Dendam Atau Keadilan

Dendam Atau Keadilan
Part 36


__ADS_3

''Memangnya bibi mau kemana? Bibi mau menikah lagi?'' Ujar Nadine berusaha melucu meski itu terdengar angin lalu.


Bi Nani tersenyum. ''Tidak nona, jika suatu hari nanti bibi pergi ketempat di mana nona tidak bisa akan menemukan bibi maka jangan biarkan diri nona lemah. Jangan biarkan nona terpengaruh akan kehilangan bibi.''


Nadine kembali bungkam, mulutnya seakan kaki untuk di buka. Kalian tau rasanya menahan tangis agar terlihat tegar? Itu adalah hal yang sangat sulit untuk di lakukan. Saat hati dan perasaan terluka, dirimu harus terlihat baik-baik saja.


Begitu lah yang sekarang Nadine rasakan, mata yang pedih, hati yang sesat dan suara yang tercekat membuat dirinya lebih tersiksa.


''Jangan biarkan mereka berlima mengalahkan penyatuan antara tuan dan nyonya....'' Ucapan bi Nani membuat Nadine mengerutkan keningnya.


''Berlima? Siapa orang yang bibi maksud selain mereka berempat?'' Bi Nani menutup mulutnya kaget saat nona mudanya melewat orang itu. Orang yang membawa kehancuran, saat dirinya menginjakan kaki.


''Itu.....''


Ting....tong...


''Sebentar, sepertinya pesanan bibi datang....'' Ujar bi Nani mengusap air matanya hingga tak tersisa.


''Pesanan apa malam-malam begini?'' Tanya Nadine heran, entah mengapa tapi ia tidak ingin jauh dari Bi Nani.


''Ah iya, bibi memang sering meminta di hantarkan bahan makanan pada malam hari agar besok bibi langsung masak untuk nona. Bukankah nona sangat menyukai udang balado? Akan bibi buat kan besok...'' Ucap Bi Nani dengan suara seraknya.


Tak ingin dirinya terlarut kembali ke masa lalu dan membuat Nadine ikut terhanyut.


''Biar aku yang buka ...'' Ujar Nadine berdiri, bi Nani menahan tangan gadis itu hingga membuatnya menoleh.


''Istirahat saja nona,. ini sangat larut karena cerita bibi. Sekarang istirahat dan besok udang balado akan menyapa di pagi hari....'' Nadine sempat ingin mendebat namun bi Nani sudah melenggang pergi lebih dulu hingga membuatnya tak bisa berkata-kata dan menurut


Nadine menatap punggung bi Nani yang sudah hilang di telan pintu, dan dirinya mulai merebahkan diri menatap kosong langit-langit kamar.


''Ternyata kalian begitu sangat menyayangi ku ya? Aku akan berusaha untuk menjaga bi Nani dan membalas mereka atas semuanya. Namun.....Siapa orang terakhir yang tidak aku ketahui....'' Gumam Nadine pada dirinya sendiri.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Sudah lebih dari 1 jam namun bi Nani belum juga kembali ke kamarnya. Apa dirinya sudah tidur? Merasa penasaran, Nadine keluar kamar mencari bi Nani.


Padahal......Pintu sudah terdengar tertutup sejak tadi. ''Bi!!!'' Panggil Nadine namun tak ada sahutan.


''Mungkin di kamar?'' Nadine melangkah membuka kamar bi Nani setelah mengetuk pintu 3 kali. Kosong, tak ada siapapun.


Perasaannya mulai gelisah, entah kenapa hal yang ingin ia temukan sekarang hanya wanita paruh baya itu.


Saat akan turun ke lantai bawah, tak sengaja Nadine bertemu dengan Zahra yang hendak naik bersama sang kakak, Tyaga. ''Selamat malam nona, kenapa belum istirahat? Ini sudah larut...'' Tanya Tyaga heran, adiknya Zahra juga belum tidur akibat tidur sore tadi.


''Kalian lihat bi nani?'' Tanya Nadine alih-alih menjawab pertanyaan Tyaga. Mereka berdua menggeleng.


''Kami tidak melihat siapapun di bawah, semua sudah kembali kerumah.'' Ujar Zahra menyahuti. Nadine masih belum bisa percaya sebelum dirinya benar-benar melihatnya secara langsung.


Gadis itu turun dengan terburu-buru, kemana lagi bi Nani selain ke bawah. Tidak mungkin ke lantai ataskan? karena di lantai atas hanya ada rumah Laurinda dan atap.


''Bi!!! Bibi di mana?" Panggil Nadine terus menerus sembari menengok sana-sini, meski ia menyadari kalau tidak akan ada yang menyahuti panggilannya.


Nadine berdiri di depan gedung dengan tangan kedua tangan di pinggang rampingnya. Matanya masih melihat kesana-kemari, bahkan Zahra dan Tyaga tidak jadi naik karena ikut dengan Nadine turun kembali.


Nadine merasa dahinya seperti di jatuhi sesuatu yang dingin, tangan kanannya tak kuasa untuk tak menyentuh dahinya. Matanya terbelalak saat melihat darah di dahinya.


"Darah!!" Tentu saja bukan Nadine yang berteriak, tetapi Zahra yang terkejut.


Nadine berusaha tidak melihat ke atas namun dengan terpaksa mendongak untuk memastikan yang ia pikirkan salah.


Baru saja mendongak, matanya terbelalak untuk kedua kalinya. Kali ini sangat lama dan perlahan menahan sebuah cairan bening. "Ada apa nona?" Tanya Tyaga yang belum bisa beranjak dari sisi adiknya yang masih terkejut.


Sebelum bisa menjawab ucapan Tyaga, sesuatu yang besar jatuh dari atas sana.


Brukkk!


Sangat keras sesuatu itu jatuh ke bawah tepat di hadapan Nadine.


"AAAAA!!!" Kini Zahra berteriak sangat histeris saat matanya menatap sesuatu yang jatuh itu. Tyaga segera mendekap adiknya agar tidak menatap hal itu.


Bibir Nadine bergetar saat akan mengucapkan kata. "Bi-bibi....'' Ucap lirih Nadine dengan tubuh yang gemetar, Tyaga hanya bisa menatap karena yang ia tahu bahwa adiknya lebih membutuhkan dirinya saat ini.

__ADS_1


''Bi.....Ah....Ini bukan bibi kan? Bibi bercanda kan? Ayolah bi ini tidak lucu!!!" Pekik Nadine dengan air mata yang entah sudah kapan turunnya.


Matanya bisa melihat bahwa yang terjatuh dari atas sana adalah bi Nani yang sudah dengan keadaan mengenaskan. Terlihat banyak lubang bekas tusukan di tubuhnya, kepalanya yang terus mengeluarkan darah.


"Bii!! Bangun!!!! Bangun bi!!!"


Bruk....


Nadine bersimpuh dan perlahan menyentuh tubuh bi Nani yang sudah sangat mengenaskan. "Bangun bii!!! Jangan seperti ini!!!" Nadine berteriak dengan air mata yang turun dengan derasnya.


Mendengar teriakan yang untuk kesekian kalinya membuat penghuni gedung turun terburu-buru. Mereka semua syok dan kaget akan yang mereka lihat saat ini, tak ada yang berani mendekat kecuali Anindira selayaknya polisi.


"Hah.......Iya, Bodoh!!! Dasar bodoh!!! Aku memang bodoh, aku bahkan sampai lupa memeriksa denyutnya." Nadine memukul kepala dan pipinya hingga membuat kepalanya berlumuran darah.


"Bagaimana? Kita bisa bawa kerumah sakit bukan? Ayo!!! Kalian bantu aku membawa bibi, bi Nani tenang. Aku akan membawa bibi kerumah sakit sekarang. Tyaga!!! Ayo cepat!!!" Nadine meneriaki Tyaga yang masih mendekap Zahra yang bergetar.


"Hey!!! Kau bukankah dokter!! Zahra cepat periksa bibi. Kau tidak boleh seperti itu pada pasien." Ujar Nadine hendak menghampiri Zahra yang tidak mau menoleh.


Anindira memegang erat tangan Nadine dan menggelengkan kepalanya. "Ada apa? Ayo bantu aku kalau begitu, bawa bibi kerumah sakit." Ujar Nadine berusaha kembali menolak kenyataan.


"Xavier...." Panggil Anindira dengan menghela nafas pelan lalu menatap yakin Nadine. "Bibi telah tiada...." Nadine yang mendengar langsung menggeleng.


"Tidak!!! Kau salah!!! Bibi tidak pergi semudah itu....Benar kan bi? Bibi bilang besok akan membuat udang balado kesukaanku dan akan bersama ku selamanya. Iya kan? Jawab bi!!! Mereka akan percaya kalau bibi yang jawab sendiri...." Nadine berusaha meyakinkan diri, namun tentu saja matanya terus menangis dan bibir gemetar.


Brummm.....


Sebuah mobil mewah berhenti dan turunlah Vijendra dan Justin yang memang sengaja menyempatkan diri untuk memberi sebuah kejutan, namun sepertinya ia yang merasa terkejut saat melihat semuanya di depan gedung.


"Hey!!! Bi!!! Lihatlah, buka mata bibi....Lihat kak Justin juga datang untuk menginap dan memakan masakan bibi kan? Iya kan kak?" Tanya Nadine dengan mendesak, bahkan dengan kaki gemetar Nadine menghampiri Justin yang berdiri mematung.


"Ayo kak....Bangunkan bi Nani yang sedari tadi tidak mau membuka matanya....Ayo kakk!!!" Teriak Nadine saat Justin hanya diam. Anindira menggeleng menatap kedua orang yang sedang menatapnya penuh pertanyaan.


"Adik....Bibi sepertinya sudah..."


"Diam!!! Kalian semua sama!!! Kalian buta!!! Bibi hanya tertidur!!! Dia tidak mati!!!" Ujar Nadine kekeuh tidak mau mengaku.


Plakk!


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2