namun, karena kemarahan Anindira membuatnya tanpa sengaja menendang kaleng itu sama seperti yang di lakukan oleh Laurinda. Siapa yang sangka bahwa di bawah sini ada manusia yang sedang melakukan penggelapan dana.


Mereka sempat masuk kedalam sana dan menemukan dua tempat luas. Di sisi kiri terlihat 3 manusia yang sedang bekerja untuk menggelapkan dana dan disisi lainnya adalah berangkas yang penuh dengan uang.


Dana yang di keluarkan perusahaan sangat besar untuk membangun mall ini dan semua itu hanya akal-akalan dari Brian. Membengkakkan keuangan perusahaan lalu akan menyalahkan mall karena uang yang hilang begitu saja. Jadi, uang yang ia dapat dari perusahaan sangat besar. Dirinya hanya mengeluarkan uang sedikit untuk pembangunan dan memalsukan keuangan yang di keluarkan untuk pembangunan mall.


''Apa yang kalian lakukan?'' Pertanyaan dari seseorang itu membuat ke tiganya menegang. Tapi tidak dengan Nadine yang mengenal suara siapa yang sedang menyapa mereka itu m.


Laurinda mengembalikan posisi kaleng seperti awal dan pintu tertutup. Dan itu tidak di lihat oleh Delisha. Mereka berbalik dan menatap Delisha dengan tatapan yang berbeda-beda.


''Apa yang sedang kalian lakukan....'' Delisha mengulangi pertanyaannya karena mereka hanya bergeming tanpa ada yang menyahut dan membuatnya semakin curiga.


''Tidak, kami hanya menengok bagaimana pembangunan disini karena polisi gila ini ingin berubah posisi menjadi buruh." Seloroh Nadine, Anindira yang merasa di tunjuk hanya bisa mengumpat dalam hati.


"Lupakan kami, apa yang kau lakukan disini? Apa jangan-jangan kau yang mengambil alih proyek ini?'' Tebak Nadine dan sayangnya tepat, Delisha tak bicara namun Nadine mendapatkan jawabannya.

__ADS_1


''Lepaskan proyek ini dan minta orang lain melakukannya. Jangan biarkan dirimu di perbudak!'' Saran Nadine yang memang tau bahwa Delisha adalah gadis yang terlalu baik. Hingga tanpa sadar di perbudak oleh Brian dan keluarganya.


Meski dirinya sadar, Nadine sangat yakin bahwa Delisha melakukan itu karena menyayangi Chalondra sebagai ibu angkatnya yang sudah sangat menyayangi dirinya selayaknya ibu kandung.


''Kembalilah ke tempat awalmu, jangan menunjukan taring pada orang yang memiliki pisau.'' Kata Delisha memperingati, Nadine tersenyum sinis.


Mereka berdua memang saling memperdulikan tapi karena perbedaan pendapat yang membuat mereka tidak bisa akur. Nadine si pemberontak dan Delisha di penurut demi yang menurutnya terbaik.


''Kau bercanda? Apa kau tidak tahu bahwa taring bisa mengobrak-abrik sebuah tubuh? Hanya karena membawa pisau bukan berarti orang itu akan selalu menang. Kau sendiri pasti lebih tau akan hal itu.'' Sindir Nadine yang kini sudah berada di depan Delisha. Nadine sedari tadi bicara sembari mendekat.


''Jangan biarkan mereka memanfaatkan emosimu. Kau berhak untuk hidup sesuai dengan keinginan mu, Tante Chalondra juga akan sedih jika mengetahui putri kesayangannya menderita hanya untuk bertemu dengannya.'' Bisik Nadine di samping telinga Delisha.


Deg


Delisha benar-benar di buat mematung oleh Nadine. Gadis itu pergi setelah membuat Delisha tak bisa bicara.


Yang lain mengikuti Nadine dan sesekali melirik Delisha, ingin mengetahui ekspresi gadis itu. Namun Delisha masih terdiam.


Saat Nadine sudah menghilang dari sana, tubuh Delisha ambruk. Nadine adalah gadis pintar sangat mudah menebak dirinya yang hanya berpura-pura kuat.


''Tidak Delisha, jangan sedih. Gadis itu hanya bicara semaunya dia. Mama pasti akan baik-baik dengan aku yang terus bertahan. Aku yakin, dengan keputusan ku ini maka mama akan baik-baik saja. Semua tidak akan sia-sia Delisha.'' Gadis itu terus menyemangati dirinya sendiri, bahwa keputusan untuk mengikuti ucapan Aurora adalah benar.


Delisha melakukan apapun agar mamanya tidak di apa-apakan oleh Aurora, selama bertahun-tahun. Padahal tanpa ia ketahui, Chalondra tetap akan hidup mengingat perusahaan masih ada di tangannya. Jika Chalondra mati maka perusahaan akan jatuh pada Justin. Aurora hanya ingin memiliki bidak catur yang bisa ia mainkan sesukanya.


Bersambung.....


Hay reader 🤗 terima kasih sudah membaca ya...


Menurut kalian Aurora kita apakan ya nanti? Udah banyak dosa dia...

__ADS_1


Mohon komennya ya....


Jangan lupa jaga kesehatan.


__ADS_2