
"Sudah tua masih saja suka berbohong, bukannya tobat sudah bau tanah." kesal Joko masih saja mengumpat, tak berhenti mengusili Aki tua tersebut, hingga ia segera pulang.
"Dia takut Joko." ucap Raka di dalam hati.
"Ya bagus."
Joko keluar dari rumah itu, begitu pula Raka keluar setelah berpamitan.
"Mengapa bisa ada makhluk itu, bukannya kamu yang selalu setia menjaga Tiara?" Raka penasaran sekali dengan kejadian baru saja.
"Tadi Tiara sedang tidur saat aku pergi mencari makanan. Aku lapar sudah satu Minggu tidak makan." ucap Joko kepada Raka.
"Makanya pulang kalau mau makan, di lemari pakaianku ada minyak bunga kenanga, buat membuang haus." ucap Raka tetap fokus menyetir.
"Aku lupa, tapi aku tidak lupa kalau istrimu sedang pergi ke rumah dukun. Dia sudah mengetahui niatmu ingin mendapatkan Bunga."
"Apa?"
Raka sangat terkejut, sehingga tak sengaja mengerem mendadak.
"Kamu terlalu sibuk ngurusin Bunga, jadinya enggak tahu istrimu menangis sakit hati gara-gara melihat kamu terlalu perhatian pada Bunga."
Raka tampak berpikir, dia tidak pernah berduaan di luar dengan Bunga. Atau jangan-jangan? Raka menepuk keningnya.
"Kamu tidak ditakdirkan untuk berjodoh dengan Bunga, Raka." ucap Joko semakin membuat bingung Raka.
"Aku akan tetap memperjuangkan Bunga." lirihnya menunduk sedih.
Joko menoleh sahabatnya itu, dia bisa merasakan bagaimana hati Raka sebenarnya. Cinta memang sebuah kata yang sulit di jelaskan artinya, tapi begitu luas jika di jabarkan rasanya. Joko tahu persis rasa itu, bahkan untuk pertama kalinya dia jatuh cinta, malah kepada Tiara yang merupakan anak manusia. Tentu itu lebih menyakitkan dibandingkan Raka.
Nekat, seperti Raka.
Dia pernah berpikir seperti itu, bahkan sering. Tapi tidak tega rasanya mengorbankan Tiara Andini tercinta.
"Kau pasti tahu bagaimana rasanya mendengar takdir yang mengatakan kau tak bisa memiliki wanita yang sangat kau cintai. Sakit sekali Jok." ucapnya membuat jin di sampingnya mendelik tajam.
"Jak-jok, jak-jok. Joko!" kesalnya berteriak di telinga Raka.
"Iya." Raka enggan memarahinya. Hatinya sedang tidak baik-baik saja.
Joko ikut menyandar lemas, dia juga sedang berpikir. Menatap jalanan yang semakin gelap, dia jadi membayangkan masa depan yang indah, walaupun sebentar saja.
"Aku juga berharap memiliki masa depan yang indah walaupun sebentar saja." ucap Raka tahu apa yang sedang dipikirkan Joko.
"Itu tidak mungkin, apalagi posisimu sudah punya Dewi." ucap Joko lagi.
__ADS_1
"Aku akan meminta Dewi segera pulang. Dia harus di beri pelajaran sudah berani bertindak sembarangan." kesal Raka melajukan lagi mobilnya, dia ingin segera sampai untuk menghubungi Dewi.
"Ya, jangan sampai aku mencekik istrimu itu." kesal Joko juga.
"Mengapa kau tidak lakukan?"
"Di dalam perutnya ada anakmu!" teriak Joko kepada laki-laki tak tahu diri itu.
Sementara di rumah Bunga, suasana mulai membaik, Tiara sudah sadar dan sedang makan di suapi Bunga.
"Tiara kenapa?" tanya Bunga pelan, sesekali mengelus pipi Tiara yang mulus, putih bersih perpaduan dirinya dan Gibran.
"Tiara seperti sedang sesat di taman sepi, tadinya ada taman bunga Bu, tapi setelahnya gelap. Dan ada hantu yang mengejar Tiara, dia seram sekali." ucapnya mendekatkan duduknya kepada Bunga.
"Tiara tidak baca doa ya?" tanya Bunga seraya menghibur.
"Lupa Bu." ucapnya menyudahi makan malam tersebut.
"Ya sudah, besok Ibu tidak bekerja dulu. Tiara juga tidak usah masuk sekolah untuk beberapa hari, istirahat." Bunga mengelus rambut Tiara.
"Iya Bu, kepala Tiara masih terasa pusing." jawabnya kembali menyandar di ranjang miliknya.
"Ya, senderan dulu ya, sebentar lagi tidur kalau sudah Maghrib." Bunga keluar dari kamarnya, sekalian wudhu dan sholat.
Hatinya berdebar-debar mengingat wajah Raka yang begitu bernafsu, bagaimanapun juga dia adalah wanita yang normal, masih muda dan hafal dengan kegiatan seperti itu, terlebih lagi pernah melakukannya dengan Raka.
Tak munafik, bahkan sesekali dalam pernikahannya yang bahagia, dia masih terbayang bagaimana ia dan Raka pernah bercinta.
Sulit di lupa dosa yang menjadi kebiasaan ketika itu, selalu saja datang membayang bak hantu yang datang tanpa aba-aba. Sempat berpikir apakah dosa itu tak dapat ampunan dari yang maha kuasa sehingga terus saja mengganggu ingatannya.
Kembali bersedih, dan itu tak hanya sekali, sepanjang hidup dosa yang nikmat selalu saja membuatnya takut.
"Mungkin tidak bekerja dulu agar bisa menghindari Mas Raka."
Dia meraih jaket milik Raka memandanginya begitu lama. Nafasnya naik turun ketika aroma khas laki-laki itu menyeruak naik masuk ke lubang hidungnya.
Ada kehangatan di dalam hati, tak bisa berbohong dia juga rindu akan laki-laki itu.
"Mas Raka." ucapnya merasakan nyeri di dalam hati.
Antara sadar dan tidak, hatinya menentang juga menerima bersamaan. Satu sisi berusaha sesadar-sadarnya selalu mengingat Gibran dan mencintainya. Tapi satu sisi malah menyerang, rindu itu tercipta begitu dalam. Bunga menggenggam jaket itu erat, tak sadar bahkan tidur ia memeluknya.
*
*
__ADS_1
*
Pagi hari yang cerah setelah hujan dan mati lampu semalaman. Bunga di teras-teras warga bermekaran, tak terkecuali, yang tak sengaja tumbuh di pinggir jalanan desa juga ikut merekah menambah suasana gembira ketika melewatinya. Seperti Raka yang sedang tersenyum senang sudah kembali dekat dengan Bunga, dia bisa menyebutnya sebagai kekasih lagi.
Namun kecewa ketika tiba di toko miliknya, toko Bunga masih tertutup rapat.
"Apa dia tidak masuk setelah kemarin Tiara sakit?" gumamnya memandangi toko Bunga.
Raka kembali menghubungi Dewi di pagi ini, rasa kesalnya semakin menumpuk ketika semalam malah ibu mertuanya yang menerima panggilan Raka.
"Halo Mas Raka." ucap Dewi terdengar gugup dan takut.
"Pulang hari ini juga, aku sudah mengirim jemputan setengah jam yang lalu." ucap Raka tanpa basa-basi.
"Tapi Mas, bukannya nanti kamu akan menyusul setelah acara tujuh bulanan lusa." Dewi mencoba menghindari pulang cepat.
"Pulang atau jangan pulang selamanya!"
"Iya Mas, aku pulang." jawabnya cepat.
"Bagus!" Raka tersenyum sinis. Dia ingin sekali Dewi cepat sampai dan memarahinya.
Dia kembali keluar Toko, melihat ada nomor ponsel toko milik Bunga terpampang di banner bagian atas.
Dia tahu sekali itu nomor milik Gibran, tentu sekarang milik Bunga.
Lama panggilan tersambung, hingga beberapa kali kemudian diangkat.
"Bunga." panggil Raka cepat.
"Iya." sepertinya Bunga.sedang terkejut, tak menyangka mendengar suara Raka.
"Kamu tidak buka Toko?" tanya Raka .
"Buka Mas, tapi Bapak yang pergi. Aku menemani Tiara beberapa hari." jawab Bunga.
"Oh." jawab Raka terdengar kecewa.
"Ada apa ya Mas?" tanya Bunga heran dengan telepon tak terduga dari Raka.
"Enggak apa-apa, Mas takutnya gara-gara kemarin kamu jadi tidak membuka Toko." tebak Raka.
"Sebenarnya iya Mas, aku tidak nyaman dengan suasana seperti itu. Jangan sampai itu terulang lagi."
"Maaf, Mas hanya rindu sekali sama kamu. ingin sekali memiliki kamu. Apakah kamu tidak mau mengabulkan niatku untuk memilikimu? Katakanlah, aku harus seperti apa?"
__ADS_1