
Sebuah mobil baru saja terparkir di depan gedung penjara. Keluarlah Nadine dan Vijendra dari mobil dan masuk kedalam gedung setelah memberikan identitasnya sebagai pengacara.
Mereka tengah duduk di sebuah ruangan khusus untuk pengacara jika ingin bertemu dengan tahanan. Tak ada pembicaraan di antara mereka karena Nadine yang sibuk dengan pikirannya.
Tyaga tidak ikut bersama mereka karena harus menyusun rencana agar Ivander mau masuk ke perangkapnya.
Seorang pria datang dengan baju tahanan berwarna hijau muda. Pria itu masuk dan menatap Nadine lalu berganti ke Vijendra.
''Selamat sore nona muda....'' Hormat pria itu membungkukkan badannya di hadapan Nadine.
''Selamat sore direktur park, silahkan duduk.'' Ucap Nadine lalu menunjuk kursi di hadapannya. Direktur park tidak menunggu di minta dua kali, dan langsung duduk di kursi.
''Saya senang bisa bertemu langsung dengan nona muda. Ternyata nona sudah dewasa....'' Puji direktur park seperti tak percaya, gadis yang baru ia temui kemarin sudah sebesar ini.
Nadine sering ikut sang papa ke perusahaan, entah itu karena ajakan atau niatnya sendiri. Bahkan mungkin hampir setiap hari Nadine akan datang bersama sang papa.
''Kenapa anda menerima tuduhan itu? Bukankah biarkan saja Aurora sendiri yang menerima nya? Bahkan penjara ini lebih berbahaya dari pada di luar.'' Ucap Nadine yang merasa bahwa direktur park terlalu bodoh untuk menerima semua itu. Apa karena uang? Bukankah gajinya pasti cukup untuk menanggung dirinya hingga tua. Pikir Nadine.
''Hahaha....Nona muda sama persis seperti nyonya, wajah anda sangat mirip dengan tuan. Anda memang benar-benar mirip dengan tuan dan nyonya. Sepertinya buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya.'' Puji lagi direktur park dengan decakan kagum.
''Jangan mengalihkan pembicaraan direktur park.'' Ucap Nadine yang kini sudah mulai kesal, bukan masalah di puji melainkan keputusan bodoh pria di hadapannya ini.
Vijendra hanya mendengarkan pembicaraan mereka tanpa mau menganggu.
''Baiklah, baiklah. Tempramen nona memang mirip tuan, bahkan lebih buruk.'' Kini direktur park kembali bicara yang tidak perlu di ucapkan. ''Nona, saya mengambil keputusan ini karena memang keinginan saya sendiri. Nona Aurora adalah kunci keberhasilan RC group. Selama perusahaan bisa berjalan lancar, maka saya akan mengorbankan segalanya.'' Kata pria itu dengan tulus.
Sebegitu cintakah direktur park pada perusahaan papanya?
''Tapi keputusan ini sangat merugikan untuk anda sendiri.'' Ucap Nadine. Direktur park menatap jendela yang menampilkan senja yang mulai menutup dirinya.
''Nona tidak tau bahwa perusahaan itu sangat berarti bagi kami yang di bantu oleh tuan. Dengan nama perusahaan itu, tuan besar bahkan dulu katanya pernah membantu hampir seluruh negara ini. Dan tuan Christian melanjutkan apa yang di ajarkan oleh tuan besar. Dengan perusahaan ini, banyak orang yang sudah di bantu. Banyak orang yang bisa makan-makanan layak.'' Ucap Direktur park dengan pikiran yang kini melayang jauh.
''Tuan Christian menetapkan beberapa anak perusahaan di berbagai daerah untuk memberikan bantuan setiap bulannya pada masyarakat. Jika agenda itu tidak terwujud maka semua pegawai perusahaan akan di pecat seketika. Bukankah tuan begitu baik?'' Direktur park mantap Nadine yang juga menatapnya.
__ADS_1
''Tuan Christian melakukan semua hal untuk masyarakat. Dengan begitu banyak kebaikan yang di lakukan tuan, akan kalah dengan satu kesalahan yang bahkan hanya sebuah rumor. Saya sangat yakin bahwa tuan Christian tidak akan melakukan hal itu. Meski iya, pasti ada alasannya.'' Kata pria itu yakin, seakan tak ada yang bisa menggoyahkan keyakinannya itu.
Nadine menghela nafasnya pelan, ia marasa tidak percaya diri saat melihat keyakinan direktur park begitu kuat, tanpa tau kebenaran. Dirinya yang sebagai anaknya saja selalu salah paham pada kedua orang tuanya.
Setelah banyak berbincang, termasuk membicarakan istrinya yang telah wafat di penjara. Nadine dan Vijendra keluar dan pergi dari gedung itu.
Mata Nadine menatap langit yang terlihat mulai menetes. Perlahan-lahan hujan turun semakin deras. Matanya tak lepas dari pandangan menatap guyuran hujan di luar mobil.
''Mau ku belikan kopi? Sepertinya kopi sangat enak di minum pada saat hujan.'' Pria itu bicara sembari menatap Nadine, ingin tau ekspresi wajah gadis itu.
''Satu americano, dan cemilan untukku. Di bayar oleh yang beli.'' Ucapnya tanpa rasa malu dan masih menatap jalanan yang sudah basah.
''Siap!'' Vijendra keluar tanpa protes, sebelum bertanya tadi. Mobil yang mereka Kendari memang sudah terparkir di depan cafe.
.
.
''*Mama......mama......siapa pria berjas tadi? Kenapa dirinya sangat keren saat membela wanita itu?'' Tanya seorang anak kecil dengan wajah penasarannya.
Seorang wanita yang ada di sebelahnya menoleh saat gadis kesayangannya yang baru berumur 5 tahun itu bertanya dengan wajah menggemaskan. Mereka saat ini sedang duduk di dalam mobil dan menunggu sang papa yang sedang keluar membelikan mereka makanan.
Hujan deras tak bisa menghentikan Christian untuk memenuhi keinginan putrinya.
''Pria tadi adalah seorang pengacara, dan pria yang berjubah di seberangnya ada seorang jaksa. Mereka saling berdebat untuk saling membuktikan firasat mereka.'' Jelas Olivia dengan definisi yang tidak akan rumit untuk di mengerti.
''Benarkah? Wahhh hebat ya ma, kita bisa membela yang tidak mampu mengutarakan pendapat mereka ya ma?" Tanya Nadine dengan wajah sumringah, Olivia mengangguk.
Christian masuk kedalam mobil dan menoleh ke belakang menatap kedua orang yang sangat berarti dalam hidupnya.
"Apa yang sedang di bicarakan wanita dan gadis ku? Apa papa ketinggalan berita penting?" Tanya Christian dengan tersenyum dan memberikan makanan yang di pesan Nadine.
"Terima kasih papa muach...." Gadis itu menerima makanan itu dan mengunyahnya. "Papa! Nadine ingin jadi seorang pengacara!" Ucap gadis itu setelah menelan sekali makanannya.
__ADS_1
Christian menatap istrinya yang juga terkejut namun beberapa detik kemudian, senyum mereka merekah sempurna.
"Tentu! Apa yang tidak untuk putri kesayangan papa, sekarang belajar yang rajin maka semuanya akan terwujud." Ucap Christian.
"Tentu saja aku akan belajar! Ada darah Richard dalam tubuhku maka aku akan sangat pintar meski tidak belajar beberapa tahun!" Sombong gadis itu yang langsung mendapat gelak tawa dari kedua orang tuanya*.
Entah sejak kapan Vijendra datang, Nadine tidak menyadarinya karena memang dirinya terhanyut pada bayangan masa lalunya yang indah.
''Apa yang kau pikirkan? Kopimu bisa dingin....'' Ucap Vijendra yang langsung menyodorkan gelas untuk Nadine.
Gadis itu menerimanya dan mulai menikmati makanan dengan pemandangan hujan. Gadis itu terlihat terus melamun.
''Apa impianmu memang pengacara? Bukankah seharunya kau belajar bisnis?'' Tanya Vijendra memberanikan diri, dirinya sudah mencerna kata yang setidaknya tidak akan melukai perasaan gadis di sebelahnya.
Vijendra bingung, kenapa Nadine malah manjadi pengacara dan tidak belajar bisnis seperti kakaknya, Justin. Nadine menoleh sebentar lalu kembali pada pandangannya.
''Pengacara adalah impian ku namun ternyata juga impian mamaku.'' Ucapnya dengan menerawang jauh saat bi Nani bercerita keinginan Olivia dulu.
''Kau tau hal yang paling memalukan dalam hidupku?'' Tanya Nadine menatap Vijendra, pria itu menggeleng. ''Bertemu dengan kedua orang tuaku setelah semua yang aku ucapkan. Dengan tak punya hati, diri ini hanya bisa membenci mereka yang ternyata sangat mencintaiku.'' Ucap gadis itu menunduk.
Perasaan bersalah, malu dan sedih bercampur menjadi satu. Hatinya masih menyisakan sebuah ruang penyesalan yang teramat dalam.
''Aku yakin, mereka akan mengerti situasi mu. Orang tuan tidak akan pernah membenci anaknya, meski seberapa besar sang anak membenci mereka. Aku juga percaya bahwa mereka sangat bangga padamu sekarang.'' Kata pria itu menenangkan dengan tangan yang menyentuh bahu Nadine.
Gadis itu mengangguk lalu membuka jendela mobil. Mengulurkan tangannya merasakan derasnya hujan.
...*Ma, pa. Aku berjanji akan membuat kalian bangga disana. Akan aku buat mereka yang selama ini berada di angkasa jatuh ke dasar bumi yang paling dalam. Akan ku buat mereka menyesal karena telah hidup seperti itu....
...Ma, pa maaf kerena sudah mengeluarkan kata-kata kasar di setiap harinya. Maaf sudah membenci kalian. Dan terima kasih sudah menyayangiku dan mencintaiku....
...Aku berjanji pada diriku sendiri, semuanya akan ku kembalikan semula ket empatnya. Khusus untuk papa, terima kasih sudah memenuhi janjimu dan menjadikanku pengacara hanya dalam kurun waktu singkat. Memang benar kata orang, darah Richard merubah yang tidak mungkin menjadi mungkin....
...Semoga kalian bahagia disana, jangan khawatir dengan gadis nakal ini karena aku bisa menjaga diriku. Jika nanti Tuhan ingin memberiku kehidupan di masa mendatang. Maka aku akan meminta Tuhan untuk membuatku menjadi putri yang kuat dan masuk menjadi anak kalian lagi....
__ADS_1
^^^Aku cinta kalian*.....^^^
Bersambung.........