Dendam Atau Keadilan

Dendam Atau Keadilan
Part 32


__ADS_3

Srinkk


''Akhhh!"


Teriakan begitu menggelegar di ruangan itu kala sekali lagi pisau yang sangat tajam menggores pipi sisi yang mulus. Pisau itu menancap pada pintu.


''Kau gila! Kau menyakitinya!!!" Sarkas Anindira.


''Dia bahkan tidak berfikir dua kali untuk menyakitiku.'' Ucap Nadine lalu mencabut sesuatu dari telinganya dan membuangnya ke sembarang arah.


''Siapa kau!!!!" Teriak sisi dengan tubuh yang sudah gemetar hebat.


***


''Selesai! Aku akan menyusul ke ruangan itu untuk menghentikan kegilaan bocah satu itu.'' Anindira menyelesaikan tugasnya dan membuka pintu.


Tanpa ia sadari, seseorang tak jauh dari pintu tersenyum sinis. Seakan memang ia sudah mengetahui rencana ini.


''Aku akan mengehentikannya!'' Sahut Vijendra.


''Jangan! Ada hal yang harus kau lakukan dengan Laurinda! Ini rencana mendadak! Masalah Xavier aku akan menangani nya." Titah Anindira yang sepertinya mendapatkan Jacpot yang sangat besar.


Entah apa yang ia temukan di dalam namun senyumnya sudah menjelaskan bahwa itu adalah hal yang sangat hebat.


***


"Siapa aku? Apa itu penting? Kenapa kau peduli? Bukankah saat kau mengaku terbunuh kau tidak merasa bersalah!!" Bentak Nadine yang sudah tidak bisa mengendalikan emosinya.


"A-Apa maksudmu!! Aku tidak mengerti!!" Teriak sisi yang sudah kalang kabut saat ada orang lain tau tentang rahasianya.


''Tidak mengerti? Hahaha.....Baiklah! Akan aku buat kau mengerti sekarang." Ujar Nadine sembari mengeluarkan sebuah pisau dari kantong kanan dan sebuah pistol dari kantong kiri.


"Jangan mendekat!! Ka-kau tidak tau siapa aku? Aku adalah istri dari direktur Rc Group!!! Aku bisa menuntut mu atas semuanya." Ujar sisi dengan kaki gemetar.


''Ck! Sok kuat ternyata, baiklah!! Aku akan memberimu kehormatan untuk memilih kedua benda yang ada di tanganku. Pilih yang mana yang langsung bisa menghabisimu tanpa rasa sakit yang lama." Nadine menoleh ke arah kedua benda itu.


Tok....Tok...tok....


"Tolong!! Tolong buka pintunya!!! Ada seseorang yang ingin membunuhku!!! Tolong!!" Teriak sisi menggedor pintu itu meski hanya akan sia-sia.


Pintu memiliki kedap suara hingga apa pun yang akan Nadine lakukan tidak akan terdengar dari luar.


''Berisik!! Cepat putuskan atau aku gunakan keduanya untuk membunuhmu.'' Ancam Nadine yang sudah mulai kehilangan kendali.


Sisi yang merasa kalau situasinya tidak mendukung dan juga dirinya akan sia-sia jika berteriak.

__ADS_1


Brukkk


Wanita yang di selimuti rasa sombong itu kini bersimpuh di hadapan Nadine. Rasa takutnya akan kematian sudah masuk hingga ke jiwanya. Membayangkan dirinya akan mati dan tak di ketahui oleh orang lain terlihat menyedihkan.


''Siapapun kau, aku tidak tau bagaimana kau bisa mengetahuinya. Yang pasti itu bukan kesalahan ku, aku hanya mengikuti kebencian ku saja.'' Ucap sisi yang sungguh di luar dugaan.


Nadine menautkan kedua alisnya. Cctv di ruangan itu sudah menayangkan sisi secara langsung di layar besar di ruangan perayaan.


''Aku sangat membenci Nadine!!! Karena dia adalah putri dari seseorang seperti Christian dan Olivia.'' Mata sisi terlihat bergerak kesana-kemari dan berbohong.


Semuanya terlihat di luar dugaan. Sisi memang mengaku salah, namun dia tidak menyebutkan bahwa Aurora adalah dalang di balik semuanya. ''Ak-aku yang melakukannya karena dendam, aku berbohong dan membuat isu bahwa yang membunuh ku adalah Nadine.'' Ucap sisi yang di akhiri oleh tangisan.


''Hey, kenapa kau memintanya bicara seperti itu?'' Bisik Anindira yang baru saja datang entah dari mana. Nadine menoleh dan menaikan kedua bahunya.


''Aku belum memberinya usul seperti itu? Dia yang bicara sesukanya.'' Ujar Nadine ikut bingung.


''Jika seperti ini maka wanita ini tidak akan mengungkap nama orang yang memberinya perintah.'' Gumam Anindira ikut panik.


''Ah iya, ada hal yang belum kau ketahui..... Sebenarnya.....'' Anindira membisikan sesuatu yang membuat mata Nadine membola. Lalu senyumnya terukir begitu saja.


***


Di dalam ruangan yang seharunya bersuka cita kini terlihat riuh dengan banyak wartawan dan kamera yang tak henti-hentinya memotret. Wajah direktur terlihat puas saat mengetahui bahwa yang di berita itu adalah istrinya.


Tak...Tak ..Tak...


''Bukankah seharunya aku yang mengejutkanmu direktur park? Kenapa malah aku yang di kejutkan dengan berita eksklusif istrimu?'' Kata pria yang sedang berjalan dengan menenteng tas kerjanya.


''Tuan!!! Tuan ini tidak seperti yang terlihat!! Saya, saya sungguh tidak tau menahu tentang semua ini.'' Ujar Direktur park dengan wajah memohon.


''Sungguh? Bukankah semua yang istrimu lakukan tidak akan bisa berjalan tanpa dukungan mu? Aku kecewa dengan mu direktur park, dia adalah mendiang kakak ipar ku namun kau!! Kau tega-teganya membuat luka lama ku terbuka...'' Ujar Brian yang terlihat sedih bahkan enggan untuk menatap pria yang sudah pucat di depannya.


Semua orang kembali berbisik, sudah di pastikan bahwa dunia telah mengetahui semuanya saat ini. ''Tapi Presdir....''


''Bukankah semuanya sudah jelas direktur park? Aku juga sependapat dengan Presdir, aku kecewa....Kau tidak seharunya berkhianat seperti ini. Ayo Presdir, kita kembali ke perusahaan sekarang...'' Ujar Aurora menimpali, mereka berjalan menuju pintu.


Direktur mulai diserang oleh para media, banyak kilatan cahaya kamera yang mengarah padanya. ''Presdir!! Nona Aurora !!!'' Sungguh teriakan direktur tidak di dengar sama sekali.


''Apa anda sepatah dua patah kata untuk yang terjadi barusan?'' Todong salah satu media yang sudah membawa mic.


''Apa benar anda bersekongkol dengan aitri anda?''


''Apa anda juga membenci mendiang kakak ipar tuan Brian....''


Masih banyak sekali pertanyaan, namun sekarang yang terpenting adalah mengamankan posisinya yang ia raih dengan susah payah.

__ADS_1


.


.


.


.


.


''Hahaha....Kasihan sekali direktur park, sepertinya dia akan mati kutu karena perbuatan istrinya.'' Ujar Brian yang terlihat senang.


''Bagus putriku, kau adalah yang terbaik! Aku tidak pernah kecewa padamu. Pulanglah untuk merayakannya.'' Ujar Brian sembari menepuk pundak putrinya yang tersenyum menang.


''Tentu pa, itu semua karena ajaran papa. Sekarang pulang lah lebih dulu, ada yang harus aku selesaikan.'' Ujar Aurora, Brian mengangguk lalu pergi dari sana meninggalkan putrinya.


Aurora memang sudah mengetahui rencana dari Nadine. Tidaklah susah jika ingin mengetahui apa yang ia inginkan. Semuanya akan berjalan dengan aman selama ada uang.


''Aku sudah membersihkan namaku dari tuduhan tak berdasar itu.'' Ujar Nadine membuat Aurora semakin tersenyum girang.


Aurora berbalik dan melipat kedua tangannya di dada. Matanya menatap angkuh Nadine, seakan kemenangan sudah ada di pihaknya sekarang.


''Sungguh? Syukurlah...'' Sahut Aurora santai. Nadine menautkan alisnya. Gadis itu bahkan kini berjalan mendekat ke arah Aurora.


Sepasang mata elang Aurora beradu dengan mata belati milik Nadine. ''Syukurlah? Sepertinya kau tidak terkejut...'' Tebak Nadine yang mulai menunjukan wajah sebal.


''Hey adik....Kau sudah kalah.....Aku memang sengaja membuat direktur park menerima semuanya. Aku sudah bosan karena dirinya terlalu memihak orang yang sudah tiada...'' Ujar Aurora jengkel jika mengingat direktur park selalu memuji Christina di saat ada kesempatan.


''Dasar wanita licik!! Kau memanfaatkan ku untuk menyingkirkan direktur park?" Marah Nadine dengan mata yang menyala.


"Oh? Kau pintar juga ternyata Hahah.." Aurora tertawa sinis, bahkan kemenangan sudah seperti di genggamannya.


''Hahaha.....'' Aurora terdiam saat melihat Nadine yang ikut tertawa.


''Apa kau gila karena kekalahan mu?'' Sarkah Aurora dengan tersenyum mengejek.


''Sepertinya kau yang akan gila....'' Ujar Nadine lalu mengisyaratkan Aurora agar berbalik dengan matanya.


Aurora berbalik. Seorang polisi wanita dengan tegapnya berjalan di iringi oleh teman kerjanya. Langkah yang tegas membuat kedua orang itu terlihat keren.


Mereka berjalan hingga berada di depan Aurora. ''Saya dari kepolisian setempat akan menggeledah ruangan ini.'' Ujar Anindira memperlihatkan kertas tentang surat penggeledahan.


Brukkk.....


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2